Latest News

Kumpulan Opini Kompas: Korupsi Kekuasaan

R William Liddle
                                                                                               
MASYARAKAT Amerika sedang dihebohkan oleh ulah Chris Christie , Gubernur Negara Bagian New Jersey serta pentolan Partai Republik untuk pemilihan presiden AS 2016.

Menjelang pemilihan kembali gubernur tahun kemudian , deputi kepala stafnya menyuruh penyempitan susukan kepada George Washington Bridge , jembatan yang menghubungkan New Jersey dengan New York City. Saya tentu teringat pada masalah Indonesia yang mirip: pemblokiran Bandara Turelelo Soa , Bajawa , Nusa Tenggara Timur , oleh Bupati Ngada Marianus Sae.

Di New Jersey alasan penutupan yang ditengarai yaitu penghukuman Wali Kota Fort Lee , New Jersey , tokoh lokal Partai Demokrat yang tidak bersedia mendukung pemilihan kembali Christie , yang memang dari partai berlawanan. Selama empat hari di pertengahan bulan Agustus , jalan-jalan raya kota Fort Lee yang berdekatan dengan jembatan itu macet total. Kehidupan sehari-hari ratusan ribu orang terganggu , termasuk siswa yang terlambat masuk sekolah serta orang sakit yang tak terbawa ke rumah sakit.

Mengamati perkembangan info ini , saya terkesan oleh tiga hal. Pertama , kerelaan para petugas Port Authority of New York and New Jersey , otoritas yang mengatur jembatan itu , untuk melakukan perintah atasannya. Diwawantriki CNN , pejabat yang pribadi bertanggung jawab mengaku , seraya menundukkan kepalanya , bahwa ia takut dipecat jikalau menanyakan alasan penutupannya. Ketika menonton , saya teringat pada stereotip kelakuan orang Jawa dalam situasi menyerupai itu.

Kedua , dana penelitian seorang dosen di Rutgers , universitas Negara Bagian New Jersey , dicabut sehabis sang dosen , yang kebetulan bertugas sebagai anggota sebuah komisi pemerintah , tidak menuruti kehendak Gubernur Christie di komisi itu. Meski tak berafiliasi pribadi dengan penutupan jembatan , insiden ini betul-betul mengagetkan. Seharusnya para dosen , termasuk di universitas negara bab , terlindungi oleh prinsip kebebasan akademik dari perbuatan sewenang-wenang. Tampaknya sebagian dari masyarakat saya belum bisa menegakkan prinsip sangat fundamental itu.

Ketiga , kiprah utama yang dimainkan pers lokal. Wartawan lokal dari awal meragukan pernyataan resmi dari pejabat otoritas dan kantor gubernur , tetapi pertanyaan mereka ditampik terus. Termasuk oleh Christie sendiri , yang populer arogan dan sering menggertak lawan-lawannya. Akhirnya kegigihan pers diganjar oleh keputusan DPRD , yang dikuasai Partai Demokrat , untuk membuka pemeriksaan mereka sendiri. Untungnya , DPRD New Jersey memiliki kekuatan subpoena , hak untuk memanggil paksa para pejabat.

Terjadi di mana-mana

Pelajaran apa yang bisa kita ambil dari dongeng ini? Sejak awal masa desentralisasi kekuasaan ke kabupaten dan kota , sepuluh tahun kemudian , banyak pengamat dan pejabat mengeluh bahwa masyarakat Indonesia belum siap berdemokrasi di tingkat itu. Peradaban Indonesia yang masih rendah hanya bisa membuat raja-raja kecil , bukan pemimpin demokratis. Menurut pandangan ini , Bupati Ngada hanyalah masalah mutakhir. Lagi pula , demokrasi sebagai sistem pemerintahan normatif menuntut standar kelakuan tinggi , terlalu tinggi buat Indonesia masa kini.

Pendapat saya sendiri bertolak belakang dengan pandangan kritis itu. Dua insiden ini , dan banyak lagi di Amerika dan Indonesia , mengisyaratkan bahwa korupsi kekuasaan yaitu hal yang terjadi di mana-mana , bukan hanya di negara demokratis yang konon kurang maju. Arogansi seorang raja kecil di Indonesia ternyata tidak melebihi keangkuhan seorang gubernur di Amerika.

Pengobatan korupsi kekuasaan juga sama. Dalam kerangka demokratis , setidaknya tiga unsur mutlak dibutuhkan untuk menguranginya sejauh mungkin.  Unsur-unsur itu yaitu pers bebas , separation of powers , pemisahan kekuasaan antara cabang-cabang administrator dan legislatif , serta rule of law , sistem aturan yang besar lengan berkuasa dan mandiri.  Lagi pula , sistem pemerintahan demokrasi perlu dipahami bukan selaku daftar nilai-nilai luhur , melainkan seperangkat forum yang memaksakan pertanggungjawaban para pejabat.

Baik di Ngada maupun New Jersey , semua unsur demokratis itu kelihatan sekali. Setelah kejadiannya terungkap oleh pers bebas , masyarakat yang dirugikan menuntut tanpa ketakutan , dan cabang-cabang pemerintahan yang bertanggung jawab , termasuk perangkat aturan , turun tangan. Hal itu tentu tidak berarti bahwa dua dilema ini sudah teratasi , atau bahwa korupsi kekuasaan bisa dihapuskan di dua negeri kita. Thomas Jefferson benar saat dia berkata , ”Eternal vigilance is the price of liberty (ongkos kemerdekaan yaitu pengawasan sepanjang masa).”

R William Liddle , Profesor Emeritus Ohio State University , Columbus , Ohio , AS

0 Response to "Kumpulan Opini Kompas: Korupsi Kekuasaan"

Total Pageviews