Latest News

Kumpulan Opini Kompas: Jati Diri Kultural

Radhar Panca Dahana

Diterimanya jago genetik dan pediatrisian Inggris , Stephen Oppenheimer—penulis buku Eden in the East—oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara , beberapa waktu kemudian , mengindikasikan pemerintah puncak negeri ini mulai memberi perhatian pada diskursus perihal eksistensi sebuah peradaban. Sebuah diskursus yang cukup agung dalam ukuran masa sekarang dan tempo kemudian di tempat Nusantara , yang pada kemudian hari menjadi negara dan bangsa berjulukan Indonesia.

Diskursus ini tidak hanya melahirkan kelompok , komunitas , klub diskusi , buku , Maknakel , seminar , serta mungkin puluhan ribu komentar dan goresan pena di banyak sekali blog atau media umum , tetapi juga memunculkan semacam kepercayaan diri di banyak sekali kalangan , terutama yang bertaut dengan (identitas) lokal tertentu. Hal ini bersama-sama sanggup dianggap cukup fenomenal mengingat sebaran diskursus ini sudah merentang mulai dari ujung timur sampai barat , utara , dan selatan negeri ini.

Sinisme Ilmuwan

Semua itu menjadi masuk akal bila pada balasannya mengundang reaksi , sebagian sinis , dari mereka yang selama ini kita anggap sebagai ilmuwan. Mereka yang lebih memercayai data material , dalam bentuk artefak , sebagai dasar utama untuk menafsir dan menyimpulkan sesuatu. Dan , data material itu netral , higienis dari hal-hal yang mistis , khayali , atau dibumbui oleh spekulasi spiritual.

Sebuah posisi yang memang sangat memungkinkan mereka , para ilmuwan ”sejati”—setidaknya yang terlatih dan terdidik dalam logosentrisme european—melihat semua hal yang berkait dengan ”fenomen” di atas sebagai salah satu ekspresi dari pribadi yang mitikal dan mistikal. Konon , pribadi sejati bangsa Indonesia.

Tak ada yang keliru dengan pandangan itu. Jika kita bersetuju atau sekurangnya memahami wilayah intelektual , dalam hal ini rasionalitas yang dibangun para sarjana Eropa , lengkap dengan metodologi , epistemologi , juga ontologinya masing-masing. Tafsir , kesimpulan , dan data arkelogis , juga palentologis , kita hormati sebagai dasar obyektif untuk menilai zaman , masa kemudian , sampai konstitusi dari kebudayaan/peradaban serta insan yang mengisi dan membentuknya.

Namun , hanya sebagai diskusi kecil , betapapun ilmu memberi dampak besar pada kehidupan insan , termasuk perkembangan etika dan kebudayaannya , siapa pun mestinya memahami etika dan kebudayaan itu ternyata berlangsung , berproses , hidup dan mati , jauh lebih luas semestanya ketimbang runtutan kata-kata dan proposisi yang disebut ilmiah. Sebagian besar hidup ada di luar jutaan teori dan asumsi. Kata (tertulis)—sebagai penggalan dari artefak—hanyalah sebagian , bila tidak dibilang kecil , dari perangkat atau medium yang dipakai sebuah bangsa menyebarkan dirinya.

Di titik ini mungkin hipotesis—jika istilah ini mau digunakan—bisa diajukan bahwa sebagian (suku) bangsa di dunia , terutama di negeri ini , tidak memandang goresan pena sebagai medium utama dalam ia beradab dan berbudaya. Bangsa-bangsa di Nusantara menyebarkan dan memproduksi karya kebudayaannya yang sekarang kian banyak terkuak dahsyatnya (ingat I La Galigo) tidak melalui proses literasi semacam itu. Pengembangan dan pewarisan melalui verbal , sikap , dan janji sosial yakni trik-trik utama itu. Kita sanggup menemukannya dengan gampang di banyak sekali tradisi sampai karya-karya Maknastik di pelbagai suku bangsa negeri ini.

Model pemberadaban semacam ini tentu membuat kesulitan tersendiri bagi ilmu-ilmu sosial modern. Setidaknya bagi ilmu sejarah , antropologi , arkeologi , atau paleontologi untuk menegaskan realitas masa kemudian suku bangsa-suku bangsa itu.

Sebagai rujukan , segimana dituturkan Zoetmoelder dalam kita babonnya , Kalangwan , sastra Jawa kuno bersama-sama yakni perjuangan melaksanakan transliterasi dari bahasa Jawa purba ke bahasa Sanskerta dengan abjad Pallawa. Namun , ternyata perjuangan itu tidak seluruhnya berhasil. Cukup banyak kosakata Jawa purba yang tidak sukses ditransliterasi. Sekurangnya , Zoetmoelder mencatat lebih dari 1.500 kata Jawa purba yang tak sanggup dialihteraskani menjadi Sanskrit dan Pallawa.

Keberanian Politik

Paparan di atas tak lain hanya semacam praasumsi yang menyatakan sebuah realitas pada masa kemudian , bahkan pada masa sekarang , tidaklah sesederhana bukti-bukti kebudayaan yang ditinggalkannya. Peradaban Nusantara , dengan seluruh karakteristiknya yang khas , yang bahari itu (oh… betapa kata ini yakni gadis paling seksi untuk kita telusuri tubuhnya) , tidaklah sanggup direduksi hanya oleh data bahan , teori , atau sembarang epistemologi. Begitu pun jati diri insan yang dihasilkan peradaban itu tentu bukanlah jati diri arkeologis atau paleontologis.

Pertimbangan yang lebih komprehensif , setidaknya multidipliner , harus dilakukan dengan kerja keras untuk kita sanggup mendekati atau lebih mengenali jati diri itu. Saya ingin menyebut pertimbangan itu sebagai ”kultural”. Pertimbangan yang melihat insan dan etika yang diproduksinya tidak hanya bebas dari prasangka-prasangka rasional (European) , tetapi juga mengikutsertakan peralatan-peralatan budaya yang mereka gunakan sendiri , yang kebanyakan justru tidak material.

Seperti budaya verbal , yang tidak sanggup dimaterialisasi menjadi sekadar kata , kemudian menjadi buku. Sebab , di dalamnya terdapat dimensi metalingual atau paralingual , yang turut memilih makna dan sukses tidaknya transmisi sebuah kebudayaan.

Jati diri kultural yang terbentuk dalam proses pemberadaban bangsa Nusantara inilah sesungguhnya yang ada di balik gairah besar kebangkitan ”nasionalisme” gres Indonesia ketika ini. Nasionalisme yang tidak diinisiasi atau diformulasi oleh teori atau gagasan-gagasan era XIX dan XX dalam politik ini. Nasionalisme yang jauh lebih lokal , berakar , sebutlah: genuine!

Dalam tatar kebangsaan , Indonesia yang sekarang given , arus keras diskursus di penggalan awal tulisan—tidak peduli dengan isu-isu murahan perihal ”Atlantis” atau celotehan fiksional Plato itu—memang sudah sepantasnya menjadi perhatian para petinggi republik ini. Bukan sekadar sebagai kegenitan atau romantisme , melainkan sebagai perjuangan politik. Lebih tepatnya perjuangan peradaban (saya kerap menggunakan kata ini alasannya Nusantara dalam perhitungan saya bukan hanya melahirkan kebudayaan , juga sebuah peradaban , dalam perhitungan apa pun) menegakkan bangsa dan negara ini.

Dan , saya tidak bakal pernah berhenti menyampaikan hal ini. Sebab , semua itu tidak sanggup tidak membutuhkan bukan sekadar political will , tetapi lebih utama political courageous. Sebuah modal mental dari negarawan kita untuk berhadapan dengan dunia lewat klaim kebudayaan.

Kita tahu , pada masa ini , kata terakhir itu (baca: kebudayaan) sekarang bermetamorfosis mantra paling ampuh. Bukan hanya untuk survive , berjaya , bahkan berkuasa , sampai tingkat dunia.

Radhar Panca Dahana , Budayawan

0 Response to "Kumpulan Opini Kompas: Jati Diri Kultural"

Total Pageviews