Budiarto Shambazy
Masih segar dalam ingatan , sekitar 100.000 penonton tunggang langgang Setelah pegawanegeri keamanan menembak ke udara untuk melerai perkelahian massal antarpemain. Sebagian berlindung di bawah kursi , sebagian lagi mencoba ke luar.
Seorang penonton tewas terkena peluru nyasar dan ratusan lagi luka atau pingsan terinjak massa. Presiden Soekarno turun tangan memerintahkan pertandingan yang terhenti
dilanjutkan beberapa hari kemudian , dan semua berjalan lancar.
Bersyukur juga bencana simpulan hidup di stadion merupakan insiden yang amat langka di negeri ”penggila bola” ini. Di lain pihak , jajaran penyelenggara sebaiknya semakin mawas diri mengantisipasi.
Jika dihitung garang , mungkin GBK terisi padat sekitar 120.000 penonton ketika final SEA Games. Tak ada penonton meluber hingga ke trek atletik , kondisi yang membahayakan , menyerupai yang terakhir kali terjadi di final kompetisi perserikatan antara PSMS dan Persib medio 1980-an.
Jika ditambah penonton yang ada di luar GBK , final SEA Games menjadi salah satu penumpukan massa terbesar yang dapat jadi melibatkan sekurang-kurangnya seperempat juta orang. Final sepak bola SEA Games 1979 antara Indonesia dan Malaysia serta SEA Games 1997 antara Indonesia dan Thailand tak seramai final 2011. Apa lacur , timnas kita takluk di ketiga final bergengsi itu. Tahun 1979 kita kalah 0-1 dari Malaysia dan tahun 1997 ditaklukkan Thailand lewat langgar penalti.
Kemenangan final 2011 bakal bermakna bagi kita alasannya kita perlu kebangkitan gres , menyerupai kata slogan SEA Games , ”United and Rising”. Garuda Muda impresif semenjak penyisihan grup hingga semifinal , terutama Titus Bonai-Patrich Wanggai.
Antusiasme penonton dahsyat , tanda-tanda yang mulai tampak semenjak Piala Asia 2007 dan makin
dahsyat ketika Piala AFF 2009. Sepak bola tak lagi tontonan kelas bawah alasannya kembali digemari banyak sekali lapisan masyarakat menyerupai abad 1970-an.
Inilah bukti sepak bola yaitu industri besar yang menguntungkan kalau dikelola setrik profesional. Penonton tiba ke stadion ingin menyaksikan pertandingan yang skornya tidak diatur wasit atau bandar judi dan pemainnya tidak disuap.
Pendek kata , penonton ingin jantungnya berdebar , berteriak sekeras-kerasnya , dan menghiasi diri dengan banyak sekali atribut tim nasional. Garuda di Dadaku , itu slogan yang sekarang populer.
Akan tetapi , Mengapa , kok , kita gagal terus di ajang final SEA Games? Di final 1979 kita ditundukkan Malaysia , 0-1 , alasannya prestasi mereka lebih baik.
Malaysia yang dimotori pemain-pemain hebat menyerupai kiper R Arumugam (kini almarhum) , dua bek tengah Soh Chin Aun-Santokh Singh , serta striker Mokhtar Dahari lolos ke Olimpiade 1972 dan 1980 serta merebut perunggu Asian Games 1974.
Kita dua kali kalah sial lewat langgar penalti tahun 1997 serta 2011 dan , jangan lupa , juga di final perebutan tiket ke Olimpiade 1976 melawan Korea Utara. Mau tak mau kita terjerembab pada mitos bakal selalu kalah di final apa pun di GBK.
Padahal , harus diakui jujur , Harimau Muda relatif memang lebih baik. Namun , jangan salah , Garuda Muda bukannya buruk.
Tak ada rahasia: pelatihan berjenjang dan serius Harimau Muda menjadi kunci sukses. Mesti diakui jujur itulah kekurangan kita: pelatihan berjenjang masih tetap karut-marut.
Ini jawaban proses peralihan kepemimpinan dari pengurus usang ke pengurus gres masih kurang transparan. Misalnya , menyerupai diberitakan kemarin di harian ini , pengurus usang ternyata meninggalkan utang hampir Rp 40 miliar!
Di lain pihak , selain diwarisi sejumlah dilema pelik oleh pengurus usang , pengurus gres yang masih seumur jagung dihadang sejumlah dilema baru. Kepemimpinan kurang tegas , kompetisi kembali dilanda dualisme , kepengurusan kelewat / overstaffed , Exco terpecah belah , dan lain sebagainya.
Adakah kesadaran dari rezim usang ataupun rezim gres bahwa mereka bukanlah pemangku utama sepak bola kita? Dua pemangku utama yaitu para pemain dan kita para penggila bola.
Kita kembali kadung menjadi the soccer tribe. Itulah ”suku tribal” yang menyayangi timnas alasannya banyak sekali alasan ideologis , kultural , sosial , politis , maupun personal.
Seperempat juta orang malam itu mengelu-elukan Garuda Muda alasannya rindu kepada nasionalisme walau masih berwatak flag-waving (kibaran bendera). Nyaris tak ada lagi elemen-elemen nasionalisme yang disajikan penguasa.
Kita tiba ke GBK alasannya sumpek dengan kondisi bernegara yang dikelola pemerintah yang abai. Kita frustasi makin malas memaki pejabat-pejabat yang korupsi , lebih suka melampiaskan kekesalan dengan menonton bola.
Kita mau menjadi pencinta Tibo atau Wanggai atau Okto Maniani alasannya paham kekayaan Papua dijarah habis-habisan oleh Freeport. Agarlah kita mengultusindividukan mereka ketimbang dipaksa-paksa cinta pemimpin feodalistis.
Dan , kita di GBK berjumpa dengan saudara-saudara sebangsa dan setanah air tanpa perlu menggunakan topeng. Kita saling sapa , saling teriak , saling bantu , saling tawa , saling salam , dan saling peluk.
Tiba-tiba malam itu kembali ada Indonesia di GBK maupun di depan jutaan layar televisi di Nusantara. Ada impian sekalipun kalah sial , bangsa besar yang digembalakan para pemimpin yang , sayangnya , ternyata banyak yang berjiwa kerdil.
Budiarto Shambazy , Wartawan Senior Kompas
0 Response to "Kumpulan Opini Kompas: The “Soccer Tribe”"