Latest News

Kumpulan Opini Kompas: Pelecehan Seksual Kesadaran Metabahasa

Stanislaus Sandarupa
 
KINI telah hadir ketika ketika benar-benar kita mengambil nasib tindakan kita dan nasib negara kita ke tangan kita sendiri. Hanya suatu bangsa yang cukup berani untuk mengambil nasib ke dalam tangannya sendiri bakal sanggup berdiri dalam kekuatan (Soekarno , 17/8/05).

Sebanyak 33 butir rekomendasi Kongres Bahasa Indonesia 2013 untuk pemerintah (Kompas , 1/11/2013) mengambarkan pemerintah dan politisi belum serius membuatkan bahasa Indonesia.

Semua butir itu , dan sejumlah atrik para hero dalam memanfaatkan bahasa Indonesia untuk pembangunan NKRI , berkaitan dengan kesadaran metabahasa. Namun , dalam mengisi kemerdekaan , telah terjadi pelecehan seksual terhadap kesadaran metabahasa itu sendiri.

Metabahasa Indonesia

Apakah metabahasa? Satu keunikan ilmu bahasa yang tak dimiliki ilmu-ilmu lain ialah kekuatan refleksif.

Dalam ilmu bahasa , bahasa sanggup digunakan membahas dirinya , sedangkan ilmu-ilmu lain tidak. Misalnya , aturan tak sanggup digunakan membahas aturan , kedokteran tak sanggup membahas kedokteran.
Berbeda dari tata bahasa yang selalu dihubungkan dengan alam bawah sadar , kekuatan refleksif bahasa berkaitan alam sadar. Kesadaran metabahasa tampak dalam tiga tingkat berikut.

Pertama , metabahasa ialah bahasa yang digunakan membitrikkan bahasa setrik tersurat. Bahasa yang dibitrikkan ialah bahasa obyek. Misalnya , ”Korupsi ialah kata benda” , ”Bahasa Indonesia digunakan oleh ratusan juta orang”. Ini pernyataan metabahasa , sedangkan bahasa obyeknya ialah kata-kata korupsi danbahasa Indonesia. Metabahasa Indonesia tampak terperinci dalam ejaan yang disempurnakan , tata bahasa , dan kamus Indonesia. Di samping itu , bahasa Indonesia bisa menjadi metabahasa dalam membitrikkan bahasa obyek Inggris , tempat , dan sebaliknya.

Kedua , metabahasa digunakan mengomentari bahasa pada tingkat wacana. Misalnya , pembitrikan ihwal bahasa Indonesia di sepuluh kongres , pemakaian dan sejarahnya , serta ulasan-ulasannya di jurnal , blog , dan koran.

Akhirnya , ketiga , metabahasa setrik tersirat terungkap dalam deiksis , pemakaian bahasa institusional , dan karya-karya sastra. Deiksis ialah kata-kata yang digunakan menunjuk konteks , menyerupai saya , anda , di sini , di situ , kini , dan kemarin. Penetapan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa ihwal bahasa Indonesia sebagai penghela ilmu , dengan bahasa dilihat sebagai fenomena teks-konteks , merupakan kesadaran metabahasa yang didasarkan fakta , penutur terus-menerus memonitor kesesuaian teks-konteks.

Kesadaran metabahasa dimanfaatkan para hero kita. Pemakaiannya setrik institusional merupakan tindakan perlawanan kepada penjajah dan penentu kelahiran NKRI , menyerupai yang kita lihat dalam Sumpah Pemuda dan Proklamasi.

Bersumpah ataupun memproklamasikan termasuk kategori kata kerja ”mengatakan” (verbum dicendi) , menggambarkan pola pemakaian bahasa. Ia menunjuk pada dan menjadi predikat ihwal pemakaian bahasa dalam berbitrik. Keduanya menjadi alat sangat ampuh dalam menyuarakan sesuatu.

Pernyataan metabahasa tersurat dalam Sumpah Pemuda: ”Kami Poetra Poetri Indonesia Mengdjoendjoeng Bahasa Persatoean , Bahasa Indonesia”. Ia merupakan pernyataan kesetiaan dengan tekad melaksanakan sesuatu untuk menguatkan kebenarannya atau berani menderita sesuatu jikalau pernyataan itu tidak benar. Metabahasa di sini menggunakan kata ”mengdjoendjoeng” sebagai atrik yang mengakibatkan ”bahasa Indonesia” sebagai bahasa obyek. Bahasa Indonesia bernilai mulia sebab setrik metaforistis , ia diletakkan di atas kepala.

Akhirnya , kesadaran metabahasa muncul dalam wacana tersirat bahwa bahasa bisa menceraiberaikan masyarakat mengingat Indonesia multibahasa dan multibudaya. Namun , ia juga mengandung kekuatan penyatuan bahasa yang berfungsi sebagai lingua franca di Nusantara.

Kesadaran metabahasa memuncak dalam proklamasi yang tampil dalam tiga teks artefak , yaitu goresan pena tangan Soekarno yang digubah bersama Mohammad Hatta dan Raden Achmad Soebardjo Djojoadisoerjo; teks proklamasi ketikan tokoh cowok Mohamad Ibnu Sayuti Melik yang ditandatangani Soekarno/Hatta; dan teks yang dikumandangkan Soekarno.

Dalam teks goresan pena tangan , kata ”Proklamasi” digarisbawahi dua kali , mengambarkan tingginya kesadaran metabahasa. Apalagi , dalam memproklamasikan digunakan verbum dicendi  ’menyatakan kemerdekaan’. Disadari bahwa kemerdekaan mustahil terjadi tanpa perang dan pengorbanan fisik. Namun , abnormal bin gila , kemerdekaan gres terjadi jikalau diproklamasikan. Tanpa itu tiada kemerdekaan.

Pemerkosaan metabahasa

Momen-momen kesadaran metabahasa di atas merupakan pola berbahasa yang menyejarah. Baik ”bersumpah” maupun ”memproklamasikan” hanya terjadi dalam tempo lebih kurang 50 detik , tetapi kekuatannya mencipta sebuah realitas infinit , yaitu penetapan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan yang kemudian dinyatakan sebagai bahasa negara dalam Undang-Undang Dasar 1945 dan eksistensi Indonesia yang kini kita nikmati. Itulah satu poin penting keteladanan para hero kita penentu nasib NKRI yang terlupakan.

Apa yang terjadi kini? Selain salah eja , tata bahasa , dan campur aduk bahasa Indonesia dengan bahasa  Inggris , ketika ini terjadi pelecehan seksual luar biasa terhadap kesadaran metabahasa. Ruang publik penuh metabahasa korupsi , penyadapan , kekerasan , perselingkuhan , politik uang , kecurangan , pelemahan institusi aturan , dan tipu muslihat.

Jika kesadaran metabahasa para hero menggunakan kekuasaan untuk memberi dengan tindakan moral dan pengorbanan tinggi demi eksistensi NKRI , kesadaran metabahasa politisi ketika ini menggunakan kekuasaan untukmemiliki dengan tindakan amoral dan pemerkayaan diri dan partai demi merongrong NKRI.

Dalam dagelan metabahasa ada pertanyaan: gimana kita ketahui seorang politisi berbohong? Jawabannya: ketika mulutnya komat-kamit berbitrik.

Tak usang lagi Pemilu 2014 dilaksanakan. Akankah kita menentukan pemimpin yang kesadaran metabahasanya digunakan memperebutkan kekuasaan untuk menguras NKRI ataukah pemimpin yang membangun demokrasi untuk kepentingan hak-hak rakyat dan peradaban Indonesia? Mengikuti pikiran Proklamator di awal goresan pena ini , di depan kita ada dua jalan membangun kesadaran metabahasa: pengkhianat atau pahlawan!


Stanislaus Sandarupa , Dosen Antropolinguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin

0 Response to "Kumpulan Opini Kompas: Pelecehan Seksual Kesadaran Metabahasa"

Total Pageviews