Bre Redana
Kota kelahiran aku , pernahkah aku benar-benar memperhatikan perubahannya? Ibu meninggal di pengujung tahun 2013. Seiring dikebumikannya jasad Ibu , mendadak aku merasa , dikebumikan pula kota usang yang kini sudah sangat jauh berubah , yang teramati detailnya selama beberapa hari aku pulang dan tinggal di situ.
Peta kota berubah. Dulu , jalan cukup penting yaitu jalan-jalan yang menghubungkan sentra kota dengan desa-desa sekitar. Melalui jalan-jalan itu , orang-orang desa menyuplai kebutuhan kota dengan hasil bumi. Hubungan saya dengan bumi yang menghidupi saya aktual , termanifestasi dalam sosok para penjual sayur-mayur , buah , bunga , yang setiap pagi masuk kota dan meninggalkannya siang atau petang hari. Khusus ternak , ada hari pasar , jatuh pada penanggalan Jawa , Legi. Tanpa melihat kalender , jika tampak orang-orang membawa sapi atau kambing ke kota niscaya itu Legi.
Rasanya saya mengenal seluruh pedagang di pasar. Siapa nama juragan daging , ayam (yang ini anaknya cantik-cantik meski di belakang namanya kemudian ditambah sebutan pitik alias ayam) , beras , dan lain-lain. Juga para pemilik toko kelontong , termasuk yang tidak bisa dilupakan , engkoh yang mengajari saya ngomong jorok. Orang-orang kurang waras yang berkeliaran pun saya akrabi.
Min Kebo , Mbok Nyai , Maryuni. Tanya Roy Marten. Dia kenal mereka semua.
Kota menjadi sesuatu yang personal. Termasuk baunya. Ada wangi bunga wora-wari di pinggir jalan. Kami hafal di sudut mana bakal membaui apa: gabungan kuliner ringan manis kukis , wangi kacang disangrai untuk buah tangan khas berjulukan enting-enting , sedapnya bumbu kuliner di restoran cina , dan lain-lain.
Kini , kota menggelembung tambah besar. Jalanan beraspal menghubungkan sentra kota tidak dengan desa , melainkan dengan kompleks-kompleks perumahan. Di pasar , masih ada satu-dua penjual bunga , di daerah mereka berjualan semenjak puluhan tahun lalu. Hanya saja , yang menonjol yaitu mal. Di supermarket di dalamnya orang bisa mendapati apel , anggur—buah-buah yang niscaya tidak berasal dari desa-desa sekitar.
Ke mana desa-desa saya? Termasuk lokalisasi yang diakrabi para begajul? Semua telah berubah jadi perumahan yang menusuk ke mana-mana. Tak ada lagi wangi bunga wora-wari. Seluruh anyir dan sifat kota yang personal lenyap.
Begitu pula ekspertis-ekspertis lokal ibarat jago bikin betul sepatu , tukang patri peralatan rumah tangga , tukang arloji , dan semacamnya. Mereka tak ada lagi , digantikan oleh bawah umur muda dengan kemampuan seragam: tukang kotak-katik handphone.
Ciri khas modernisasi yaitu lumatnya sesuatu yang personal. Infrastruktur modern mal dan supermarket dibikin untuk mendukung penyemaian kehidupan yang sifatnya individual. Bukan sosiabilitas alias bebrayatan. Itu sejalan dengan meluasnya perangkat teknologi modern ibarat handphone , iPod , dan komputer. Manusia seolah terhubung , padahal nyatanya terpisahkan.
Dalam perkembangan kota dan urbanisme , keterpisahan bukan hanya terjadi antara insan dan insan , tetapi juga antara insan dan alam. Dulu terang sekali kekerabatan saya dengan sumber alam sekitar. Buah-buah yang saya akrabi ibarat langsat , duku , manggis , berasal dari desa-desa yang saya tahu alamatnya. Kini , apel merah itu dari mana? Begitu pula anggur? Kentang dalam freezer itu dari mana?
Ah , orang kini hanya peduli pada aturan ekonomi: di supermarket ada banyak sekali barang. Harganya standar. Kadang lebih murah sebab berasal dari jaringan kapitalisme yang bekerja efisien.
Kami kehilangan sesuatu yang personal dan khas. Termasuk huruf Jalan Sudirman di tengah kota. Karena kuatnya proses sosialisasi di situ , kota saya beberapa kali terhindar dari kerusuhan rasial yang pernah melanda banyak sekali kota di masa lalu. Kami bersama-sama tak peduli apa latar belakang suku dan kepercayaan saya , menjaga satu sama lain , menjaga kota saya.
Akhirat tak butuh KTP. Di pemakaman Argolayu , nisan banyak sekali simbol agama campur baur jadi satu. Di situ pula , aku merasa , ada yang di ambang hilang kini.
0 Response to "Kumpulan Opini Kompas: Kota Lama"