Radhar Panca Dahana
Yang mengisi ruang imajinasi saya hanya figur seorang dewasa bertubuh cukup , yang penuh percaya diri alasannya kemampuannya di banyak hal: dari sekolah sampai olahraga , dari pergaulan sampai kesenian. Remaja itu ibarat berhasil mewujudkan impian ayahnya sebagai anak yang berkelakuan (sila) baik (su) dan sepertinya bakal bisa menyempurnakan impian di keseluruhan namanya , ”ksatria sejati (berperilaku baik” atau well behaved knight alias Susilo Bambang Yudhoyono).
Belakangan ia mengabreviasi namanya sendiri , ibarat pengerdilan sebuah gelar , penciutan makna kepribadiannya sendiri , menjadi SBY.
Kita , ratusan juta rakyat negeri ini , juga jutaan lain di mancanegara tahu , kependekan itu ibarat nama gres yang berbeda latarnya dengan pergantian nama Koesno menjadi Karno , segimana terjadi pada presiden pertama republik ini. Namun kita juga tahu , kedua orang dengan makna ’ksatria’ dalam namanya itu kemudian jadi pimpinan tertinggi dari hampir 240 juta insan yang memiliki lebih dari 13.000 pulau , 600-an suku bangsa , dan 400-an bahasa. Bukan bangsa yang kecil , tentu saja. Bukan prestasi biasa , tentu juga.
Latar imajiner dan prestasi spektakuler (menjadi seorang presiden!) , sekurangnya memberi pemahaman kepada saya , segimana Koesno , Susilo ialah ’orang baik’. Orang yang dididik oleh adat , orangtua , sekolah , maupun lingkungan yang tekun memelihara keluhuran sebuah kebudayaan. Maka , betapa pun ia seorang tentara , ia tetap santun , penuh keramahan , tepo seliro , sensitif , dan—segimana orang Jawa—tetap ”tersembunyi”. Di balik ”persembunyian” itu , ia memproduksi banyak tanda: mulai dari kata-kata , sisiran rambut , trik bersenyum , menggoyangkan tangan , sampai permainan perasaannya.
Sebenarnyalah , SBY—maaf jikalau saya gunakan abreviasi umum ini , bukan untuk maksud mengerdilkan—adalah seorang bintang film tulen , cerdas , dan tangkas dalam memainkan kiprahnya dalam panggung drama yang sesungguhnya. Waktu muda ia memainkan kiprah pula di atas panggung teater. Saya tidak tahu kualitasnya. Namun , segimana kegemarannya dalam menulis lagu dan puisi , saya lihat bakatnya yang mediokratik tak cukup terasah baik. Passion-nya dalam dunia artistik tumbang oleh hasrat besarnya di dunia ksatria.
Bahkan dibanding beberapa kepala negara lain yang cum seniman , ibarat dramawan Vaclav Havel , novelis François Mitterrand , bintang film layar lebar Ronald Reagan , sampai pelukis dan perintis teater modern Indonesia Soekarno , daya artistik SBY terlihat lebih lemah. Barangkali ia bisa digolongkan pada seniman-seniman cum kepala negara semacam Mikhail Gorbachev yang pemain drama , Ho Chi Minh dan Mao Zedong yang penyair atau peniup trompet macam Bill Clinton.
Namun , sungguh terang , latar artistik semacam itu memberinya satu lapisan mental dan spiritual yang teguh. Memberinya kepribadian berpengaruh dalam mempertahankan prinsip-prinsip keluhuran yang diinternalisasinya semenjak kecil. Modal yang sangat manis untuk menjadi seorang jenderal , juga seorang presiden.
”Warisan” SBY itu
Tafsir biografis di atas setidaknya memberi saya modal yang padat untuk memahami presiden ke-9 RI ini bekerjsama ialah orang baik , dengan tujuan baik dan (ingin) melaksanakannya dengan baik. Barangkali ini lebih dari sekadar pencitraan. Betapa pun ia manis sebagai bintang film dalam kiprah presiden—mungkin medioker di atas panggung teater prosenium—”kebaikan” itu tidak sanggup direkayasa. Karena ia ialah aura , segimana kita melihatnya dalam penampilan Soekarno dan Soeharto , dua presiden besar di belakangnya.
Apa pun kontrkelewat / oversi yang terproduksi dari ketiga tokoh sejarah itu , kita mungkin sepakat dari aura yang dimunculkan oleh mimik dan bahasa badan mereka: intinya mereka diisi oleh satu kebudayaan yang memuliakan keluhuran nilai , moral , dan etika. Dan yang satu ini bukan sandiwara , tidak ada naskah maupun sutradaranya.
Saya harus jujur mengungkapkan , beberapa kalangan luar negeri yang menjadi sejawat hampir semua menyatakan respek kepada SBY alasannya setidaknya bisa membuat ”Indonesia” sebagai sebuah nama negara dan bangsa yang tidak hanya diidentifikasi oleh dua nama: Bali dan tsunami. Ia ialah anggota G-20 , inspirator , setidaknya pencetus beberapa inisiatif diplomatik setrik regional ataupun global. Ia ialah seseorang yang berani mengklaim sebagai pemimpin dari ”negara demokratis terbesar ketiga (atau pertama di dunia Islam)” di atas bumi ini.
Dalam soal aturan , korupsi khususnya , dunia mengenal konsistensi pemerintahan SBY menegakkannya tanpa pandang bulu , termasuk para pejabat yang diangkatnya , kolega , bahkan anggota keluarga. Kita pun sulit menemukan bukti valid adanya intervensi pada penegakan aturan di kejahatan luar biasa. Independensi KPK ialah buahnya: ribuan kasus luar biasa terungkap , bukan untuk menunjukan pemerintahnya sangat korup , tapi untuk memperlihatkan gimana penegakan ini bisa membongkar kebusukan dan nanah-nanah dari daging berluka pemerintahan sebelumnya. Seperti nanah ia membengkak dalam konspirasi , sekarang KPK sibuk menusuknya pecah , satu per satu.
Sejarah atau waktu bakal membuktikan apakah semua itu sebuah warisan (legacy) sejati atau bukan. Namun , per 1 Januari tahun yang dikatakan gres ini (2014) , ia melahirkan sebuah kebijakan monumental berupa Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) yang memperlihatkan rasa kondusif seluruh rakyat bakal dilema kesehatan yang dihantui kerakusan tarif dari sejumlah forum pengobatan.
Setrik hemat , mungkin Prof Firmanzah , staf khusus di bidang itu , bisa bitrik dengan argumentasi yang cukup kokoh wacana hasil-hasil yang dianggapnya fenomenal. Setrik politis , Daniel Sparringa—juga staf khusus—bakal bersemangat menjelaskan prestasi-prestasi bos-nya. Barangkali kritik bertaburan , tapi tidak bakal lama—sekurangnya dalam satu periode presiden penggantinya—kita bakal tahu apakah semua itu sebuah peninggalan berharga yang SBY wariskan kepada kita sebagai bangsa. Dan , saya kira tidak perlu kita bitrik wacana tiga kumpulan puisi , dua album musik , dan (konon) naskah drama atau novel yang ditulisnya. Sekurangnya hal-hal terakhir itu menjadi warisan untuk anggota keluarganya.
Absensi fundamen kebudayaan
Apa yang barangkali harus saya nyatakan ialah semacam (per-) ingatan wacana semua klaim ”sukses” di atas. Tidak berbasis pada kepribadiannya , yang katanya , penuh ragu , terlalu kompromis dan terlalu banyak pertimbangan , tidak tough , melodramatik dan sensitif , atau terlalu permisif pada lobi-lobi ajaib dan kapitalis lokal.
Di tahun puncak pesta politik bangsa ini , bakal sangat menjemukan memainkan retorika-kusir semacam itu. Sekarang saatnya mengapresiasi dengan jujur dan jernih , berlandas keluhuran akal dari kebudayaan kita atas kinerja seseorang yang hampir sepuluh tahun menjadi kusir dari pedati Indonesia ini.
Apresiasi yang , oke , kita terima saja dulu semua klaim dari para Staf Khusus Presiden. Namun , barangkali perlu direnungkan kembali , apakah pencapaian-pencapaian itu merupakan sebuah awal langkah dari sebuah visi (kultural) yang jauh lebih jauh? Apakah PDB , pendapatan per kapita , atau nilai bursa yang meningkat 400 persen semenjak SBY mulai memerintah ialah pencapaian yang fundamental? Tidakkah ia ibarat Mar’ie Muhammad , Menteri Keuangan kala Soeharto , yang menyatakan bahwa ”fundamental (sic!) kita kuat” , maksudnya tidak bakal goyah terimbas krisis moneter Thailand dan Korsel ketika itu? Kenyataannya , rupiah ambles sampai Rp 16.000 , 800 persen dari nilai sebelumnya.
Sebenarnya prestasi hemat kita bukan hanya alasannya koefisien GINI-nya meningkat , tapi memang rentan dan ringkih (setidaknya alasannya volatilitas nilai dan kebijakan eksternal) antara lain alasannya dibangun oleh sistem yang tidak memperkuat basis/fundamen ekonomi dalam negerinya. Alih-alih justru fundamen global yang notabene dikendalikan oleh kekuatan modal korporasi global yang besar dananya setara dengan enam kali PDB dunia. Apa yang hendak saya katakan di sini , semua sukses bahkan warisan itu sanggup luntur atau runtuh satu per satu alasannya ia tidak dibangun berdasar sebuah vision , sebuah pandangan hidup (weltanschauung) yang sanggup menerawang probabilitas dan idealitas dari bangsanya sendiri. Kita tidak pernah mendengar itu , kita tak pernah baca itu. Kita hanya mendengar slogan (”aku yakin saya bisa” , dsb) yang tak terang ”untuk apa dan ke mana?”
Hal itu terjadi , setrik ringkas , alasannya kemalasan kita bersama untuk melahirkan sebuah sistem (kemasyarakatan , politik , aturan , ekonomi , pendidikan , dsb) bagi kemaslahatan seluruh rakyat yang berbasis pada khazanah nilai yang konkret (existing values) hidup ratusan , bahkan ribuan tahun untuk memelihara peri kehidupan di seantero kepulauan ini. Kemalasan yang membuat kita hanya selangkah berjalan dan berpikir untuk mengambil buku-buku di rak perpustakaan mencari trik untuk mengatur diri kita sendiri , dari penjelasan-penjelasan para ilmuwan yang umumnya mengaku ”tidak mengenal setrik dalam bangsa yang kompleks ini”.
Absensi dari fundamen nilai atau basis kebudayaan itu membuat perjalanan bangsa ini ibarat mengapung di tanah yang melahirkan dan bakal membenam dirinya nanti. Sebuah kecenderungan (hyper) pragmatis—tentu juga dialami banyak pemimpin dunia lainnya—bakal membuat semua pencapaian menjadi artifisial dan menggamangkan orientasi serta tujuan final perjalanan kita bersama. Karena ia hanya menjadi ambisi untuk pengisian portofolio demi pemilihan berikutnya. Semangat yang merata hampir di seluruh kawasan di negeri ini.
Maka , apabila SBY berkata kepada lawan politiknya (mungkin juga di militer dulu) , Prabowo , bahwa ia ingin lengser dengan rukun dan tenang , itu tidak hanya menggambarkan pragmatisme kabinet dan trik pemerintahannya. Itu memang semangat praja dalam arti tradisionalnya: ”melaksanakan tugas” sebaiknya. Bukan untuk membuat landasan yang kokoh untuk lepas landas bagi generasi berikutnya.
Bukan landasan ideal—yang tidak kompromistis atau permisif berlebihan pada desakan eksternal—bagi sebuah bangsa laut yang tiap hari tidak berhenti bermimpi wacana kejayaan yang dibayangkannya pernah ada di masa lalu.
Yang terakhir itu memang kiprah seorang pemimpin besar. Seorang jenderal besar berbintang lima , seorang presiden legendaris , segimana kita memilikinya pada Soekarno dan Soeharto. Apakah SBY ada dalam jejeran itu , alasannya ternyata mimpinya serupa saja dengan rakyat umumnya , setidaknya dengan biaya yang ia keluarkan untuk riset ”Gunung Padang” , sejarah masa depan bakal memberi tahu kita.
Dalam pandangan saya , kekurangan besar atau warisan negatifnya ialah satu hal: SBY gagal meletakkan setrik mendasar bangunan kebudayaan/peradaban Indonesia ke masa depan , yang bakal membuat semua hasil kerjanya terus berayun dalam pendulum yang antara lain dibentuk oleh 10.000 buku di perpustakaannya.
Karena itu , Tuan Presiden , saya harus mengucapkan ”selamat tahun akhir” , bukan hanya alasannya 2014 ialah tahun terakhir kepercayaan rakyat diberikan kepada Tuan , melainkan juga tahun final di mana waktu tersisa untuk menggenapkan atau memperkokoh ”warisan” di atas dengan menelurkan kebijakan bersejarah: sebuah seni administrasi kebudayaan , yang bakal memberi marka kepada semua pemangku negeri untuk berjalan tegap bersama di setapak yang berjulukan ”masa depan”.
Untuk itu , mungkin awal tahun depan saya bisa menyapa Tuan dengan ucapan penuh senyuman , ”Selamat Tahun Baru , Bung!” Lalu kita baca puisi bersama.
Radhar Panca Dahana , Budayawan
0 Response to "Kumpulan Opini Kompas: Selamat Tahun Akhir| Tuan!"