Hasibullah Satrawi , Alumnus Al-Azhar , Kairo
Pelbagai agresi terorisme yang terus berlangsung di republik ini menunjukkan bahwa kegiatan deradikalisasi belum efektif. Upaya deradikalisasi ternyata belum menyentuh aspek indoktrinasi yang kerap menjadi pembenaran agresi kekerasan.
Hal terjauh yang pernah dilakukan di Indonesia ialah kegiatan deradikalisasi berbasis insentif ekonomi. Ini dilakukan terhadap mantan tokoh Darul Islam atau Negara Islam Indonesia (DI/NII) tahun 1960-an.
Program di atas gagal alasannya ialah insentif ekonomi yang diberikan justru dimanfaatkan para mantan tokoh DI/NII untuk menghimpun kekuatan. Tahun 1977 pegawanegeri yang mengendus kebangkitan DI/NII telah menangkap tokoh-tokoh mereka (Solahudin , NII hingga JI , 2011: 83-102).
Deradikalisasi di Mesir
Di sinilah pentingnya berguru dari kegiatan deradikalisasi yang pernah terjadi di Mesir , salah satu negara berpenduduk Muslim yang kerap menjadi target terorisme. Aksi teror terakhir di Mesir terjadi pada malam pergantian tahun 2011 di sebuah gereja di Alexandria. Sedikitnya 21 orang meninggal dan puluhan orang luka-luka.
Namun , agresi teror di Mesir dalam beberapa waktu terakhir relatif jauh menurun daripada tahun 1960-1980-an. Pada periode itu , agresi teror yang terjadi kerap didalangi gerakan keagamaan militan berjulukan Jamaah Islamiyah (JI) Mesir yang menyalahpahami beberapa fatwa keagamaan. Pembunuhan mantan Presiden Mesir Anwar Sadat , pada tahun 1981 , juga disinyalir melibatkan kelompok JI Mesir.
Di luar dugaan banyak pihak , tokoh-tokoh utama JI Mesir yang masih berada dalam penjara mengeluarkan yang dikenal dengan istilah al-mubadarah liwaqfil unfi tahun 1997 , bisa dimaknai sebagai tawaran penghentian agresi kekerasan.
Pada tahap awal , tawaran tersebut dijadikan kesepakatan sekaligus maklumat deradikalisasi oleh JI Mesir. Tahun 1999 , JI Mesir mengeluarkan maklumat kedua untuk memperkuat maklumat pertama tahun 1997. Selanjutnya tawaran dijadikan buku utuh.
Ada lima buku yang diterbitkan JI Mesir terkait dengan pembongkaran ulang atas sejumlah fatwa yang kerap disalahpahami oleh para teroris. Buku-buku itu ialah Al-Mubadarah Liwaqfil Unfi (Maklumat Deradikalisasi) , Hurmatul Ghuluw fi Ad-din wa Takfiril Muslimin (Pengharaman Radikalisme Keagamaan dan Pengafiran Sesama Umat Islam) , Tasliythul Adhwa` ’Ala ma Waqa’a fi Al-Jihad min Akhta` (Mengungkap Kesalahan dalam Memahami Jihad) , An-Nushuh wa At-Tabyin fi Tashihi Mafahimi Al-Muhtasibin (Nasihat Deradikalisasi dalam Penegakan Amar Makruf dan Nahi Mungkar) , serta Iydlahul Jawab ’an Su`alati Ahli Al-Kitab (Jawaban atas Pernyataan wacana Agama-agama Samawi).
Semua buku di atas membawa satu semangat , yaitu membongkar ulang pemahaman atas sejumlah iktikad keagamaan yang kerap dijadikan pembenaran agresi kekerasan dan terorisme. Semua buku di atas ditulis tokoh-tokoh utama JI Mesir yang memiliki otoritas keilmuan.
Adalah benar bahwa agresi terorisme masih terjadi di Mesir pasca-pertobatan JI Mesir. Namun , setidaknya bahaya terorisme di Mesir relatif lebih ringan. Bahkan , JI Mesir dikala ini menjadi salah satu kekuatan utama di barisan terdepan untuk melawan jaringan terorisme , mulai dari jaringan terorisme lokal di Mesir hingga jaringan terorisme global yang pernah dikomandani Osama bin Laden.
Tiga kekuatan
Setidaknya ada tiga kekuatan yang membuat deradikalisasi berbasis ideologi di Mesir berjalan efektif. Pertama , deradikalisasi menyentuh aspek iktikad keagamaan. Para tokoh JI Mesir memahami , sejumlah fatwa keagamaan telah disalahpahami oleh kelompok teroris-anarkis dan menjadi ”pegangan” mereka dalam menjalankan agresi berdarah tanpa merasa bersalah. Dalam konteks ini , deradikalisasi berbasis ideologi berhasil menghancurkan kekuatan utama kelompok teroris-anarkis.
Kedua , deradikalisasi memiliki kekuatan struktural , khususnya di internal JI Mesir. Ini mengingat deradikalisasi diprakarsai dan dilakukan oleh tokoh-tokoh spiritual JI , menyerupai Sheikh Najih Ibrahim Abdullah , Sheikh Ali Syarif , dan Sheikh Usamah Ibrahim Hafiz.
Deradikalisasi berjalan efektif alasannya ialah melibatkan orang-orang yang menempati posisi puncak dalam struktur organisasi JI Mesir. Kekuatan struktural inilah yang bisa membawa gerbong JI Mesir untuk berjalan konsisten dengan isi maklumat deradikalisasi.
Ketiga , otoritas ilmu keislaman. Sheikh Najih Ibrahim Abdullah , Sheikh Ali Syarif , Sheikh Usamah Ibrahim Hafiz , dan lainnya disegani alasannya ialah mereka ialah tokoh dengan ilmu keislaman mumpuni , baik di internal JI maupun dalam konteks publik Mesir setrik umum.
Kekuatan inilah yang bisa membuat publik Mesir , khususnya internal JI , percaya terhadap yang disampaikan oleh para tokohnya. Bahwa yang mereka lakukan telah sesuai dengan Al Alquran dan Hadis segimana dipahami dan dijalankan oleh generasi Islam awal. Bahwa apa yang mereka lakukan semata-mata demi kemaslahatan kehidupan beragama , berbangsa , dan bernegara. Bahwa yang mereka lakukan tidak semata-mata demi laba duniawi.
Konteks Indonesia
Inilah yang tidak terjadi dengan kegiatan deradikalisasi di Indonesia. Adalah benar ada sebagian mantan teroris di Indonesia yang mencoba melaksanakan tugas deradikalisasi menyerupai Nasir Abbas dan kawan-kawan. Namun , upaya ini tidak maksimal.
Di satu sisi , Nasir Abbas dan kawan-kawan tidak sempat menempati posisi yang sangat strategis dalam jaringan terorisme di Indonesia.
Di sisi lain , mereka juga dianggap tidak memiliki otoritas ilmu keislaman untuk membongkar ulang sejumlah fatwa yang disalahpahami kaum teroris. Akibatnya , para mantan teroris di Indonesia pun gagal menarik gerbong terorisme untuk melaksanakan ”pertobatan massal” menyerupai yang terjadi di Mesir.
Adalah benar bahwa selama ini ada beberapa tokoh dan ulama yang mencoba membongkar ulang sejumlah fatwa keagamaan yang disalahpahami tersebut. Hal ini terlihat terang dari pernyataan para ulama dari ormas-ormas besar di Indonesia (seperti MUI , NU , dan Muhammadiyah) yang mengecam tindakan para teroris.
Namun , upaya pelurusan paham keagamaan itu juga tidak menyebabkan dampak yang efektif di kalangan para teroris. Bukan semata-mata alasannya ialah para ulama tersebut diragukan otoritas ilmu keislamannya , melainkan alasannya ialah mereka tidak berasal dari ”tokoh-tokoh teroris” dengan posisi struktural yang sangat strategis.
Hasibullah Satrawi Alumnus Al-Azhar , Kairo
0 Response to "Kumpulan Opini Kompas: Deradikalisasi Berbasis Ideologi"