Latest News

Kumpulan Opini Kompas: Demografi Politik Pemilu 2014

Ribut Lupiyanto

SETIAP menjelang pemilu , daya tawar rakyat kian menguat. Partai politik dan  calon legislator bakal berpacu demi memikat dan mengikat tunjangan rakyat. Optimalisasi taktik dan pendekatan menjadi kunci semoga kampanye berbuah dingklik di parlemen.

Suara sebagai ukuran kemenangan pemilu sifatnya kuantitatif. Suara profesor nilainya sama dengan petani. Melihat kenyataan ini , ditambah pemberlakuan sistem bunyi terbanyak , sanggup diprediksi siapa yang bisa menerima dingklik  adalah mereka yang memahami huruf rakyat. Caleg  mesti melek kondisi dan peta demografi politik.

Demografi merupakan penggalan studi kependudukan yang mempelajari penduduk terutama mengenai jumlah , struktur , dan perkembangannya (IUSSP , 1982). Kenyataannya , faktor yang memengaruhi huruf dan perkembangan penduduk tak hanya faktor demografi. Yaukey (1990) menyampaikan , variabel demografi bakal sering bekerjasama timbal balik dengan variabel nondemografi. Salah satu relasi tersebut melahirkan demografi politik yang  mempelajari relasi aspek penduduk dan politik.

Setrik garis besar terdapat tiga variabel penting demografi politik. Pertama , jumlah penduduk. Setiap wilayah dengan jumlah penduduk besar tentu memiliki jumlah pemilih yang besar pula.

Kedua , struktur atau komposisi penduduk. Komposisi penduduk bisa diamati dari segi jender , golongan umur , ekonomi , dan pendidikan. Kementerian Dalam Negeri (2012) melaporkan ,  49 ,13 persen penduduk Indonesia yaitu perempuan. Artinya , wanita yaitu konsumen politik potensial. Dari segi golongan umur yang paling potensial yaitu pemilih muda dan pemula. Penduduk berusia 45 tahun ke bawah mencapai 60 persen dari populasi. Penduduk dari segi ekonomi terpilah jadi golongan atas dan menengah ke bawah.

Penduduk miskin , sampai Maret 2013 , tercatat 28 ,07 juta jiwa atau 11 ,37 persen. Penduduk kelas menengah diperkirakan mencapai 55 persen (Bank Dunia , 2012). Selanjutnya dari aspek pendidikan , BPS (2012) melaporkan rata-rata pendidikan penduduk Indonesia yaitu lulusan Sekolah Menengah Pertama atau sederajat.

Ketiga , distribusi penduduk. Distribusi wilayah sanggup dipahami dalam desa-kota. Jumlah penduduk Indonesia yang tinggal di perkotaan mencapai 54 persen (LGFE-UI , 2012). Distribusi sosial sanggup diamati melalui keberadaan komunitas , baik komunitas sosial , ekonomi , budaya , maupun ideologi dan agama.

Peta demografis di atas yaitu obyek politik pada Pemilu 2014. Politik sejati bakal senantiasa memaknai setiap kondisi sebagai peluang. Optimalisasi penangkapan peluang dari peta tersebut butuh taktik pemenangan. Caleg , parpol , dan capres mesti mempertimbangkan demografi politik sebagai basis pemenangan.

Dinamika pemenangan

Dari segi wilayah , pemenangan sanggup dilakukan dengan memfokuskan diri menguasai wilayah padat penduduk. Kantong-kantong penduduk ibarat wilayah urban dan pinggiran kota menjadi lahan rebutan yang tidak bisa terhindari. Pemilu 2009 sudah pertanda , anggota legislatif yang terpilih sebagian besar berasal dari wilayah ini.

Dari segi jender , pemilih wanita menarik dibidik. Pemberlakuan sistem afirmatif mengakibatkan parpol minimal memiliki 30 persen  caleg perempuan. Caleg ini penting didorong fokus menggarap segmen wanita alasannya kedekatan emosionalnya.

Dari segi golongan usia perlu kejelian taktik dan pendekatan khusus kepada pemilih muda dan pemula. Gaya muda , bahasa gaul , kegiatan ringan , dan lainnya sanggup jadi pertimbangan. Matta (2013) menyebut pemilih muda sebagai the new majority dan pemilih pemula sebagai the native democracy. Kedua kelompok ini menanti visi dan kegiatan gres dari setiap akseptor pemilu.

Dari segi kondisi ekonomi dan edukasi , kampanye perlu meyakinkan mereka gimana nanti memperjuangkan kesejahteraannya. Isu pendidikan gratis , kesehatan gratis , lapangan kerja , fasilitas berusaha yang logis dan sederhana dicerna umumnya laris untuk segmen ini. Perlu pendekatan yang sanggup dipahami golongan ini kalau ingin diterima dan dipilih.

Dari segi distribusi , perlu pemetaan informasi yang sempurna serta pendekatan yang sesuai huruf obyek pemilih. Isu desa tentu beda dengan kota , begitu pula huruf penduduknya. Distribusi sosial sanggup dioptimalkan melalui pendekatan komunitas. Komunitas lebih homogen dan hampir sama kebutuhannya sehingga cukup efektif kalau bisa mendekatinya.

Jabaran di atas menyampaikan pasar politik potensial setrik demografis. Parpol dan caleg perlu memahami bahwa rakyat bukanlah konsumen politik semata. Rakyat yaitu tuannya parpol , di mana caleg yang terpilih bakal menjadi wakilnya rakyat. Potensi demografi politik ini semoga benar-benar dimanfaatkan parpol dan caleg dengan semangat dan janji pendidikan politik , sekaligus menjunjung tinggi filosofi kedaulatan rakyat.

Ribut Lupiyanto , Deputi Direktur Center for Public Capacity Acceleration (C-PubliCA) Yogyakarta

0 Response to "Kumpulan Opini Kompas: Demografi Politik Pemilu 2014"

Total Pageviews