Sjamsoe’oed Sadjad
HARIAN Kompas , November 2013 kemudian , memuat penetapan upah minimum kabupaten/kota , dikenal sebagai UMK− , di sejumlah daerah. UMK untuk Surabaya , contohnya , diusulkan Rp 2 ,2 juta , sedangkan di Bali ditetapkanRp 1 ,325 juta. Katakan itu upah sebulan kerja , upah per hari di Surabaya yang diharapkan yaitu Rp 70.000 dan di Bali Rp 40.000.
Kalau batas garis kemiskinan 2 dollar AS per hari atau sekitar Rp 20.000 , UMK di dua kawasan itu telah mengatakan upaya pengentasan orang miskin. Namun , sektor nonformal mungkin belum terjangkau UMK. Katakan upah minimum pekerja di rumah tangga atau pekerja tani.
Dalam penentuan UMK sektor nonformal perlu dipertimbangkan faktor kultural , kemanusiaan , atau risiko alami. Saya mencoba hitung apakah upah bulanan yang dibayarkan kepada pekerja rumah tangga (PRT) sudah mendekati UMK. PRT suami-istri di tempat bekerja bertugas empat hari seminggu atau rata-rata 17 hari sebulan , berarti 55 persen per bulan , sedangkan sehari hanya sekitar tiga jam atau 43 persen per hari. Kedua angka itu jika saya jadikan fungsi hitungan upah pekerja nonformal terhadap upah pekerja formal menjadi 23 ,65 persen.
Kalau UMK segimana saya kemukakan di atas untuk Surabaya dan Bali Rp 70.000 dan Rp 40.000 saya jadikan referensi , UMK yang harus dibayarkan yaitu Rp 16.555 dan Rp 9.460 per hari atau Rp 496.650 dan Rp 283.800 per bulan. Jika upah PRT ini Rp 350.000 sebulan , UMK Surabaya-Bali tidak terlalu erat dengan garis kemiskinan. Apalagi , selain uang bulanan , setiap hari sesudah bekerja , PRT juga membawa pulang nasi dan lauk-pauk. Suami PRT juga membantu mengurusi kebersihan halaman dan kebun dan mendapatkan honor bulanan sama dengan istrinya. Menjelang Idulfitri , suami-istri PRT itu selalu menerima honor ke-13 dan pakaian baru.
Buruh tani
Dari pola upah untuk PRT , saya coba menghitung upah minimum pekerja di pertanian. Saya merujuk data jumlah jam kerja tani padi sawah dari Vademekum Pertanian yang diterbitkan Pusat Jawatan Pertanian Rakyat tahun 1957. Dengan demikian , pengerjaannya masih serba tradisional. Misalnya , membalik tanah dengan tenaga sapi atau kerbau dan panenan yang mengandalkan tenaga perempuan.
Dalam tabloid Sinar Tani , media yang diterbitkan Kementerian Pertanian Edisi 16-22 Oktober 2013 Nomor 3528 , ada rubrik Agriwacana ihwal penghasilan minimum petani. Pekerjaan tani padi sawah banyak variasinya , contohnya jenis tanah , sistem pengairan , pemupukan , pengelolaan , dan jenis padinya. Kesimpulan saya , betapa rumit memilih upah minimum untuk pekerja tani di sawah meski pengupahan tradisional sanggup jadi pegangan.
Kalau petani pemilik lahan tidak bersedia mengolah padi sawahnya , ia kemudian menyerahkan kepada petani lain sebagai penggarap dengan upah separuh hasil. Sementara upah pekerja tani wanita yang memanen seperlima hasil panen. Inilah yang disebut faktor kultural.
Bertolak dari model fungsi persentase jumlah jam kerja sehari dan persentase jumlah hari kerja seminggu , mungkin UMK untuk pekerja nonformal sanggup saya hitung. Menurut catatan buku Vademekum Pertanian , jumlah tenaga kerja untuk pengelolaan padi sawah di Malang , Jawa Timur , yaitu tenaga pria 563 jam dan wanita 1.464 jam.
Kalau tenaga wanita dihargai setengah tenaga pria dalam perhitungan upah , jumlah tenaga pria yang dibutuhkan 563 + ½ x 1.464 = 1.295 dan jumlah tenaga wanita 2 x 563 + 1.464 = 2.590. Misalnya produk beras yang dihasilkan 3 ton dan setengahnya sebagai upah tenaga pria , dengan harga beras Rp 6.000 per kilogram , diperoleh Rp 9 juta. Dengan demikian , upah per jam pria yaitu Rp 6.949 dan tenaga wanita Rp 3.474. Upah ini termasuk upah petani sebagai manajer merangkap pekerja tani , bukan upah pekerja tani saja.
Petani manajer
Saya perhitungkan dari data Vademekum Pertanian ada 27-33 persen tenaga laki-laki. Kalau upah petani sebagai manajer tidak diperhitungkan dan hanya pekerja tani pria yang membantu , UMK pekerja tani pria Rp 2.700.000 dan UMK upah pekerja tani wanita yaitu Rp 1.350.000.
Perbedaannya , pekerja industri formal bekerja saban hari dan mendapatkan honor bulanan , sedangkan pekerja tani nonformal hanya bekerja beberapa hari dalam satu musim. Akibatnya , upah yang diterima petani untuk periode empat bulan sama dengan pekerja industri satu bulan. Dengan kata lain , upah kerja pekerja tani hanya menjamin kehidupan satu bulan. Untuk yang tiga bulan , mereka harus mencari penghasilan yang lain sehingga perlu aktivitas industrialisasi pedesaan.
Tanpa itu , pekerja tani pria dan wanita bakal mengalir ke kota atau ke luar negeri sebagai tenaga kerja Indonesia.
Sjamsoe’oed Sadjad , Guru Besar Emeritus Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor
0 Response to "Kumpulan Opini Kompas: Menghitung Umk Pekerja Nonformal"