Radhar Panca Dahana
Kecenderungan itu ia baca sebagai bab dari ketakberdayaan para pengarang—pekerja budaya yang terbiasa dengan dunia imajiner—menghadapi realitas nyata yang ternyata jauh lebih ”imajinatif” ketimbang fiksi dan fantasi sang pengarang. Sepuluh tahun kemudian , ketika saya dipercaya membuat pengantar yang sama bagi edisi KCK 2012 , saya menemukan bukti sahih sinyalemen Arief Budiman di atas.
Tsunami Data
Mengenai lantaran , pertama , kita bisa mengafirmasi kenyataan hidup mutakhir ditandai oleh kian luas dan pekatnya kompleksitas hidup. Bukan saja jawaban bertambahnya jumlah , intensitas , dan kualitas duduk kasus , juga terbukanya ruang pemahaman dan kesadaran kita bakal apa saja yang terjadi di muka bumi ini.
Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi ibarat melesakkan—dengan kekuatan dan kapasitas tsunami—data peristiwa itu , termasuk data intelijen dan diam-diam lainnya , ke dalam alam sadar kita yang setrik tradisional terbiasa dengan jumlah input data yang lebih kecil. Terjadi apa yang disebut ”bencana data” yang membuat semacam ”gegar data” , di mana kapasitas tradisional memori dan proses penyerapannya tak bisa menampung. Akhirnya terjadi semacam kekacauan dalam proses pemahaman , penyimpulan , sampai ekspresinya.
Bagi anak muda di bawah usia 20 tahunan , tsunami data ini direspons dengan membuat trik gres dalam mengabsorpsinya. Mereka melaksanakan pemindaian (scanning) yang menyebabkan data tak lagi teramati , terpahami , dan terpergunakan setrik akurat dan adekuat. Bagi generasi sebelumnya , yang masih dalam tradisi manual-tradisional , terjadi seleksi otomatis. Akibatnya , sebagian besar data itu tidak berhasil diangkat ke atas-sadar dan terbuang ke dalam lembah gelap bawah-sadar.
Pada ketika yang bersamaan , lantaran kedua muncul dengan dahsyatnya , juga dengan menggunakan kendaraan globalisasi yang dilengkapi perangkat dahsyat teknologi informasi dan komunikasi. Dalam satu kata , hal kedua ini bisa kita sebut sebagai virtual world atau dunia virtual , dengan jenderalnya yang berjulukan internet. Sebuah dunia yang menjelma realitas alternatif. Di sana berdiam orang sampaumur , dan terutama anak muda dan remaja , dalam sebuah kenyamanan hidup (fiksional) yang tidak mereka temukan dalam hidup aktualnya sehari-hari.
Dalam virtualitas ini , kita bisa membuat klaim dengan kebebasan tak terperi. Kita bisa menyatakan diri , beraktualisasi , mengkreasi apa pun , bahkan menyisihkan siapa pun yang menghalangi. Kita membuat kebenaran kita sendiri , dunia kita sendiri , dengan kebebasan (Maknafisial) yang terberi. ”Terberi” Maksud ialah legitimasi yang diberikan oleh sistem (demokrasi dan kapitalisme) yang kita pilih dan terapkan.
Hal yang menarik dan sangat berbahaya ialah ketika kenyamanan realitas yang virtual itu kemudian dianggap sebagai ”realitas sesungguhnya”. Lalu , sebagian dari mereka memindahkan ”realitas sesungguhnya” itu ke dalam realitas aktual. Dan , menggunakannya sebagai teladan bahkan panduan bagi ia dalam menegaskan keberadaan , beraktualisasi dan mengonstitusi hidup nyata serta bagi orang lain.
Maka , saksikanlah komunitas cosplay , harajuku , star trek , little monster (fans Lady Gaga) , kaum punk gres di banyak perempatan jalan , dan seterusnya. Mereka sudah tak lagi bisa mengidentifikasi , mengevaluasi , dan mengaktualisasi dunia pragmatis- mudah di sekitarnya. Jadilah mereka—masyarakat atau bangsa itu—sebuah adat gres yang virtual , fantasional , dan ilusional.
Menunggangi Teknologi
Dua lantaran itu saja—di samping beberapa lantaran lain yang sanggup dideretkan—sudah jadi pangkal dahsyat untuk membuat realitas gres kita , segimana yang antara lain terepresentasikan oleh para pengarang di KCK 2012.
Pada diri pengarang , ibarat dinyatakan banyak kalangan , ada semacam kiprah kenabian—yang bersilang tumpuk dengan kiprah keshamanan—untuk mencari makna , signifikansi , dan hikmah dari pergulatan awet insan dalam dikotomi realitas tersebut. Jika kemudian para pengarang sudah ”lari” dengan ekor terlipat ke wilayah unreal atau hyper-real , terang ia menjadi indikasi telah terjadi keletihan luar biasa , bahkan frustrasi , ketakutan luar biasa bahkan kepengecutan , dalam menghadapi ”realitas sesungguhnya”. Sebagian bahkan menganggap—setrik filosofis dan ontologis , katanya—justru yang terakhir itu bergotong-royong yang tiada. Apalagi agama menyiapkan apologi purbanya: bahwa kenyataan nyata itu sesungguhnya fana dan yang sejati ada dalam baka.
Baik , kita tidak membitrikkan agama , yang dalam hal ini bergotong-royong lebih diposisikan setrik apologetik , bukan dalam posisi teologis apalagi spiritualnya. Yang kita pantas cemaskan sekarang ialah gimana bangsa kita , dalam tiap elemen dan tingkatannya , merespons atau menyikapi semua kondisi di atas demi kepentingan ke depan. Ketika anak cucu kita ketika ini melongo dalam hidup yang penuh tipu.
Tak terelak kita mesti menyebarkan dan bersinergi—dengan segala kearifan dan kecerdasan yang kita miliki—untuk mendapatkan , memahami , dan menggunakan adat global itu demi peningkatan harkat kebudayaan , kemanusiaan kita. Mungkin sanggup dimulai dengan setrik sampaumur dan taktis menghentikan penggunaan dunia virtual atau gadget-gadget yang hanya menjerumuskan kita menjadi korban. Menyiasati gimana teknologi dan globalisasi sanggup kita tunggangi , bukan sebaliknya. Menjadi master , bukan hambanya.
Mari kita berhenti memainkan spekulasi-spekulasi dalam kepala kita , membuat opini yang menyesatkan , dan memproduksi delusi dalam trik kita bereksistensi sampai bernegara. Jangan informasi dipilin menjadi opini , bahkan berbuah kebenaran yang bergotong-royong palsu. Termasuk banyak sekali kasus korupsi yang ditangani (KPK) belakangan ini , dipenuhi opini publik yang dibuat berdasar bukan data tetapi ilusi. Sebutlah ibarat sebuah stasiun TV yang berani menyatakan 70 persen publik (dalam poll yang diselenggarakannya) ”terlibat dalam korupsi” , sebelum satu pun data terbukti atau tervalidasi.
Bencana bergotong-royong bakal terjadi bukan ketika negara menjadi gagal , tetapi ketika kita gagal mengidentifikasi realitas nyata dan faktual kita sesungguhnya. Di titik itu , bukan lagi negara , tetapi kebudayaan yang gagal. Negara boleh gagal berkali-kali , tetapi sekali kebudayaan gagal , bangsa pun binasa. Dan , riwayatnya hapus , menyisa artefak lapuk di sejarah dunia.
Radhar Panca Dahana , Budayawan
0 Response to "Kumpulan Opini Kompas: Virtualitas Kita"