Latest News

Kumpulan Opini Kompas: Presiden Dan Orang Miskin

Adji Suradji

WAJAH semringah para tokoh calon presiden 2014 yang tergambar di halaman pertama harian ini (8/1) membuat hati berbunga-bunga. Namun , saat membaca Tajuk Rencana di halaman berikutnya , ”Jumlah Orang Miskin Bertambah” , kesedihan menyerang.

Apakah presiden Republik Indonesia sekarang—dan yang bakal datang—betul-betul berniat memberantas kemiskinan?

Ada yang perlu dicermati. Guru terbaik mengentaskan dari kemiskinan yakni orang miskin itu sendiri. Artinya , untuk mengentaskan dari kemiskinan tidak bisa dilakukan hanya dari balik beling jendela gedung-gedung glamor dan Istana Presiden.

Kemiskinan tercipta oleh struktur , kebijakan pemerintah , dan sistem dalam masyarakat. Dalam pengentasan dari kemiskinan , yang diharapkan bukan aktivitas ”dahsyat” yang didukung dana atau dianggarkan dari APBN (APBD) , melainkan lingkungan yang bisa melahirkan kreativitas rakyat miskin bisa berkembang.

Di dunia ini pernah lahir pahlawan-pahlawan kemanusiaan , di antaranya Pierre Tritz (Yayasan ERDA , Filipina) , Bunda Teresa (Ordo Missionaries of Charity , India) , dan Muhammad Yunus (Grameen Bank , Banglades). Dengan prinsip kerja tanpa pamrih , mengedepankan pendekatan cinta kasih , dan usaha heroik , mereka ikut mencerdaskan bangsa dan mengentaskan dari kemiskinan—tanpa aktivitas dan anggaran ”sepeser pun” dari pemerintah.

Semua orang miskin di Indonesia , yang tercatat per September 2013 sebanyak 28 ,55 juta orang , selalu memimpikan setiap presiden bakal berusaha meningkatkan kualitas hidup mereka. Kualitas hidup diukur dari tiga kriteria. Pertama , derajat dipenuhinya kebutuhan untuk hidup sebagai makhluk hayati. Kedua , derajat dipenuhinya kebutuhan hidup yang manusiawi. Ketiga , derajat kebebasan untuk menentukan , termasuk kebebasan menentukan agama dan pendidikan.

Miskin bukan pilihan

Juli 2014 dilaksanakan pemilu presiden (pilpres) lagi. Namun , entah , apakah nama orang miskin juga ada dalam daftar pemilih tetap yang amburadul itu?

Kepemimpinan seorang presiden dianggap berhasil apabila ia bisa meninggalkan warisan yang bisa menginspirasi sekaligus menawarkan dorongan energi kasatmata kepada rakyat , terutama rakyat miskin , untuk bisa meningkatkan kehidupan lebih baik. Fenomena ini sekaligus menjelaskan betapa kualitas , dapat dipercaya , dan integritas seorang presiden menjadi yang utama.

Rakyat miskin yakni cermin negara yang paling buruk. Sebab , dalam teori dasar demokrasi , keberhasilan pembangunan ekonomi dan politik diukur dari sejauh mana tingkat kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial tercipta.

Setidaknya ini yang pertama harus diketahui para kandidat presiden. Korelasinya dengan Pilpres Juli 2014 , yang diimpikan orang miskin tampilnya sosok presiden—siapa pun dia—yang bertipologi sebagai pemimpin bangsa. Pemimpin yang memiliki tenggang rasa dan bisa memandang kemiskinan rakyatnya sebagai bentuk ketidakadilan: ekonomi , aturan , kesehatan , dan keamanan.

Tak ada orang yang bercita-cita jadi miskin. Tetapi , yang bercita-cita jadi presiden banyak. Jika capres punya seni administrasi dengan alokasi dana puluhan sampai ratusan miliar demi menaikkan elektabilitas , orang miskin juga punya seni administrasi meski itu sebatas untuk mencari makan , sekadar memenuhi kebutuhan dasar hidup.

Orang tidak dihargai dan dianggap tidak punya harga diri selama hidup terjepit kemiskinan (Muhammad Yunus). Dan , Tuhan tak pernah bertanya apakah orang miskin Indonesia mau mendapatkan hidupnya? Hidup bukan pilihan. Satu-satunya yang bisa dipilih dalam kehidupan yakni gimana menjalaninya (Henry Ward Beecher , 1813-1887).

Kehidupan orang miskin mirip burung. Semoga para capres 2014 lebih berempati kepada orang-orang miskin di Indonesia.

Adji Suradji , Alumnus Fakultas Sains , Universitas Karachi , Pakistan

0 Response to "Kumpulan Opini Kompas: Presiden Dan Orang Miskin"

Total Pageviews