Yudi Latif
Vincet amor patriae (kecintaan kepada tanah air itulah yang membuat menang). Walau jalan menuju SEA Games diwarnai aneka skandal dan salah urus , daya juang para atlet sanggup mengatasi keterbatasan dan kekacauan. Di ujung jalan , menyerupai menggemakan bait lagu yang dikobarkan para penyanyi kita , ”Indonesia Bisa” , menjadi juara.
Olahraga menunjukkan abjad yang dibutuhkan untuk olah negara. Dalam kobaran cinta menyerupai dalam olahraga yang mengatasnamakan bangsa , jiwa amatir yang siap berkorban demi patria mengalahkan kalkulasi untung-rugi sehingga atlet profesional ternama pun rela bertanding dengan imbalan di bawah standar. Dalam olahraga , atlet sejati lebih mendahulukan kesiapan berjuang ketimbang mengedepankan hasil. Jennifer Capriati , mantan petenis Amerika Serikat , mengekspresikan abjad olahragawan sejati ini , ”I don’t care about being number 1 , but I’m ready and willing to give battle , and that’s what sport is all about.”
Kesiapan berkorban dan kesungguhan berjuang demi mengharumkan bangsa mengakibatkan atlet sejati sebagai pahlawan. Keberhasilan para atlet Indonesia menjuarai SEA Games membantu menaikkan moral bangsa yang usang mengalami demoralisasi sehabis menuai keterpurukan di banyak sekali segi. Tatkala kita kehilangan harapan bakal perkembangan bangsa ini , masih ada orang-orang yang bangkit terakhir di persimpangan dengan mengibarkan panji kebesaran bangsa , menyerupai para atlet itu.
Masalahnya , meminjam ungkapan Brutus dalam drama William Shakespeare , Julius Caesar , ”How many times shall Caesar bleed in sport” , berapa banyak cucuran keringat , darah , dan air mata yang ditumpahkan para atlet dalam olahraga , untuk sanggup menularkan jiwa amatir ke dalam olah negara? Berapa banyak atlet sejati yang harus berlaga Agar para aspiran politik menyadari pentingnya mengedepankan keseriusan berjuang ketimbang jalan pintas kemenangan?
Sungguh tragis , Indonesia sedang mengalami fase penjungkirbalikan nilai dalam olah negara. Harry Truman menyatakan , ”Politik—politik luhur—adalah pelayanan publik. Tak ada kehidupan atau pekerjaan di mana insan sanggup menemukan peluang yang lebih besar untuk melayani komunitas atau negaranya selain dalam politik yang baik.”
Namun , dalam membumikan politik yang luhur , yang dibutuhkan ialah pembiakan negarawan , bukan politikus. Negarawan ialah pekerja politik yang menempatkan dirinya dalam pelayanan kepada negara. Politikus ialah pekerja politik yang menempatkan negara dalam pelayanan kepada dirinya.
Nyatanya , Indonesia mengalami surplus politikus dan defisit negarawan. Kebanyakan penyelenggara negara kita tidak hidup untuk politik , tetapi hidup dari politik. Kehirauannya ialah apa yang sanggup diambil dari negara , bukan apa yang sanggup diberikan untuk negara.
Akibatnya , Indonesia kehilangan basis legitimasinya sebagai ”negara-pelayan” yang bersumber pada empat jenis responsibilitas: santunan , kesejahteraan , pengetahuan , dan kedamaian-keadilan. Pemenuhan keempat basis legitimasi negara-pelayan tersebut merupakan pertaruhan atas kebahagiaan warga negara. Para pendiri bangsa setrik visioner memosisikannya sebagai tujuan negara dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.
Pelayanan atlet kepada bangsanya berbanding terbalik dengan pelayanan aparatur negara. Kontras dengan keberhasilan atlet meraih prestasi , para penyelenggara negara , khususnya yang berkaitan dengan SEA Games , justru terpuruk. Kontras dengan jiwa pengorbanan dan kejuangan para atlet , para penyelenggara negara yang terkait dengan itu justru menggelorakan jiwa koruptif. Kontras dengan jalan kemenangan atlet yang memerlukan usaha panjang , jalan kemenangan politisi kita justru banyak yang menempuh jalan pintas.
Cinta atlet kepada sesuatu di luar dirinya menggelorakan rasa keagungan kepada bangsanya. Cinta politisi kepada diri dan keluarganya mengempiskan kebesaran bangsanya. Ketika atlet berpesta , mereka menularkan semangat patriotisme dan solidaritas kebangsaan. Ketika politisi berpesta , mereka menularkan glorifikasi semangat feodalistis yang mengukuhkan kesenjangan dengan rakyatnya.
Sektor olahraga sering kali dilukiskan sebagai cermin proses modernisasi bangsa. Kondisi perkembangan politik dan ekonomi suatu bangsa sanggup direfleksikan oleh perkembangan olahraganya. Namun , fitur Indonesia sepertinya merupakan deviasi dari itu. Prestasi olahraga diharapkan sanggup menunjukkan rangsangan positif bagi perkembangan politik dan ekonomi. Ketika dunia politik tidak berhasil melahirkan pendekar , dunia olahraga memberi kompensasi dengan melahirkan pahlawan-pahlawan alternatif yang dibutuhkan untuk menumbuhkan harapan.
Etos kejuangan atlet kita dalam menjuarai SEA Games harus kita tularkan ke dalam etos kejuangan menjuarai tata kelola negara. Walau dirundung aneka kendala , antusiasme dan patriotisme terbukti membawa banyak perbedaan. Gemakan terus semboyan Bung Hatta: ”Di atas segala lapangan Tanah Air saya hidup , saya gembira. Dan di mana kakiku menginjak bumi Indonesia , di sanalah tumbuh bibit keinginan yang kusimpan dalam dadaku.”
Bagaimanapun juga , dengan mengutip seungkai sajak RenĂ© de Clerq , ”Hanya ada satu tanah air yang berjulukan Tanah Airku. Ia makmur alasannya ialah usaha , dan usaha itu ialah usahaku.”
0 Response to "Kumpulan Opini Kompas: Olahraga Dan Olah Negara"