Latest News

Kumpulan Opini Kompas: Pemimpin Minim Ambisi

Radhar Panca Dahana

Moammar Khadafy yakni tragik seorang pemimpin flamboyan , berani , dan penuh ambisi. Ia dihujat dan sekaligus dipuja selama 42 tahun berkuasa.

Bagi seorang pilot asal Indonesia , Ganahadi Ratnuatmaja , yang tujuh tahun menjadi pilot langsung mantan pemimpin Libya itu , Khadafy yakni langsung peramah dan pemurah. Yang selalu tiba ke kokpit untuk bersalaman dan meminta maaf alasannya beberapa menit terlambat. Yang mengirim saudara kandungnya untuk menghadiri pesta mantu sang pilot di Indonesia. Yang dengan tegas menyatakan bahwa semenjak masih berpangkat kolonel mengagumi Soekarno , presiden pertama Indonesia.

Banyak orang di dunia , termasuk para pemimpin , mengagumi Soekarno. Dari sopir di Polandia , pelukis di Montmart , Perancis , Mahathir Mohamad dari Malaysia , sampai almarhum Anwar Sadat dari Mesir.

Soekarno yakni lambang perlawanan terhadap kekuatan dunia dengan retorika , ketegasan , dan keindahan diplomasi. Ia membuat dunia terpaku dan terpukau sehingga ditiru banyak pemimpin dunia setelahnya.

Khadafy yakni salah satu pemimpin yang sungguh mengingatkan kita pada proklamator itu. Cara hidup sampai keberaniannya merobek surat hukuman di depan Majelis Umum PBB mengingatkan kita pada Soekarno yang mengkritik Amerika di lembaga yang sama. Namun , sejarah memberi mereka nasib berbeda.

Soekarno berkeras melaksanakan demokrasi. Akibatnya , hidup politik yang dibangunnya ricuh sepanjang usia kepemimpinannya. Ia mengakhiri kekuasaan dengan catatan pertumbuhan ekonomi yang kurang sukses , kecuali beberapa proyek mercusuar. Ia digulingkan dan meninggal dalam kesendirian.

Sebaliknya dengan Khadafy. Ia dengan keras—kalau perlu menghabisi lawan-lawan politiknya— membuat stabilitas untuk mencapai kemakmuran. Hingga 2010 , Libya tercatat sebagai negara dengan Indeks Pembangunan Manusia (HDI) tertinggi di Afrika dan nomor 55 di tingkat dunia. Posisi Libya di atas Arab Saudi , Malaysia , Rusia , dan Indonesia yang terpuruk di nomor 111. Menurut Bank Dunia , pendapatan penduduknya nomor 50 dunia dengan 16.837 dollar AS per kapita , jauh di atas Turki , Afrika Selatan , Brasil , dan 400 persen kali negeri ini. Namun , ia digulingkan juga.

Refleksi kepemimpinan

Apa yang terjadi di Libya dan ”Arab Spring” pada umumnya bergotong-royong yakni refleksi kepemimpinan bagi kita. Setidaknya , pertama , apa yang terjadi di Libya bergotong-royong yakni pelaksanaan dari apa yang pernah dikatakan Jenderal Colin Powell kepada Presiden George W Bush wacana perlakuan terhadap Irak , ”If you break it , you own it.”

Amerika Serikat berkomplot dengan kekuatan asing (modal maupun politik) untuk menjatuhkan pemain usang , melaksanakan perang proxy bersama elite lokal yang menjadi sekutunya , dan mendaur ulang rezim usang ke dalam rezim baru. Maka , bila kita menyaksikan , bahkan terlibat dalam penggulingan rezim lama—seperti beberapa kali terjadi di negeri ini—tetapi kemudian tidak ada perubahan berMakna , bahkan dalam beberapa hal kita anggap sebagai kemunduran , maka itu yakni bukti taktik klasik para imperialis konspiratif itu.

Rezim gres sesungguhnya hanya kulit domba gres dari serigala yang sama , yang justru lebih ganas , alasannya ia memperluas dan memperdalam penetrasi kuasa imperialisnya. Katakanlah sampai pada proses regulasi , pengambilan kebijakan , sampai proses akulturasi masyarakat.

Refleksi kedua memberi kita sebuah fakta , negeri dan bangsa ini ternyata memiliki tingkat keadaban yang lebih tinggi dalam proses peralihan kekuasaan. Di dalam hati dan sanubari rakyat negeri ini , terpendam rasa hormat kepada para pemimpinnya.

Ini yakni buah tradisi , baik adat maupun agama , yang selama ratusan , bahkan ribuan tahun mengajarkan gimana seorang insan harus respek , menghargai dan memuliakan siapa pun yang lebih renta , yang memimpin , yang pernah bertanggung jawab pada hidup dan masa depan kita. Karena itu , bangsa Indonesia , dengan budpekerti ibarat itu , boleh berbangga kepada dunia , betapapun ia tidak baiklah dan tidak suka kepada seorang pemimpin , ia tak bakal menghina , apalagi menyiksa (mantan) pemimpinnya.

Hal ketiga yakni yang terpenting hari ini: sebuah renungan wacana pemimpin ibarat apa yang seharusnya kita miliki. Pemimpin macam apa yang sempurna dan bisa menjawab persoalan-persoalan mutakhir , baik setrik internal maupun dalam desakan-desakan eksternal (global) yang luar biasa belakangan ini.

Apakah kita membutuhkan pemimpin yang berani , berambegan keras , flamboyan , retorik , berdiplomasi jago , dan berani menantang dunia? Apakah kita membutuhkan lagi Soekarno? Atau sebaliknya , kita membutuhkan seorang pemimpin yang taktis , tekun , cermat dalam perhitungan kebijakan dan tindakan , kurang populis tetapi pragmatis , demi menjaga pertumbuhan yang di dunia lain pun untuk bertahan mengalami kesulitan?

Sesungguhnya , dunia kini lebih dipenuhi oleh pemimpin semacam ini: pragmatis , bukan idealis , dan lebih fokus pada gimana negara dan bangsanya sanggup bertahan dalam tekanan dunia yang kian berat.

Mimpi bukan mistik

Sia-sialah bila kita mencari pemimpin dengan idealisme yang klasik dan romantik. Yang menampilkan dirinya dengan performasi jago di mimbar-mimbar , dengan semangat heroik menjadi juru selamat dunia.

Ideologi sudah usang mati saat semua partai politik dalam dua-tiga dekade kemudian bergerak ke tengah. Yang kanan mengadopsi wangsit yang kiri , sementara yang kiri tanpa sungkan dan aib mempraktikkan apa yang setrik ideologis milik yang kanan. Pragmatisme , bahkan dalam pengertian yang paling Maknafisial dari filosofi William James , yakni pelopor utama dunia yang takluk kepada kekuatan media dan percepatan teknologi informasi.

Di manakah pemimpin Indonesia dalam konstelasi itu? Susilo Bambang Yudhoyono muncul sebagai takdir sejarah , tanpa ada yang menduga , apalagi merasa bahwa ada yang mempersiapkannya. Begitulah sejarah modern bangsa ini , tidak pernah melahirkan pemimpin utama nasional lewat sebuah sistem dan prosedur pengaderan.

Semua muncul ibarat tiba-tiba alasannya waktu—sebagai kaki tangan nasib—sekonyong bitrik dan memutuskan. Bahkan , seorang Habibie pun bukanlah presiden yang dikader dan diinginkan oleh pendahulunya. Seperti presiden lainnya , ia muncul alasannya waktu menginginkannya.

Itulah sejarah politik modern kita , yang membuat antara lain politik negeri ini tetap diselubungi mistik. Ada dongeng satria piningit , Ratu Adil , simulasi gila kata notonagoro , dan seterusnya. SBY pun hadir dalam realitas internal dan eksternal itu.

Dalam pemberitaan media massa yang sangat riuh , kritik itu ibarat koor dengan refrein yang sama dan dinyanyikan berulang. Seperti lagu pop yang kian membosankan , kritik itu kian usang kehabisan argumentasi , tema , dan isu , bahkan napas. Kaum oposan dan kritikus pedas seakan kian tak berdaya menghadirkan fakta dan analisis yang adekuat yang membuat rakyat lebih tergerak dan menyampingkan pencapaian positif yang jadi senjata SBY dan kabinetnya.

Apa yang kini jadi tema dan isu utama tinggal sebuah ekspresi: SBY tak memiliki keberanian (ketegasan). Sebuah tema psikologis juga kultural yang mengacu pada keberanian bersikap dan bertindak. Sebuah memori kultural yang setrik kolektif mengacu pada pemimpin sejenis Soekarno. Namun , SBY ibarat menyampaikan , ”aku bukan Soekarno” dan ”tidak bisa (mungkin tidak mau) jadi Soekarno”.

Sebagai pemimpin , SBY yakni pragmatis tulen , segimana sejawatnya di bab dunia lain. Hal itu terlihat terang dalam kebijakan , tindakan , sampai penyusunan kabinetnya. Para pembantunya diisi oleh orang-orang dengan orientasi prestasional berjangka pendek. Dan sesuai kode presiden , berkewajiban mengisi rapor dengan nilai biru sebagai penghias portofolio menjelang pemilu mendatang.

Namun , untuk negara dengan kelimpahan hidup yang membuat iri bangsa-bangsa lain , yang sekian usang diperas kolonialisme , dan sekian dekade dimanipulasi-dirampok lembaga modal dan keuangan internasional , yang sekian usang melupakan , bahkan menghancurkan potensi terbaiknya sendiri , semestinya memiliki pemimpin yang idealis.

Pemimpin idealis memiliki mimpi yang tentu tidak dimiliki pemimpin negara maju , yang sudah direpotkan oleh krisis sumber daya natural. Pemimpin di negeri ini tidak bisa hanya berkemampuan bertahan saat dunia diancam krisis luar biasa dalam jangka dekat.

Mungkin , pemimpin ibarat itu tidak harus memalsukan Soekarno. Akan tetapi , ia harus memiliki mimpi yang bergotong-royong dimiliki seluruh rakyatnya. Masih bisakah pemimpin kita bermimpi?

Radhar Panca Dahana , BUDAYAWAN

0 Response to "Kumpulan Opini Kompas: Pemimpin Minim Ambisi"

Total Pageviews