Meiwita Budiharsana
Pendapat ”mau punya anak berapa , suka-suka saya” tak keliru kalau dikaitkan dengan pandangan ”semua anak sepatutnya dilahirkan lantaran direncanakan dan diingini”. Namun , pilihan banyak anak perlu dibentuk setrik bertanggung jawab atas dasar pemahaman bakal akhir keputusan itu , baik di tingkat pribadi , keluarga , maupun masyarakat/negara.
Kalau kita gabung jumlah kelompok penduduk lanjut usia (lansia , di atas 60 tahun) dan kelompok penduduk usia muda (hingga 14 tahun) , kemudian kita hitung jumlah ini sebagai persentase terhadap jumlah kelompok penduduk usia kerja (15-59 tahun) , kita bakal dapatkan ukuran kependudukan yang dinamakan rasio ketergantungan usia (age dependency ratio). Ukuran ini menggambarkan besaran beban tanggungan penduduk usia kerja alasannya yaitu diasumsikan penduduk lansia dan penduduk muda tidak bekerja untuk menafkahi dirinya sendiri.
Dari analisis data Indonesia Family Life Survey (IFLS) 2007/2008 , sanggup dihitung jumlah penduduk usia muda yaitu 16 persen dari jumlah penduduk dan kelompok penduduk lansia sekitar 9 persen total penduduk. Jika keduanya dijumlahkan , jumlah penduduk yang setrik teoretis ditanggung penduduk usia kerja yaitu 25 persen dari total penduduk. Jumlah penduduk usia kerja sekitar 75 persen (atau 100 persen total penduduk dikurangi 25 persen).
Rasio ketergantungan anak kini bisa dihitung dari 16/75 , sama dengan 21 anak per 100 penduduk usia kerja; dan rasio ketergantungan lansia dihitung dari 9/75 , sama dengan 12 lansia per 100 penduduk usia kerja. Keseluruhan , rasio ketergantungan usia dihitung dari 25/75 yaitu 33 persen atau 33 orang tertanggung per 100 penduduk usia kerja pada tahun 2007.
Membandingkan kedua kelompok usia tertanggung , kita lihat rasio ketergantungan anak (22 persen) hampir dua kali lipat rasio ketergantungan lansia (12 persen). Dikhawatirkan rasio ketergantungan anak bakal meningkat drastis dalam waktu relatif singkat , kemungkinan menjadi dua kali asumsi di atas (sekitar 45 persen). Sementara rasio ketergantungan lansia tidak berubah banyak (stabil).
Beban semua pihak
Dalam konteks pembangunan berkelanjutan , pendapat ”jumlah anak itu suka-suka saya” harus dikaji. Keputusan pribadi untuk punya banyak anak berdampak pada beban orang banyak.
Ironisnya , di periode desentralisasi ini , ada kecenderungan pimpinan tempat tak dukung kegiatan KB lantaran ia perlu sumbangan masyarakat konservatif. Bahkan , ada kelompok (partai) politik yang terang-terangan menolak KB.
Hasil analisis data IFLS 2007/2008 juga memperlihatkan kecenderungan punya tiga anak atau lebih tidak berkaitan dengan rendahnya pendidikan ibu. BerMakna , kecenderungan itu bergeser ke ibu dengan pendidikan menengah dan tinggi.
Piramida penduduk Indonesia pada 2005 memperlihatkan Indonesia berada di tahap ketiga transisi demografi , di mana jumlah anak pernah dilahirkan dan maut bayi dan anak sama-sama menurun. Basis piramida yang menyempit memperlihatkan pembengkakan demografis pada populasi usia kerja.
”Bonus demografi” ini bersama-sama kesempatan membangun modal sumber daya insan dan memacu percepatan pembangunan jangka panjang bila investasi sempurna guna dilakukan dalam bidang pendidikan , penciptaan lapangan kerja , dan pelayanan kesehatan , termasuk pelayanan kesehatan reproduksi. Periode ini juga memperlihatkan kesempatan untuk mematahkan siklus kemiskinan bila investasi diarahkan sempurna guna.
Pertambahan penduduk usia muda merupakan tantangan besar lantaran dikala ini lapangan kerja yang tersedia tak bisa menyerap peningkatan jumlah orang muda yang memasuki pasar kerja setiap tahun. Hal ini diperburuk dengan belum dipenuhinya kuantitas dan kualitas pendidikan setrik merata.
Tiga tahun terakhir tingkat fertilitas seharusnya sudah turun menuju 2 ,1 kelahiran per satu perempuan. Tetapi , hari ini kecenderungan malah mencapai lebih dari 2 ,3. Kurangnya sumbangan pada kegiatan KB telah berdampak besar pada hasil upaya 30 tahun lebih menekan pertumbuhan penduduk , terutama bila hasil resmi Sensus Penduduk 2010 mengonfirmasi hal ini.
Pertambahan penduduk yang cepat bakal berkontribusi pada penurunan kapasitas negara membangun kestabilan ekonomi dan sosial (termasuk perbaikan kualitas manusia) dan memperlambat upaya restorasi alam lingkungan tempat kita bermukim. Juga mempercepat kondisi di mana Bumi tak bisa lagi mendukung keberlangsungan hidup cucu dan cicit kita.
Jadi , kalau kita sungguh mengasihi anak-cucu kita , jangan serakah menghabiskan sumber daya alam dan jangan serakah punya anak banyak.
Meiwita Budiharsana , PENGAJAR JURUSAN BIOSTATISTIK DAN KEPENDUDUKAN , FKM UI
0 Response to "Kumpulan Opini Kompas: Menyayangi Anak-Cucu"