Latest News

Kumpulan Opini Kompas: Koneksi Mandela-Soekarno

Yudi Latif

NELSON Mandela terkejut bukan kepalang. Berkunjung ke Gedung Merdeka Bandung pada tahun 1990 , ia tidak menemukan foto Bung Karno. ”Mana foto Soekarno? Semua pemimpin Asia Afrika tiba ke Bandung sebab Soekarno. Di mana gambarnya?” tanya Mandela kepada pejabat Indonesia yang mendampinginya.

Menengok ruang sidang , kenangan masa lalunya kembali membayang. Pada usia 37 tahun , sebagai pejuang kemerdekaan antiapartheid dari The African National Congress (ANC) , ia terinspirasi pidato Presiden Soekarno. Dalam membuka Konferensi Asia Afrika pada 18 April 1955 , Bung Karno mengingatkan:

”Perjuangan melawan kolonialisme berlangsung sudah sangat usang , dan tahukah Tuan-tuan , bahwa hari ini ialah hari ulang tahun yang masyhur dalam usaha itu? Pada tanggal 18 April 1775 , kini sempurna 180 tahun yang kemudian , Paul Revere pada tengah malam mengendarai kuda melalui Distrik New England memberitahukan perihal kedatangan pasukan-pasukan Inggris dan perihal permulaan Perang Kemerdekaan Amerika , perang antikolonial yang untuk pertama kali dalam sejarah mencapai kemenangan.”

Bung Karno lantas menyadarkan kembali usaha dan penderitaan rakyat Asia Afrika. Gedung Merdeka kini ini , berdasarkan dia , tidak hanya diisi pemimpin-pemimpin Asia Afrika yang hidup , tetapi juga oleh semangat dan jiwa ”yang tak sanggup dimatikan , tak sanggup dijinakkan , dan tak sanggup dikalahkan” dari generasi yang kemudian dalam usaha kemerdekaannya.

Akhirnya ia berpesan: ”Dan saya minta kepada Tuan-tuan , janganlah hendaknya melihat kolonialisme dalam bentuk klasiknya saja , ibarat yang kita di Indonesia dan saudara-saudara kita di aneka macam wilayah Asia Afrika mengenalnya. Kolonialisme memiliki juga baju modern , dalam bentuk penguasaan ekonomi , penguasaan intelektual , penguasaan material , dilakukan oleh sekumpulan kecil orang-orang gila yang tinggal di tengah-tengah rakyat.... Di mana , bilamana , dan gimanapun ia muncul , kolonialisme ialah hal jahat yang harus dilenyapkan di muka bumi.”

Semangat Bandung Historical Walks dan api ide dari pidato Bung Karno besar lengan berkuasa besar pada mental juang Mandela. Ia mengenang Bandung , ibarat sebutan Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru , sebagai ”ibu kota Asia dan Afrika”. Lewat Konferensi Asia Afrika , Bandung berperan sebagai ”pusat koneksi” dari negara dan rakyat Asia Afrika dalam menyusun barisan kesetiakawanannya. Bandung juga berfungsi sebagai ”dalang’” dalam kelanjutan proses sejarah kebangkitan bangsa-bangsa yang masih dijajah (Roeslan Abdulgani , 2013).

Semangat Bandung , dengan cepat memompa darah perjuangannya. Mandela menggunakan pidato-pidato Bung Karno sebagai alat perjuangannya dan mengakibatkan Konferensi Asia Afrika sebagai titik tolak pembebasan bangsanya. Melalui ANC , ia melancarkan unjuk rasa , boikot , mogok kerja , dan agresi lainnya. Apa yang dikatakan Bung Karno sebagai jiwa ”yang tak sanggup dimatikan , tak sanggup dijinakkan , dan tak sanggup dikalahkan” itu mengantarkan usaha Mandela sebagai pemenang.

Begitu dalam kesan Mandela terhadap Indonesia. Setelah mendekam 27 tahun di penjara , salah satu daerah pertama yang dikunjungi ialah makam Sheikh Yusuf Al-Makassari di Cape Town , pejuang Indonesia yang memberinya pelajaran perihal ketabahan dan konsistensi perjuangan. Ikatan batinnya dengan Indonesia , ia tandai dengan mengakibatkan batik sebagai pakaian kebesarannya.

Utang budinya terhadap ide Indonesia ia tunjukkan ketika kunjungan Megawati ke Johannesburg pada September 2002. Lazimnya , pemimpin negara lain sebagai tamu yang tiba berkunjung ke kediamannya. Namun , dalam perkara ini , justru Mandela-lah yang menemui Presiden Megawati , putri Bung Karno yang dikaguminya.

Soekarno dan Mandela laksana serpihan jiwa. Bung Karno merintis jalan Asia Afrika dalam memperjuangkan kemerdekaan; sedangkan Mandela merampungkan jalan Asia Afrika dalam memperjuangkan perdamaian. ”Kita barangkali sulit melupakan , tetapi harus sanggup memaafkan!” Kalimat itu dilontarkan Mandela ketika membujuk Miriam Makeba untuk kembali ke Afrika Selatan dari daerah pengasingan. Mandela berpetuah , ”Untuk berdamai dengan musuh , seseorang harus sanggup bekerja sama dengan musuh , dan musuh itu menjadi mitramu.”

Kini , Soekarno dan Mandela telah pergi. Namun , arwahnya masih menitipkan pesan kepada kita , ibarat dalam lirik puisi Chairil Anwar:

Kami sudah coba apa yang saya bisa/Tapi kerja belum selesai... belum sanggup memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa/Kami cuma tulang-tulang berserakan/Tapi ialah kepunyaanmu/Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan/Atau jiwa saya melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan/Atau tidak untuk apa-apa/Kami tidak tahu , saya tidak lagi sanggup berkata/Kaulah kini yang berkata. 

Yudi Latif , Pemikir Kebangsaan dan Kenegaraan

0 Response to "Kumpulan Opini Kompas: Koneksi Mandela-Soekarno"

Total Pageviews