AA GN Ari Dwipayana
Bung Hatta mendirikan Perhimpunan Indonesia ketika belum berumur 30 tahun. Hitung saja umur Soekarno ketika memberikan pidato yang menggemparkan , ”Indonesia Menggugat” , dan menjadi Presiden RI pada usia 44 tahun. Muhammad Natsir jadi perdana menteri pada usia 42 tahun , bahkan Sjahrir dan Sjafruddin Prawiranegara pada usia di bawah 40 tahun. Bukan itu saja , pada 1951 , empat serangkai: DN Aidit , Lukman , Njoto , dan Sudisman , menjadi pengendali utama Partai Komunis Indonesia dalam usia tidak lebih dari 30 tahun.
Namun , dalam perjalanan waktu , kita juga jadi saksi bahwa usia para pengendali partai makin usang kian merenta. Saat ini , Presiden SBY memegang posisi puncak di pemerintahan dalam usia 62 tahun. Tidak jauh berbeda , Megawati Soekarnoputri yang hingga ketika ini masih mengendalikan PDI-P sudah 64 tahun. Demikian pula umur para pengendali politik di Partai Golkar ataupun rumpun partai medioker. Usia mereka 50-65 tahun: Aburizal Bakrie (65) , Wiranto (64) , Prabowo Subianto (60) , Hatta Rajasa (58) , Suryadharma Ali (55) , dan Luthfi Hasan (50). Pengecualiannya , hanya ada pada dua partai: PKB dan Partai Demokrat; Muhaimin Iskandar (45) dan Anas Urbaningrum (42). Keduanya di bawah 50 tahun.
Lapis tengah
Kalau posisi puncak umumnya didominasi generasi renta , di lapisan tengah kepemimpinan partai justru dipenuhi generasi yang lebih muda. Boleh dikatakan lapis tengah partai ini makin hari semakin menggelembung alasannya ialah harus menunggu giliran pergantian kepemimpinan politik.
Gelembung lapisan tengah bisa dilihat dari data perbandingan usia anggota dewan perwakilan rakyat 2009-2014 (Kompas , 25/10/2011). Sebagian besar anggota dewan perwakilan rakyat berusia di bawah 50 tahun. Anggota dewan perwakilan rakyat yang berusia lebih dari 50 tahun hanya sekitar 11 persen. Setrik kuantitas , angka ini terang lebih kecil daripada anggota dewan perwakilan rakyat yang berusia 41-51 tahun yang mencapai 38 ,98 persen , usia 31-40 tahun sebanyak 21 ,3 persen , dan di bawah 30 tahun sebesar 3 ,8 persen.
Lapis tengah bakal semakin besar jika kita juga menghitung pencetus partai yang bergiat di luar dewan legislatif , ibarat mengurus organisasi partai , mengisi kepengurusan sayap-sayap partai , atau bahkan sedang berpeluh melaksanakan kerja-kerja politik di akar rumput , Mereka bab dari generasi sedang menunggu bergeraknya lokomotif regenerasi kepemimpinan partai.
Waktu tunggu bakal makin usang ketika generasi renta masih memiliki kehendak berpengaruh untuk tetap bertahan mengendalikan partai. Bahkan , dalam beberapa ahad terakhir , muncul sejumlah survei dan aspirasi yang menunjukkan masih bertahannya tokoh-tokoh politik renta dalam panggung politik nasional. Dalam beberapa survei terkini , figur politisi renta masih memiliki popularitas , bahkan elektabilitas yang cukup tinggi untuk bersaing dalam Pemilu Presiden 2014. Kemunculan beberapa nama usang ibarat Aburizal Bakrie , Megawati Soekarnoputri , hingga Prabowo Subianto menunjukkan tokoh-tokoh renta masih diminati masyarakat.
Masih bertahannya para pengendali partai di genggaman politisi renta sudah niscaya berakibat serius alasannya ialah hal itu berdampak pada bertambah lamanya waktu tunggu lapis menengah. Ketika benar-benar terjadi regenerasi di mana beberapa di antara lapis menengah ini sudah hingga ke puncak kepemimpinan politik dalam partai , usia mereka sudah renta , ibarat halnya generasi sebelumnya. Dengan demikian , ”geronto politik”—usia lanjut alias penuaan di dunia politik—menjadi siklus yang tidak terhindarkan.
Melawan ”geronto politik”
Pertanyaan yang muncul berikutnya ialah apakah ”geronto politik” bisa dilawan? Bagaimana trik memangkasnya? Jawabannya tak sederhana alasannya ialah ”geronto politik” tumbuh subur di tengah ”ladang” struktur oligarki elite dalam partai. Memangkas ”geronto politik” bekerjsama juga bab dari upaya melawan oligarki elite partai. Generasi politisi renta bisa bertahan sangat usang dalam kekuasaan alasannya ialah mereka mengendalikan sumber daya politik dan ekonomi partai. Semakin usang para pengendali ini menggenggam kekuasaan dalam partai , kekerabatan kuasa yang terbangun menjadi sangat mempribadi. Maknanya , partai menjadi identik dengan figur sang patron.
Hal ini juga menjelaskan mengapa nama-nama politisi muda di lapis tengah tidak bakal pernah muncul dalam survei popularitas kepemimpinan nasional , alasannya ialah persepsi masyarakat atas partai sangat lekat dengan figur patron pengendali partai. Dengan kondisi semacam itu , apa pun manuver politik yang dilakukan politisi muda untuk menggapai popularitas , panggung kepemimpinan nasional tetap hanya diperuntukkan setrik langsung bagi para pengendali partai.
Dengan demikian , ”geronto politik” hanya bisa berakhir jika terbangun ruang kompetisi yang terbuka dan demokratis di internal partai. Dalam proses kompetisi terbuka , politisi muda bukan hanya bersaing satu dengan yang lain , sekaligus diuji dulu kemampuan kepemimpinannya. Hal ini penting untuk ditegaskan alasannya ialah kita menghadapi dua tabiat dasar yang menjadi perangkap partai politik.
Pertama , tabiat politik patronase yang juga bisa saja menular ke politisi muda. Dalam logika patronase , politisi muda ditempatkan sebagai klien yang mengabdi untuk kepentingan patron. Ukuran utama dalam persaingan itu ialah kedekatan korelasi dengan patron , bahkan kemampuan untuk mengabdi dan melayani kepentingan patron pengendali partai.
Perangkap patronase ini bisa menjadi bab dari logika politik kaum muda sehingga persaingan dalam partai menjadi tak sehat. Kaum muda partai bakal berebut untuk menjadi penerus patron dengan trik membangun kedekatan personal. Hal ini tentu saja bakal membangun regenerasi yang memiliki abjad politik yang sama dengan kaum renta yang digantikannya.
Perangkap kedua ialah politik ”karbitan”. Munculnya fenomena politik karbitan ini ditandai hadirnya politisi muda ”dadakan” yang memiliki saluran politik yang berpengaruh ke patron , selanjutnya menduduki posisi penting-strategis dalam partai. Bahkan , beberapa partai politik ibarat menyiapkan ”putra mahkota” sebagai bab dari jalan regenerasi politik. Konsekuensinya , persaingan politik antarlapis tengah seolah-olah sudah ditutup sejalan dengan munculnya ”putra mahkota”.
Akhirnya , untuk keluar dari ”geronto politik” , tidak ada jalan lain kecuali politisi muda dalam partai mendorong reformasi sistem kompetisi internal partainya. Hanya dengan kompetisi partai yang terbuka dan demokratis bakal terbuka ruang yang lebih lebar bagi politisi muda untuk bersaing , menunjukkan kualitas berpolitik dan sekaligus jadi arena menguji kerja- kerja politik yang telah dilakukannya. Dengan trik itu , kaum politisi muda bukan hanya mengusung tentang regenerasi dari sisi usia , melainkan juga mengedepankan regenerasi abjad dalam berpolitik.
AA GN Ari Dwipayana , DOSEN JURUSAN POLITIK DAN PEMERINTAHAN , FISIPOL UGM
0 Response to "Kumpulan Opini Kompas: Keluar Dari “Geronto Politik”"