Premana W Premadi
PERNAH ada masa di mana sains dianggap arena bermain hanya segelintir orang sehingga dirasa terpisah dari hidup keseharian.
Walaupun pandangan sempit perihal sains dan saintis ini mungkin ada benarnya , disadari atau tidak , sains dan segala produknya telah banyak berperan dalam kemajuan umat manusia.
Di dalam sains sendiri , tingkat kemajuannya sangat pesat , bahkan pada beberapa sektor fundamental. Hasil pengamatan yang makin luas dan dianalisis setrik cermat menawarkan citra saintifik yang makin komprehensif perihal alam semesta.
Kesanggupan mengidentifikasi waktu sepanjang proses fisis yang berjalan memberdayakan sains untuk memprediksi kondisi masa datang. Kemampuan untuk memprediksi ialah modal krusial dalam peradaban.
Sains mengajak kita menyadari adanya keterbatasan alami sehingga sebagai makhluk hidup perlu mengatur taktik untuk melampaui keterbatasan itu. Manusia , dengan anugerah kecerdasan , sukses menanggulangi banyak keterbatasan alami ini.
Keindahan tantangan atau limitasi ialah pada dorongan untuk berpikir kreatif.. Selagi meningkatkan kapasitas berpikir , acapkali insan tidak hanya berhasil mengatasi limitasi , tetapi melampaui itu insan menemukan trik hidup yang lebih baik. Perspektif dan visi lintas kondisi dan ruang-waktu inilah yang sanggup menghindarkan kita dari solusi tambal sulam terhadap persoalan yang ada.
Mengajarkan sains
Dengan obyektif ibarat inilah sains seyogianya dikembangkan dan diajarkan. Mengajarkan sains bukan memberikan fakta perihal alam saja , tetapi lebih penting lagi memperkenalkan gimana fakta itu ditemukan dan menginterpretasikannya.
Pernyataan Cliche: ”fakta mengatakan” tidaklah otomatis berdasar maupun berbobot. Kita menginterpretasi fakta menggunakan aliran budi pikiran kita. Hanya sehabis interpretasi ini diterima dengan mapan barulah kita dibukakan jalan pintas untuk mendapatkan apa yang fakta katakan. Tidak ada yang terberi dengan gratis di dalam sains; minimal kita dipinjami trik berpikir yang kini diterima. Untuk dinilai kreatif dan maju , kita harus memproduksi lebih daripada yang kita pinjam.
Perlu ditegaskan bahwa kebenaran saintifik tidak melingkupi seluruh kebenaran. Artinya kebenaran saintifik memiliki keterbatasan dan tidak absolut. Ketidakabsolutan dan ketidakmapanan pengetahuan inilah yang justru mendorong sains untuk sanggup terus , bahkan harus , dikembangkan , dipertajam , dan dihaluskan. Pemahaman bakal keterbatasan ini dan bakal proses internal kerja sains membuat perjuangan pencarian kebenaran yang tak pernah berujung sekaligus membuka kesempatan kepada siapa pun untuk berpartisipasi.
Pendidikan sains yang terstruktur ibarat yang diberikan dalam sistem-sistem pendidikan yang terinstitusi ibarat sekolah dan universitas , harusnya sanggup mengenali dorongan dan perkembangan sains sebagai abjad intrinsik sains itu sendiri.
Pendidikan sains juga perlu mempersepsi kebutuhan dan derajat penerimaan sains dalam masyarakat. Artinya , pembelajaran modern untuk sains harus memasukkan fondasi-fondasi dalam sains , keadaan terkini dalam perkembangannya , dan juga trik-trik cerdas untuk mengantisipasi implikasi jangka panjangnya pada kemanusiaan.
Tujuan pembelajaran sains dengan isi ibarat itu sedikitnya ada dua. Pertama , pendidikan menyiapkan generasi ilmuwan yang kompeten untuk pengembangan sains dalam semangatnya untuk mencari kebenaran.
Kedua , pendidikan ini bakal memotivasi mereka sebagai ilmuwan terdidik dan terlatih untuk berperan konstruktif dalam proses pendewasaan masyarakat. Pengetahuan saintifik menjadi modal penting dalam pengambilan kebijakan pada banyak sekali aspek kehidupan.
Pengetahuan saintifik tak setrik pribadi menawarkan pertimbangan moral , dan tidak pula berpretensi untuk memaksakan nilai-nilai gres , tetapi untuk menawarkan pemahaman pada masyarakat perihal relasi kausal dalam banyak sekali kondisi dan agresi fisis , dan melengkapi dengan landasan rasional yang sanggup membantu berpikir perihal apa pun setrik komprehensif dan holistik.
Cara kerja sains yang sangat menjunjung tinggi kejujuran dan terbuka terhadap kritik dan saran melatih ilmuwan untuk selalu bertindak etis. Prinsip kerja etis ibarat ini bakal mendorong perilaku etis pada aspek-aspek lain.
Di dalam pendidikan sains , sangat perlu ditunjukkan batasan domain saintifik , yakni domain pada mana sains bekerja dan deskripsinya dipertimbangkan. Di luar domain itu , deskripsi saintifik tidak lagi sah.
Komunikasi konstruktif
Kurikulum yang mengizinkan adanya pintu-pintu penghubung di antara ranah-
ranah yang berbeda , sains dan non-sains , bakal mengakomodasi suatu komunikasi yang sehat dan konstruktif di antara komponen-komponen dalam aspirasi insan untuk membangun peradaban.
Menyertakan komponen ini dalam kurikulum pendidikan sains harus dinilai sebagai langkah positif yang perlu dievaluasi dan diakses setrik saksama dan berkala. Di sekolah , pelajaran olahraga diberikan dengan obyektif utama menyebabkan murid bugar dan berpikiran strategis. Maka , aktivitas utama pada jam pelajaran olahraga ialah berolahraga. Evaluasinya tidak dalam bentuk menjawab pertanyaan perihal berapa ukuran lapangan sepak bola.
Bagaimana pula kita mengukur kebaikan gizi belum dewasa kita? Tidak dengan bertanya apakah mereka kenyang , tetapi dengan menyelidiki fungsi-fungsi organ badan dan keseimbangan tumbuh kembang mereka.
Bagaimana kita mengakses pendidikan sains kita?
Belum terlalu usang semenjak insan pertama kali mengarahkan lensa pengamatan kepada dirinya dan membandingkan dirinya dengan konstituen lain semesta sehingga kesannya dipaksa bisa berbesar hati dikala menemukan betapa biasanya (common) proses fisis yang relevan dengan fisiknya.
Namun , sejalan dengan proses berguru insan bakal terus berlangsung , kita memiliki banyak kesempatan untuk membuat dunia ini sebagai daerah hidup yang makin baik: seluruh umat insan hidup berdampingan dalam hening , lingkungan sehat , dengan pengertian yang baik satu terhadap yang lain.
Di ujung hari , kurikulum sains yang baik , yang disampaikan dengan baik , bakal menghadiahi masyarakat tak hanya sains berkualitas tinggi , tetapi juga ilmuwan yang baik , sang manusia.
Premana W Premadi , Alumnus Astronomi Institut Teknologi Bandung Angkatan 1983
0 Response to "Kumpulan Opini Kompas: Sains Dan Pendidikan Sains"