Latest News

Kumpulan Opini Kompas: Jati Diri Papua

Bagong Suyanto

Banyak studi menandakan , di balik kemajuan pembangunan di Papua , ternyata pada dikala yang sama melahirkan banyak sekali problem sosial-budaya di kalangan penduduk lokal.

Selain itu , juga muncul tuntutan untuk melaksanakan banyak sekali penyesuaian menyikapi kehadiran situasi dan kondisi gres yang terus berubah sebab dihela industrialisasi , modernisasi , dan kehadiran para pendatang dengan segala perbedaan dan kepentingannya (FISIP Unair , 2010; Rathgeber (ed) , 2006).

Sejak industrialisasi masuk di wilayah ini , sekitar tiga dekade lalu—belakangan bahkan makin intensif—bisa kita lihat penduduk setempat yang awalnya hidup dalam struktur ekonomi sederhana dan tak mengalami deferensiasi , sekarang sudah mengenal teknologi modern. Juga pranata dunia industri yang serba kontraktual , tawaran gaya hidup gres , media televisi , dan interaksi sosial kian bermacam-macam dengan para pendatang beserta banyak sekali pranata budaya yang mereka bawa.

Hasil kajian yang dilakukan FISIP Universitas Airlangga (2010) menemukan bahwa dalam perubahan sosial yang terjadi begitu cepat itu telah menjadikan implikasi dan proses pembiasaan yang tidak selalu gampang bagi suku-suku dan penduduk lokal di Papua untuk menyesuaikan diri dengan akselerasi perubahan sosial-budaya dan tuntutan situasi gres yang berlangsung di sekitar mereka. Bukan mustahil , penduduk lokal yang tak besar lengan berkuasa dan kurang bisa mengikuti keadaan terhadap perubahan yang berlangsung cepat di daerahnya bakal mengalami gegar budaya.

Solidaritas memudar

Kehadiran industri berikut kompensasi yang diberikan kepada penduduk lokal , selain menimbulkan memudarnya kohesi sosial antara suku satu dan suku yang lain , dalam batas-batas tertentu juga memunculkan terjadinya proses soliterisasi. Proses ini berupa memudarnya rasa solidaritas antarsuku atau antaretnis , makin menguatnya batas-batas deferensiasi sosial antarsuku yang berbeda , dan bahkan ditandai pula dengan lahirnya kecemburuan sosial. Hal itu bisa terjadi sebab lahirnya teladan stratifikasi sosial gres yang lebih menurut pada basis material , bukan pada tradisi dan hal-hal yang sifatnya berasal dari mereka.

Tekanan dan tuntutan pembangunan serta perubahan gres yang terlalu mementingkan kepentingan politik dan ekonomi menimbulkan polarisasi dalam masyarakat. Bahkan warga masyarakat lokal yang seharusnya merupakan subyek pembangunan justru acap kali terpinggirkan oleh derap modernisasi.

Akibat paling pribadi yang terjadi ketika perubahan dan modernisasi di tanah Papua tak lagi bisa dibendung pasti ialah tergusurnya insan sebagai anggota komunitas , meruncingnya konflik akhir perbedaan paham , dan menguatnya kerusakan alam akhir eksploitasi berlebihan. Dari banyak kasus , di Tanah Air ini—termasuk di wilayah Papua—masih sering terjadi dan banyak kebijakan pembangunan yang belum mempertimbangkan adanya hak-hak kultural warga negara yang harus dilindungi dan dihormati.

Di kalangan suku-suku pedalaman di Papua , boleh dikata dikala ini telah lahir sebuah periode baru. Jangan dibayangkan bahwa yang namanya suku-suku pedalaman di Papua hanya diwakili sosok-sosok insan yang serba tradisional , subsisten , lugu , dan terisolasi dari efek teknologi dan media modern. Tatkala atrik industrialisasi makin masif dan para pendatang juga terus masuk , selain terjadi perubahan gaya hidup dan trik berpikir masyarakat setempat , yang tak kalah menarik ialah lahirnya teladan hubungan sosial yang makin kontraktual , komersial. Bahkan tak sedikit generasi muda di sana yang menunjukkan gaya hidup ke-”barat-barat”-an.

Boleh dikata sebagian besar perjaka setempat sekarang mulai kehilangan akar budayanya. Mereka tidak lagi mengenal ”bahasa tanah” atau ”bahasa ibu”. Mereka bahkan telah mengadopsi gaya hidup yang modern: berdansa dengan musik yang ingar-bingar dan melantai dengan pasangannya masing-masing dengan gaya yang tak beda dengan yang mereka tonton di televisi. Berbagai jenis kesenian tradisional , tarian goyang pantat , alat musik tifa , dan pranata kultural masyarakat setempat pelan-pelan makin tersisih dan ditinggalkan sehingga yang terjadi kemudian ialah krisis identitas budaya.

Peran tradisi dan adat-istiadat dalam kehidupan penduduk lokal cenderung makin bersifat instrumental. Keberadaan adat-istiadat dan tradisi , dalam beberapa kasus , dijadikan alat dan legitimasi untuk memperjuangkan kepentingan tertentu. Ironisnya , adat-istiadat dan tradisi tersebut tak memiliki kekuatan pengikat yang sama kalau berkaitan dengan kepentingan pihak-pihak tertentu. Dalam proses industrialisasi yang berlangsung cepat , keberadaan kearifan lokal di Papua cenderung makin tersisih dan tak lagi dimanfaatkan untuk memecahkan persoalan sehari-hari yang dihadapi penduduk setempat.

Revitalisasi budaya

Upaya untuk merevitalisasi kembali semoga kekayaan unsur budaya yang dimiliki suku-suku di Papua tidak hilang , dan sekaligus bisa dijadikan pijakan untuk membangun kembali jati diri atau identitas budaya Papua , sudah barang tentu tak bakal efektif kalau hanya dilakukan melalui pewarisan budaya yang sifatnya temporer atau sekadar mentransplantasikan kembali ke belum dewasa dan generasi muda. Tanpa dilandasi proses internalisasi makna yang benar-benar mendalam , setiap upaya yang dilakukan cenderung sia-sia.

Dalam perubahan dan gegar budaya yang terjadi di masyarakat Papua , perlu kita sadari bahwa upaya untuk merevitalisasi kekayaan unsur budaya lokal mau tidak mau harus bersaing dengan tawaran kebudayaan modern yang acap kali lebih atraktif , mengatakan gaya hidup gres dan bahkan gengsi.

Lebih dari sekadar romantisme pada tradisi dan kenangan pad masa kemudian , proses revitalisasi budaya yang dikembangkan di kalangan suku-suku Papua harus bisa menemukan apa yang disebut Adorno sebagai ersatz (lihat: dalam Ever [Peny] , 1988) , yakni ”nilai pakai kedua” dari unsur-unsur budaya yang hendak direvitalisasi. Upaya ini tak lain dimaksudkan semoga dalam praktik gairah dan keterlibatan generasi muda berbagi kekayaan budaya lokal lebih terjamin keberlangsungannya.

Bagong Suyanto , DOSEN DEPARTEMEN SOSIOLOGI , FISIP UNAIR

0 Response to "Kumpulan Opini Kompas: Jati Diri Papua"

Total Pageviews