Latest News

Kumpulan Opini Kompas: Insan Indonesia Maritim

Radhar Panca Dahana

Dalam program bincang-bincang di stasiun televisi beberapa tahun kemudian , saya bertanya kepada beberapa mahasiswa unggulan dari perguruan pelayaran di Jakarta Utara. ”Apa Maksud dengan budaya kelautan atau maritim?”

Tiga mahasiswa yang gagah ternyata hanya menggeleng. Kepala sekolah yang juga tiba sebagai narasumber kemudian menjelaskan , budaya kelautan ialah semacam trik hidup para pelaut yang terpaksa tinggal berhari-hari atau berbulan-bulan di atas kapal yang berlayar.

Saya tercenung. Saya mencoba mengenang pandangan gres dan visi presiden pertama kita , Ir Soekarno , ketika ia menggagas sekolah para calon pelaut Indonesia itu. Tentu saja , tanggapan kepala sekolah di atas tidak termasuk di dalamnya.

Visi awal sekolah itu jauh lebih lapang dalam ruang dan waktu. Seorang pelaut semestinya memiliki kepekaan dan pemahaman ruang yang lebih berpengaruh dan luas ketimbang mereka yang hidup sebagai ”manusia daratan”.

Visi dan kepekaan semacam ini sangatlah penting untuk kita , insan Indonesia , terutama untuk memahami kenyataan kita sebagai insan , kelompok , masyarakat , bahkan juga bangsa.
Indonesia ialah miniatur terbaik bagi kodrat Bumi alasannya ialah keduanya memiliki wilayah sama , yaitu dua pertiga diisi air. Maka , setrik natural , bahwasanya insan Bumi (juga Indonesia) memiliki kodrat sebagai insan maritim: insan yang mengacu keberadaan dirinya setrik eksistensial , memahami dasar-dasar ontologis sampai kosmologis , pada tata trik hidup dan kebudayaan yang berbasis pada dunia maritim dan pesisir.

Manusia yang dibuat oleh kultur maritim dan pesisir ialah insan yang membangun permukiman , sosial , ekonomi , dan politiknya dalam sebuah kota pantai atau bandar. Di kota-kota bandar ini , insan maritim Indonesia berkembang sesuai kondisi alamiah dan pengasuhan bandar: menjadi masyarakat hibrid (melting pot society) yang berpikiran terbuka , adoptif , sekaligus adaptif.

Semua itu—sebagai hasil pembudayaan dan pemberadaban—berlangsung sangat usang alasannya ialah ditransmisikan lewat trik-trik yang juga alamiah , antara lain tuturan (seni/sastra lisan) , praktik , dan teladan.

Adab Daratan

Paparan di atas ialah untuk menegaskan kembali bahwa trik berpikir , pendekatan , sampai contoh hidup kita yang keliru sebagai insan , kelompok , atau bangsa selama ini , yakni contoh hidup yang memaksakan satu pendekatan yang berpotensi konflik. Mengapa?

Pola hidup di atas selain mengingkari kodrat maritim juga menggunakan warisan budpekerti dan budaya daratan. Sebagai budpekerti , budaya daratan juga dipengaruhi kondisi geografis dan geologis di mana insan harus ada alasannya ialah perlawanan dan penguasaan terhadap sekitar (manusia , hewan , dan lingkungan). Tidaklah mengherankan kalau budpekerti daratan semenjak awal Masehi dipenuhi konflik , bahkan perang yang sangat kejam.

Dalam peradaban besar yang tersusun selama 1 ,5 milenium dan terutama 2 ,5 era terakhir inilah kita menyaksikan gimana dunia: insan dan kebudayaannya , tercabik-cabik oleh sikap yang menghamba pada kekuasaan. Sejarah di Jazirah Arab , contohnya , selalu penuh dengan perang dan darah. Konflik dan kekerasan memang menjadi ruh pembentukan bangsa dan negara di wilayah itu.

Sejarah tentu saja bukan hanya milik bangsa Arab. Sejumlah bangsa dan peradaban daratan lainnya: Mesir , India , China , Persia , sampai Eropa , juga memiliki kisah yang hampir sama sampai hari ini.

Maka bahwasanya beruntunglah kita , insan dan bangsa Indonesia , yang memiliki budpekerti dan budaya maritim. Ia memiliki pendekatan dan trik hidup yang berbeda dalam mengelola diri sendiri , bersosialisasi , berpolitik , bernegara , dan berdiplomasi internal maupun eksternal.

Begitu pula seharusnya trik kita menghadapi banyak sekali perkara di dalam negeri , khususnya pada beberapa informasi kritis belakangan ini menyerupai korupsi , konflik lokal , otonomi kawasan , sampai penyelenggaraan demokrasi. Harus diakui ketika ini kita lebih menggunakan pendekatan yang lebih dipengaruhi budpekerti daratan: konfliktif , dominatif , dan materialistik. Negara selalu berposisi sebagai pemerintah (dalam Makna menawarkan perintah yang wajib diikuti) , pemecah perkara , pelaksana dan penanggung jawab utama dan pertama , serta lebih khusus lagi: harus jadi pemenang.

Berlangsung di Indonesia

Demikianlah trik-trik penyelesaian daratan dalam menangani banyak sekali perkara mutakhir kita: terorisme , demonstrasi , kepala kawasan yang membangkang , bahkan juga pembangunan ekonomi. Hal itu membuat kita terjebak dalam siklus konflik dan kekerasan tanpa putus. Pemerintah selalu berhadapan setrik diametral dengan pihak lain , bahkan rakyatnya sendiri , yang diposisikan sebagai lawan yang harus ditundukkan.

Kasus Papua , contohnya , sudah hampir setengah era kita tidak berhasil mendapat penyelesaian yang komprehensif alasannya ialah menggunakan pendekatan daratan. Korban berjatuhan dan perkara justru semakin luas dan kompleks.

Padahal , dalam budpekerti dan kultur maritim , penyelesaian perkara Papua bahkan juga tidak sanggup diselesaikan dengan dengan sekadar pendekatan kesejahteraan alasannya ialah masalahnya bukan di sana.

Berapa pun banyaknya kemudahan dan uang digelontorkan , perkara Papua tidak bakal usai. Sesungguhnya rakyat Papua mempermasalahkan soal kultural yang membutuhkan pemahaman komprehensif multidisiplin. Ini berawal dari kekecewaan saudara Papua kita yang melihat penanganan perkara mereka selama ini oleh pemerintah justru semakin menihilkan nilai-nilai dasar kemanusiaan dan keberadaan mereka sebagai (suku) bangsa , warga sebuah negara.

Seperti suku-suku bangsa lain di Nusantara Maritim , orang Papua bakal murka kalau disuapi kemudahan tetapi dihina diri dan adatnya. Namun , segimana juga contoh pergaulan maritim , orang yang tiba sebagai tamu bakal mereka perlakukan dengan hormat dan sejajar. Itu pula yang mereka harapkan: diperlakukan sejajar menyerupai suku-suku Nusantara lainnya.

Maka , hanya dalam kesejajaran itu penyelesaian komprehensif sanggup ditemukan. Setrik simbolik , hal ini sanggup dilakukan oleh seorang pemimpin (menteri , lebih elok lagi presiden atau wakilnya) dengan tiba ke Papua untuk berkunjung , menjadi tamu seorang kepala suku , tanpa representasi ratusan personel Paspampres dan senjata otomatis yang mengerikan. Itulah jalan kultural budpekerti maritim.

Inilah jati diri kita bahwasanya yang memiliki keunggulan akulturasi dinamik , yang pada kesannya mengekalkan Indonesia sebagai bangsa maupun negara. Sesungguhnya , di dalam identifikasi eksistensial dan kultural itu , kita bakal menemukan kenyataan yang mungkin tak terduga: demokrasi yang bahwasanya alasannya ialah lahir dan tumbuh di negeri yang penuh ”rayuan pulau kelapa” ini.

0 Response to "Kumpulan Opini Kompas: Insan Indonesia Maritim"

Total Pageviews