Yudhistira ANM Massardi
TAHUN 2014 tahun politik. Maka , Petruk harus jadi raja. Sebagai wong cilik , sebagai pemilik bunyi rakyat (vox populi) yang yakni pengejawantahan dari bunyi Tuhan (vox Dei) , dalam demokrasi Petruk yakni rakyat yang mahakuasa. Dialah yang menentukan siapa yang bakal ditetapkannya sebagai penguasa , yang berhak atas mandat yang bakal dititipkannya untuk masa lima tahun ke depan.
Dia bakal melaksanakan penilaian dan koreksi. Kelemahan , kekacauan , dan kebusukan rezim penguasa terdahulu harus dieksekusi berat: tidak dipilih lagi! Dalam pewayangan , Petruk salah satu dari—bersama Gareng dan Bagong)—punakawan , kelompok pengiring/penghibur/penasihat para ksatria pimpinan Semar , yang diposisikan sebagai wakil kaum jelata.
Salah satu lakon trikngan yang spektakuler dalam dongeng wayang yakni ”Petruk Dadi Ratu” (”Petruk Kaprikornus Raja”). Itu dongeng revolusioner. Bukan dongeng wacana si pungguk merindukan bulan atau katak hendak jadi lembu. Tatkala pemerintahan begitu lemahnya , dan pusaka negara yang begitu saktinya , Jamus Kalimasada , hilang dicuri Dewi Mustakaweni dari Kerajaan Imantaka , yang menyaru sebagai Gatotkaca , itu berarti selesai zaman sudah dekat. Untuk menyelamatkan negara dan bangsa , koreksi total harus dilakukan. Segera.
Ketika itu , Petruk ”terpanggil”. Setelah operasi perebutan kembali Jamus Kalimasada dilakukan , dan jimat sakti itu berada di tangannya , Petruk segera menaruhnya di atas kepalanya. Seketika itu juga energi kosmik-spiritual merasuk ke tubuhnya. Ia jadi sakti mandraguna. Bahkan , para yang kuasa di Jonggring Salaka tak ada yang bisa mengalahkannya. Lelaki jelek rupa yang juga disebut Dawala dan Kanthong Bolong itu pun menobatkan diri sebagai raja di Keraton Lojitengara , bergelar Prabu Welgeduwelbeh. Raja dan yang kuasa tunduk dan takluk kepadanya.
Paradigma Petruk
Revolusi yang dilakukan Petruk hanya semusim. Namun , koreksi yang dilakukannya tak hanya menyebabkan kehebohan mahir , melainkan juga bisa mengembalikan seluruh tatanan ke relnya yang benar. Para raja dan yang kuasa mendapat pelajaran berharga.
Fenomena Jokowi-Ahok yang terpilih menjadi pimpinan Ibu Kota , kemudian menduduki peringkat tertinggi di semua jajak pendapat untuk calon presiden , sejenis fenomena ”Petruk Kaprikornus Raja” yang revolusioner dan korektif tadi.
Para (calon) pemimpin di negeri ini seharusnya tak hanya berguru menggandakan langkah blusukan-nya , tetapi juga melihat seluruh paradigmanya. Terpilih dan teridolakannya Jokowi (-Ahok) yakni verbal dari perasaan rakyat yang setrik mendasar telah terzalimi oleh kedua rezim pascareformasi. Rakyat sudah letih , bosan , dan benci melihat kinerja dan performa seluruh abdi rakyat dan abdi negara di lembaga-lembaga legislatif , yudikatif , dan direktur yang begitu bobrok dan tak becus. Rakyat sudah muak pada politik pencitraan yang dhaif , palsu , dan membodohi.
”Paradigma Petruk” yakni paradigma paradoks: kelindan antara dekonstruksi-parodi dan semangat antihero. Alhasil , trik-trik menjual diri para calon anggota legislatif ataupun calon presiden yang masih bertumpu pada gebyar iklan televisi , baliho , seremoni , dan pidato-pidato omong kosong , bukan hanya sudah bau dan menawarkan perilaku antiperubahan , juga langkah bunuh diri yang bodoh. Rakyat tidak bakal menentukan mereka , apalagi yang punya rekam jejak hitam di masa kemudian yang belum lagi jauh. Rakyat hanya bakal menentukan para ”Petruk jelek muka” yang bersahaja dan kerja nyata.
Ya , rakyat yang sebelum ini— meminjam seloroh seorang teman—mendambakan datangnya Ratu Adil , tetapi yang muncul Ratu Atut; mendambakan Satria Piningit , tapi yang muncul Satria Bergitar , sekarang mendambakan seorang Petruk for president!
Yudhistira ANM Massardi; Pengamat Pendidikan
0 Response to "Kumpulan Opini Kompas: 2014: Petruk (Harus) Jadi Raja"