Latest News

Kumpulan Opini Kompas: Bapak Ceplas-Ceplos Nasional

Sujiwo Tejo

Banyak hal terkuak sepeninggal Gus Dur. Ternyata sebagai bangsa kita masih saja terlalu silau pada hal-hal yang seakan-bakal besar dan mentereng. Sebutan ”Bapak Pluralisme” dan ”Bapak Demokrasi” buat almarhum menawarkan keterpukauan itu. Yang rinci dan seakan-bakal kecil kita abaikan.

Keceplas-ceplosan Gus Dur kita anggap unsur sepele. Kita lekas melupakannya. Padahal , sejatinya , unsur tampak remeh-temeh inilah yang justru paling menentukan vitalnya kedudukan Gus Dur di tengah kemunafikan Nusantara.

Kalau sekadar tokoh yang bertumpu pada kekuatan pikiran , ada banyak tokoh sekelas Gus Dur. Baik itu gagasannya perihal pluralisme , demokrasi , maupun pembaruan fatwa Islam. Ketokohan dan ”darah biru”-nya juga tidak kalah dibanding Gus Dur. Akan tetapi , arek Jombang ini menjadi kinclong dibanding tokoh-tokoh setarafnya justru alasannya ialah bawah sadar kolektif kita yang munafik ini tolong-menolong merindukan keterusterangan.

Jauh di dasar permukaan tata krama , moral , basa-basi , dan seluruh perangkat kemunafikan lainnya , kita sesungguhnya mendambakan sesuatu yang urakan. Urakan bukan dalam nuansa arogan. Nuansanya egalitarian. Itulah keceplas-ceplosan Gus Dur.

Bima

Dari lubuk dasar yang permukaannya saja tampak hipokrit , kerinduan kita pada keterusterangan itu menjadi terang bila kita rujuk suku Jawa sebagai salah satu pengisi budaya nasional yang paling rumit tata kramanya. Tingkatan bahasa orang Jawa paling tidak ada tiga: ngoko (bahasa kasar) , kromo madyo (bahasa sedang) , dan kromo inggil (bahasa tinggi). Akan tetapi , bawah sadar kolektif nenek moyang orang Jawa yang tecermin dalam wayang justru menimbulkan Bima yang cuma sanggup ngoko alias blakblakan , sebagai insan dengan derajat kesempurnaan tertinggi.

Dengan materi baku Ramayana dan Mahabarata dari India , metabolisme kreatif lokal para leluhur orang Jawa tidak menentukan tokoh-tokoh santun ibarat Yudistira dan Kresna sebagai puncak idola. Pada lakon Dewa Ruci , lakon trikngan atau gubahan lokal yang menjadi master- piece dunia pedalangan Jawa dan tidak terdapat dalam naskah orisinil India , hanya Bima seorang diri yang diberi hak oleh leluhur Jawa untuk sanggup bertemu dan berdialog pribadi dengan Tuhan semasa hidupnya.

Kemunculan Gus Dur yang fenomenal sanggup dipahami dalam konteks memori bawah sadar kolektif kita , apalagi di tengah kancah kemunafikan tata krama yang makin bikin sumpek ibarat sekarang. Mungkin ada beberapa tokoh ceplas-ceplos yang pluralis , demokratis , dan pembaru fatwa Islam. Akan tetapi , keceplas-ceplosan Gus Dur sangat bersahabat pada model blaka suta (frankly speaking) yang diimpikan leluhur Jawa melalui abjad khayalan Bima. Bima bitrik apa adanya dan ngoko dan tanpa basa-basi , tetapi tak satu pun lawan bitriknya sakit hati atau merasa tidak dihormati. Kuncinya ialah ketulusan , tanpa pretensi ataupun tendensi tertentu yang tersembunyi.

(Maaf) kentut

Satu lagi membuktikan bahwa suku yang paling berpilin-pilin tata kramanya di Nusantara ini sesungguhnya bawah sadar kolektifnya menginginkan keterusterangan , termasuk dalam melanggar tabu , ialah direkanya tokoh Semar. Tokoh yang kejenakaan serta posturnya berkesan Gus Dur ini juga tak ada dalam Ramayana dan Mahabarata India.

Para leluhur Jawa , suku yang di permukaan tampak ruwet tata kramanya , menentukan kentut Semar sebagai senjata paling ampuh di dunia , bukan senjata pamungkas pasopati milik Arjuna ataupun cakra milik Kresna.

Dalam konteks budaya , sebagai simbol , kentut ialah seluruh hal yang tabu di Nusantara , ibarat sendawa pada orang-orang ”Barat”. Maknanya , bangsa yang kian sesak kemunafikan ini sesungguhnya di bawah sadar memori kolektifnya membolehkan malah mengharuskan pelanggaran hal-hal tabu untuk menuntaskan problem ibarat , antara lain , persetujuan Gus Dur untuk perayaan Imlek.

Sungguh agak kurang sedap dan kurang inspiratif mengenang Gus Dur hanya dalam hal ketokohannya di ranah pluralisme , demokrasi , dan pembaruan fatwa Islam , tanpa mengenang keceplas-ceplosannya termasuk dalam melanggar tabu-tabu. Ibarat mengenang garam tanpa kita kenang asinnya.

Sujiwo Tejo , Dalang

0 Response to "Kumpulan Opini Kompas: Bapak Ceplas-Ceplos Nasional"

Total Pageviews