Latest News

Kumpulan Opini Kompas: Matinya Narasi

Acep Iwan Saidi

Akhir tahun yaitu sebuah ”jeda” , titik penghubung ke awal dalam suatu siklus. Di dalam siklus , titik pertemuan dari tamat ke awal sebetulnya berada di lapis luar , sesuatu yang dirumuskan insan menurut fenomena yang terjangkau nalar: bahwa ada 12 bulan dalam setahun , 7 hari dalam seminggu , 24 jam dalam sehari , dan seterusnya.

Siklus ini menjadikan kita , pada pergantiannya , seolah menghadapi yang gres sehingga galib menyebut 1 Januari tahun baru. Padahal , pada titik substansi (lapis dalam) , kehidupan sebetulnya bergerak terus ke arah yang mungkin tak sanggup disikluskan , tidak juga sanggup dikatakan linear. Ke manakah kehidupan bergerak , ke depan atau justru ke belakang?

Nalar insan cenderung menangkap bahwa kita sedang bergerak ke depan. Kecenderungan pemahaman ini juga sering disertai keyakinan ”mistis”: bergerak ke depan identik menyongsong kemajuan (ke depan kita maju , ke belakang kita mundur).

Faktanya kita melihat kian hari peradaban insan tak membaik. Berbagai inovasi bidang sains dan teknologi yang lahir dari kecanggihan berpikir insan ternyata tak serta-merta membuat kehidupan lebih tenteram. Alih-alih kian hening , inovasi itu justru membuat insan merasa terancam , panik , skizoprenik , dan irasional.

Dalam konteks lain yang lebih positif , kita sanggup mengambil proposisi ekstrem: kalau kian hari insan kian berpikir canggih , kota metropolitan macam Jakarta mestinya kian jadi kota yang tertata baik. Pun demikian kasus pengelolaan negara: pemerintahan SBY seharusnya lebih anggun dari pemerintahan-pemerintahan sebelumnya. Namun , bukankah kenyataannya tak begitu. Jakarta justru bergerak ke arah nekropolis (kota kehancuran). Kebobrokan moral pada badan pemerintahan sama parahnya dengan masa lalu.

Itu berMakna kita sebetulnya tak bergerak ke depan dalam Makna ke arah lebih maju. Kiranya juga tak melangkah ke belakang alasannya yaitu kebaikan dan prestasi di belakang tak terlampaui; keburukannya tak sanggup diperbaiki. Kita , ekonomis saya , jadi patahan-patahan mengambang. Kita ahistoris , tapi juga tak progresif. Tak mengenal masa kemudian sekaligus buta terhadap masa depan. Inilah yang saya sebut matinya narasi.

Tragedi Kebudayaan

Narasi , dalam Makna sempit , yaitu rangkaian insiden (Gennete , 1980). Rangkaian insiden meniscayakan unsur pelaku , waktu , ruang , dan realitas peristiwa. Relasi semua unsur itu membentuk durasi , yakni gerak maju masa kemudian ke masa sekarang , dan lantas ”memersepsi” masa depan. Sebuah gerak maju yaitu kesatuan yang tidak sanggup dibagi (dure) dari masa kemudian sehingga dengan begitu ia mengandaikan masa depan (Bergson , 2002). Dengan inilah , dalam Makna luas , narasi membentuk pengetahuan (Lyotard , 1989). Kebudayaan atau lebih luas peradaban terbentuk dari ”praktik narasi” ini.

Akan tetapi , hal itu tidak terjadi dalam kehidupan kebudayaan kita , setidaknya dalam dua dekade terakhir. Demokrasi yang telah direbut dengan gemilang oleh gerakan reformasi ternyata tidak dimaknai dan dimanfaatkan dengan baik. Alih-alih memanfaatkan kebebasan berbitrik untuk mengonstruksi pengetahuan naratif , kita justru mengambil demokrasi untuk menghancurkan pengetahuan.

Elemen-elemen narasi terlempar ke aneka macam arah , tak ada hubungan , apalagi kesatuan yang utuh. Kita mengambil ruang dan waktu penceritaan , tetapi tidak memiliki waktu dan ruang cerita. Maknanya , kita hanya bercerita , tetapi penceritaannya tak menapak pada ruang dan waktu di mana di dalamnya kita terlibat setrik nyata. Dalam perspektif semiotika , kita hanya bermain-main dengan tanda , tetapi tanda tersebut tidak mengakar pada realitas. Ia terbelokkan dan hanya berputar-putar di dunia tanda itu sendiri. Segalanya yaitu tanda , yaitu image.

Image yaitu sebuah ”realitas metaforik” , yakni realitas gres yang diciptakan (bukan realitas sebenarnya). Untuk membuat realitas ini , sejarah harus diputus dan masa depan tak boleh ditetapkan. Dengan kata lain , narasi mesti dibunuh sehingga tak ada lagi pengetahuan , tak ada lagi esensi. Dalam kondisi demikian , kita dipaksa melihat dan memaknai hari ini untuk hari ini saja.

Kita dipaksa untuk selalu lupa. Tiba-tiba , contohnya , kita mendapat seseorang menjadi pejabat publik , anggota dewan perwakilan rakyat , atau bahkan penegak hukum. Padahal , beberapa dikala sebelumnya , kita menemukan orang tersebut yaitu koruptor , pelaku kriminal , atau penjahat lain. Kita dilarang mengingat masa kemudian , sekaligus tak harus peduli pada masa depan. Dalam image , dalam kematian narasi , kita dipaksa untuk terus-menerus mengelabui realitas. Itulah mengapa Umberto Eco (1979) menyebut tanda sebagai dusta , ilmu tanda (semiotika) yaitu ilmu ihwal dusta.

Hasil Konspirasi

Realitas metaforik sedemikian tentu tidak terbentuk dengan sendirinya. Ia yaitu konstruksi dari konspirasi aneka macam pihak: penguasa , pengusaha , politisi , media (terutama televisi) , praktisi bidang tertentu ibarat desainer , hingga akademisi. Semua bantu-membantu (seperti jargon pemerintahan SBY) mengoyak-ngoyak narasi , menghancurkan pengetahuan. Bagi saya , matinya narasi sedemikian yaitu bencana kebudayaan , bahkan malapetaka peradaban yang mengerikan. Matinya narasi membuat kita dalam jagat dusta.

Apakah dengan begitu kita sedang bergerak ke ruang dan waktu masa kemudian peradaban , yakni zaman kegelapan? Dalam bahasa , kiranya terasa hiperbolis kalau kita menjawab pertanyaan itu dengan ”ya”. Namun , setrik faktual kita menemukan kenyataan tak terelakkan: matinya narasi menjadikan irasionalitas nyaris di seluruh kehidupan.

Beranalogi pada Schroeder dalam Visual Consumption (2002) , belanja dan konsumsi sehari-hari kita yaitu image , yaitu dusta. Akan tetapi , di bawah tenung televisi , kita terlena. Bukankah dengan begitu sesungguhnya kita tengah berada dalam gelap? Semoga kita sanggup menutup tahun ini dengan mata terbuka Agar tahun berikutnya menjadi harapan. Selamat berakhir tahun!

Acep Iwan Saidi , Ketua Forum Studi Kebudayaan FSRD ITB

0 Response to "Kumpulan Opini Kompas: Matinya Narasi"

Total Pageviews