Acep Iwan Saidi
Di tengah kemudian lalang politikus amis , di antara gentayangan perampok negara di sejumlah instansi pemerintah , dan di sela-sela masalah lain yang membukit di negeri ini , dalam pergaulan internasional di manakah kita bakal menyimpan muka?
Lihatlah , muka kita tercoreng kontrkelewat / oversi Lady Gaga dan ratu narkoba Corby. Pada ketika yang sama , tangan Taufik Hidayat cs dipatahkan Jepang sehingga mimpi menggapai prestasi dan prestise badminton remuk sudah. Hemat ungkap: informasi Gaga membuat bangsa ini seolah tak punya budaya , kekalahan Taufik bikin martabat olahraga terjun ke jurang , dan pengampunan sanksi SBY untuk Corby menggenapkan kita sebagai bangsa yang hina.
Lantas , gimanakah semua itu mesti diurai? Sepertinya kita telah susah mencari bahasa. Kita sudah melaksanakan banyak trik , mulai dari yang santun hingga paling kasar. Pagar Gedung MPR/DPR/DPD telah diruntuhkan , foto presiden telah acap dibakar , beberapa orang telah rela dipenjara , yang lain bahkan mengorbankan diri dalam api (ingat kasus pelopor Sondang Hutagalung!).
Mungkinkah kita hingga pada apa yang ditulis Chairil Anwar: ”Ini kali tidak ada yang mencari cinta/di antara gudang , rumah renta , pada cerita/tiang serta temali/Kapal , bahtera tiada berlaut/menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut”.
Kiranya kita memang sudah tidak bisa lagi menyusun kontrak dengan raja menyerupai dilakukan Chairil: ”Ayo , Bung Karno , kasi tangan mari kita bikin janji!”
Kini semua akad telah diingkari. Kita tinggal rangka. Selebihnya , meminjam ungkapan tokoh Oscar Yakob dalam drama Lawan Catur karya Kenneth Arthur , kita hanya melihat ”dusta dari puncak hingga ke dasar!”
Metafora Kejahatan
Kesabaran ada batasnya , demikian ungkapan klise , ”metafora mati” , kata Paul Ricoeur (1978). Namun , kiranya kini kita memang sudah tidak bisa merangkai ”metafora hidup”. Kita sudah kehilangan imajinasi. Tidak ada lagi dalam ingatan wacana watak penguasa yang ajek , apalagi teladan. Tidak ada dalam kepala , sejarah politikus dan aparatur negara yang amanah , apalagi sebagai panutan.
Rakyat hanyalah lahan mata pencarian yang dikelola dengan mengatasnamakan evakuasi ekonomi , penjaminan demokrasi , bahkan penegakan hukum. Sebagai alibi , semuanya mati dalam bahasa. Dan , pada titik inilah , pada ketika kita tak bisa lagi menyusun metafora hidup , metafora mati menjadi bumerang. Pada batasnya , kesabaran bakal berdiri menjadi vampir yang liar: people power!
Tentu kita tidak mau terus-menerus terpuruk dalam jurang kenistaan , sekaligus menghindari penyelesaian oleh ”vampir kesabaran”. Namun , bersamaan dengan hal itu , jikalau hanya berdiam diri menyaksikan kebebalan demi kebebalan , kita pun ikut bebal. Hal paling mengerikan dari tindak kejahatan ialah ketika aura kejahatannya hilang. Pun ketika kita melihat kebebalan sebagai hal biasa.
Oleh alasannya itu , di samping tindakan nyata melalui forum semacam Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) , dua hal harus terus-menerus dilakukan. Pertama , selalu mengMaknakulasikan kejahatan dan kebebalan Agar auranya terus terbarukan. Aura kejahatan korupsi , contohnya , bakal hilang jikalau tindakan itu terus-menerus disebut korupsi. Perlu diterakan metafora lain , menyerupai perampok atau garong.
Kedua , ketika negara dalam keadaan harus ditolong menyerupai kini , yang pertama mesti dilakukan ialah membantu penguasa mendudukkan kepalanya pada posisi yang sehat.
Pada kasus pengampunan sanksi untuk Corby , contohnya , SBY mungkin memiliki ”nalar jual beli bilateral” sehingga dengan itu pengampunan sanksi yang ia berikan tidak gratis: ini sebuah transaksi yang boleh jadi menguntungkan. Namun , SBY lupa—dan ini yang mesti diingatkan—bahwa di atas logika jual beli tersebut terdapat logika lain yang jauh lebih penting , yakni logika moralitas dan martabat hidup berbangsa. Nalar ini memang tidak serta-merta membuahkan ”fulus” , tetapi pemilihannya ialah investasi tidak terbatas untuk jangka panjang.
Pemimpin besar pastilah bakal menentukan logika ini. Sayang , SBY menentukan logika instan—yang garang memanen padi petang hari atas benih yang ditanam pagi harinya—menunjukkan bahwa ia bukan pemimpin demikian.
Karakter Berbangsa
Lantas Gaga. Sampai esai ini ditulis , sang Lady belum lagi datang di sini. Namun , kita tahu imbas psikologisnya telah meledak jauh-jauh hari. Mesti dipahami , kasus Gaga bukan melulu soal show Maknas populer. Bukan pula sekadar informasi pornografi dan pertunjukan hasrat di atas panggung. Ini juga bukan cuma soal ketersinggungan agama. Ini soal abjad dan perilaku mental hidup berbangsa.
Kita boleh menyusun sejuta argumen wacana budaya kontemporer , tetapi kita tetap tidak bisa mengelak bahwa identitas berbangsa itu penting dan risikonya politik identitas menjadi harus. Kaprikornus , mula-mula soalnya bukan mengizinkan atau melarang , melainkan gimana sebagai bangsa—melalui ketegasan pemimpinnya—kita memiliki perilaku yang terang dan berwibawa untuk mendapatkan atau menolak.
Berkali-kali dan oleh sejumlah pihak telah disampaikan bahwa kita butuh pemimpin yang berpengaruh , cerdas , berwibawa , dan bebas dari kepentingan politik sesaat. Kini , lihatlah , tanpa pemimpin demikian , negara tidak lagi memiliki ideologi sehingga tidak terang ke mana langkah mengarah. Bagaimana mau ajek berdiri jikalau tidak punya fondasi. Jangankan membangun abjad , ngurus badminton saja tidak mampu.
Mesti dipahami , kalahnya Taufik cs oleh Jepang pada perempat selesai Piala Thomas dan Uber bukan serta-merta kekalahan kompetisi olahraga bulu ayam itu , melainkan representasi dari terus-menurus terpuruknya pengelolaan kehidupan berbangsa. Ingatlah juga , badminton ialah monumen yang telah susah payah dibangun sejarah.
Potret Taufik di Kompas , 24/5 , ialah tragedi. Berjalan membelakangi kamera , Taufik melambaikan tangan. Ia menyerupai sedang berkata , ”Selamat jalan prestasi , selamat berpisah prestise , terpuruklah negeriku!”
Lantas , ke manakah Taufik (kita) melangkah? Sepanjang tidak punya pemimpin berkualitas , kita hanya bakal bersimpuh di kaki peradaban yang dibangun orang lain: macam Corby dan Gaga!
Acep Iwan Saidi; Ketua Forum Studi Kebudayaan ITB
0 Response to "Kumpulan Opini Kompas: Corby Dan Gaga"