Shindunata
Almarhum atau swargi Gus Dur bukan hanya kiai , mantan Ketua PBNU , dan mantan Presiden. Semasa hidupnya , swargi Gus Dur juga seorang pencinta dan pengamat sepak bola yang andal. Ulasan bolanya perihal Piala Dunia sering menghiasi halaman pertama harian ini.
Ketika Gus Dur menjadi Presiden , beberapa kali penulis juga menggunakan bahasa bola dalam mengomentari pemerintahannya. Kami malah sempat terlibat dalam polemik berbahasa bola. Waktu menghadapi perkara Bulog , Gus Dur begitu yakin bakal sanggup mengatasi Pansus dewan perwakilan rakyat alasannya ia menerapkan seni administrasi catenaccio (pertahanan gerendel khas Italia).
Penulis mengkritik seni administrasi pertahanan konservatif itu. Kalau Gus Dur menggunakan 'catenaccio politik ,' yang cenderung menunggu peluang itu , betapa makin sulit kita mengharapkan perubahan. Baru saja kita merasa hidup gres , tetapi kini tiba-tiba kita merasa sesak dalam udara usang , kembali dicekik trik pikir dan kekuatan lama. Dalam sekejap , kita menyerupai kehilangan bola emas di depan gawang lawan (Kompas , 16/12/2000).
Dua hari kemudian , di tengah kesibukannya sebagai Presiden , swargi Gus Dur menanggapi kritik itu dan mengeluarkan goresan pena Catenaccio Hanyalah Alat Berat ( Kompas , 18/12/2000). Tutur Gus Dur , tidak benar ia hanya menggunakan catenaccio dalam segala seni administrasi pemerintahannya. Ia menggunakan catenaccio hanya dalam menghadapi Pansus dewan perwakilan rakyat sehubungan dengan perkara Bulog. Ia bahkan bertekad untuk menerapkan total football dalam menegakkan demokrasi di Indonesia.
Namun , Gus Dur segera menambahkan , janganlah kita bersikap terburu-buru dan sembrono , menganggap bahwa 'total football demokrasi' itu sanggup diwujudkan secepat-cepatnya dan sesegera mungkin. Untuk itu mungkin lebih sempurna digunakan seni administrasi hit and run , menyerupai dahulu banyak dipergunakan oleh berbagai
kesebelasan di Inggris.
Maknanya , tulis Gus Dur , "sebuah proses demokratisasi itu haruslah diwujudkan dalam hal ia sanggup dilaksanakan." Dengan demikian , disadari bahwa tidak seluruh aspek yang harus didemokratisasikan sanggup diwujudkan pada ketika bersamaan.
Mengutip Lenin , Gus Dur menyampaikan , anggapan bahwa demokratisasi sanggup dilakukan dengan cepat ialah "penyakit kiri kekanak-kanakan" (infantile leftism). Demokrasi tidak sanggup dijalankan dengan gedubrag-gedubrug. Menurut Gus Dur , kita memerlukan daya tahan yang berpengaruh , stamina yang tinggi , dan waktu yang sangat usang untuk menegakkan demokrasi.
Dalam situasi menyerupai itu , Gus Dur bilang , ia tetap berpegang pada sebuah adagium dari ushul fiqh (filsafat aturan Islam). Adagium itu dipelajarinya ketika ia masih di pesantren. Adagium itu ditemukan oleh Imam Syafi'i , dua belas kala lampau dalam sebuah karya monumentalnya Al-Risalah. Adagium itu berbunyi: Maa la yudroku kulluhu , lam yuthrak julluhu (Jika tidak sanggup meraih seluruhnya , jangan tinggalkan seluruhnya).
Gus Dur memberi pola gimana mempraktikkan amanat itu ketika ia merangkul erat-erat ABRI (TNI sekarang). Gus Dur tahu langkah itu bakal disumpahserapahi orang sebagai seni administrasi yang salah.
Namun , demikian tulisnya , "Bila hal itu tidak dilakukan dahulu , tentu struktur Tentara Nasional Indonesia kini ini tidak mendukung proses demokrasi. Dan , tanpa pertolongan mereka , tidak banyak yang sanggup dilakukan di hadapan teriakan reformasi yang dilontarkan orang yang bahwasanya berjiwa status quo". Karena itu , kita perlu menghormati institusi Tentara Nasional Indonesia , sambil terus menggunakan kedaulatan aturan untuk menegakkan demokrasi.
Lalu dalam bahasa bola Gus Dur menyimpulkan bahwa total football itu harus diterapkan setrik kreatif dalam kehidupan berbangsa. Dalam satu hal kita menggunakan seni administrasi catenaccio , dalam hal lain seni administrasi hit and run. Kemudian , demikian ia menuangkan impiannya , "Bahkan , kadang kita menggunakan seni administrasi total football , dan siapa tahu kita juga memeragakan bola samba kesebelasan Brasil."
Jelas , Gur Dur pengagum sepak bola Brasil. Pedoman sepak bola Brasil adalah: Peduli amat dengan sistem , pokoknya sepak bola harus tetap hidup dari kultur dan spirit samba , yang khas rakyat Brasil. Itulah yang ditampakkan setrik ekstrem oleh kesebelasan mereka dalam Piala Dunia 1958 di Swedia.
Waktu itu Pele , Vava , Zagallo , Didi , dan Garrincha mengejutkan dunia alasannya mereka tampil bagaikan malaikat-malaikat bola yang bermain dalam sistem yang entah apa namanya dan sama sekali tak terduga oleh lawan-lawannya. "Kesebelasan Brasil dalam Piala Dunia 1958 kiranya sanggup menjadi juara dunia
dengan menggunakan sistem apa pun ," kata mantan instruktur kesebelasan Jerman ,
Erich Rutemoeller.
Memang catenaccio , hit and run , total football semuanya sanggup hidup dengan kreatif dalam permainan kesebelasan Brasil alasannya mereka bermain dengan jiwa dan roh samba. Meminjam ushul fiqh Gus Dur , Brasil sanggup bermain demikian alasannya tidak meninggalkan yang pokok , identitas dan kultur bola mereka.
Gus Dur ialah pribadi yang menghormati sistem. Namun , ia bukanlah orang yang mau didikte oleh sistem. Baginya demokrasi bagaikan bola. Bola tidak harus pribadi ditembak ke gawang lawan , tetapi juga harus dikejar , direbut , di-dribble , dijadikan passing pendek , diolah dalam kombinasi dan kolaborasi tim , dimainkan dalam tempo yang tidak selalu sama.
Bagi swargi Gus Dur , demokrasi bukanlah bola yang hanya harus secepatnya ditendang , tetapi teman bermain dan kawan yang harus dikenal , dibelai , dirawat , dan dicintai dengan kasih sayang. Untuk itu , ia selalu mencoba tabah dan sabar.
Gus , mungkin sehabis Sampeyan pergi , itulah yang harus kita buat bagi demokrasi.
0 Response to "Kumpulan Opini Kompas: Bola Demokrasi"