Achmad Fauzi
DALAM hikayat Kerajaan Demak , amukan banteng yang meneror rakyat memunculkan tokoh Jaka Tingkir. Ia menjadi juru selamat , membuat Sultan Demak mengangkatnya menjadi lurah prajurit tamtama , dan akhir-nya menikah dengan putrinya. Jaka Tingkir pun menjadi pemimpin.
Dalam dongeng republik ini , suksesi pemilihan presiden pada 2014 bakal segera berlangsung. Partai politik mulai sibuk mengusung tokoh yang bisa memikat rakyat. Rakyat tentu saja menginginkan tokoh yang terperinci rekam jejaknya dan merintis agresi kasatmata untuk perubahan bangsa. Namun , banyak tokoh karbitan yang serba tiba-tiba: tiba-tiba rajin blusukan menemui rakyat dan seolah peduli kesulitan mereka.
Penetapan kandidat presiden memang besar lengan berkuasa besar pada masa depan partai. Maka , ketidakoptimalan menetapkan calon presiden bisa melahirkan stigma kerja politik yang mandul. Karena itu , kehati-hatian dalam menentukan , penelusuran rekam jejak , dan huruf calon menjadi kata kunci.
Beberapa survei coba dilakukan untuk menilai seberapa besar elektabilitas calon presiden di mata masyarakat pemilih. Namun , masyarakat tetap berharap ada tokoh jelmaan Jaka Tingkir yang punya kekuatan membawa perubahan bangsa ke arah yang lebih baik. Tokoh yang oleh Machiavelli bisa memadukan tabiat singa dan rubah disegani lantaran kekuatannya , tetapi juga sanggup menghadapi tipu kebijaksanaan amis dan kelicikan.
Amukan banteng dalam hikayat di atas bisa hadir dalam banyak wujud di dunia nyata: krisis ekonomi , paceklik kesejahteraan , bahaya disintegrasi bangsa , konflik antar-agama dan etnik , wabah korupsi , dan sebagainya.
Karena itu , masyarakat rindu sosok pemimpin sekelas Mohammad Hatta yang , meskipun Wapres , tidak kemaruk. Kesederhanaan Hatta menghalangi impiannya membeli sepatu kesukaan sampai final hayat. Atau Mahatma Gandhi yang tidak pernah berkooperasi dengan para penilap uang rakyat. Kisah-kisah para tokoh besar lengan berkuasa menyerupai itu dibutuhkan menjadi rujukan dalam mengisi kekosongan nurani dan jati diri pemimpin kita sehingga bisa menempatkan makna kekuasaan sebagai amanah yang harus ditunaikan.
Menuju Pemilu Presiden 2014 , kita memang perlu terus membuka mata batin. Harga diri dan masa depan bangsa jangan mau ditukar dengan seliter beras dan minyak goreng. Barang siapa masih melanggengkan bercokolnya politik uang , berarti ia tega menggadaikan bangsanya pada kekuatan para politisi busuk. Di sinilah menjadi sosok pemilih yang cerdas amat berarti alasannya ialah pemimpin ialah miniatur kualitas kolektif masyarakat. Seburuk apa pun kualitas pemimpin , menyerupai itulah citra kualitas masyarakat yang telah memilihnya.
Ke depan , pemilih harus bisa menjangkau sosok mana yang dianggap paling realistis tujuan politiknya. Tinggalkan kontestan dengan visi , misi , dan ideologi politik yang cenderung normatif-ideal. Yang kita perlukan kini ialah bukti dan garansi kepemimpinan. Masyarakat jangan mau lagi menjadi alat legitimasi permainan politik.
Maka , kepada para kandidat , bekerja ekstra keraslah untuk menarik simpati massa. Menunjuk tim sukses bukan sebagai tukang obat , melainkan untuk menerjemahkan ideologi dan tujuan politik menjadi agresi kasatmata yang menyejahterakan sampai ke masyarakat akar rumput.
Huntington dalam bukunya , Political Order in Changing Societies (1968) , menyampaikan , siapa menguasai pedesaan , menguasai negara. Dalam konteks pilpres , siapa berhasil memobilisasi pedesaan , berarti sukses dalam dua hal sekaligus: menjaring bunyi dan meningkatkan partisipasi politik masyarakat. Tanpa keterlibatan masyarakat kelas bawah , pesta demokrasi menyerupai pohon kehilangan akar.
Kontrak politik
Sejatinya , tidak gampang merebut hati rakyat. Harus ada lakon-lakon yang bisa meyakinkan. Misalnya , membuat kontrak politik yang memuat aktivitas pembangunan Indonesia untuk jangka pendek , menengah , dan panjang. Jika di kemudian hari aktivitas tersebut terbengkalai , ada pernyataan hitam di atas putih wacana kesediaan turun dari jabatan. Hanya dengan trik ini , masyarakat tidak membeli kucing dalam karung.
Merumuskan visi , misi , dan pandangan politik menuju Indonesia berkualitas tidak lepas dari prioritas penegakan pilar-pilar good gkelewat / overnance. Salah satu variabelnya ialah dengan fit and proper test kepada para pemimpin sebagai salah satu bentuk tanggung jawab budbahasa dan politik terhadap masyarakat. Tujuannya , supaya para birokrat sanggup menjalankan roda pemerintahan dengan prinsip akuntabilitas dan transparansi.
Menurut Thomas , editor pada The World Bank Development Report (1993) , good gkelewat / overnance harus dilaksanakan , terutama untuk menghadapi kompetisi ekonomi global yang semakin ketat. Bila good gkelewat / overnance tidak menjadi teladan penyelenggaraan pemerintahan , Indonesia bakal berada pada posisi pinggiran (periphery) dan selalu bergantung pada negara lain.
Memimpin rakyat ialah amanah yang harus dipikul dengan penuh tanggung jawab. Siapa berani memimpin , berarti bersedia menyejahterakan rakyat. Bukan sebalik-nya , malah menyengsarakan hidup rakyat. Mari kita berharap mendapat tokoh jelmaan Jaka Tingkir dalam Pilpres 2014 mendatang.
Achmad Fauzi , Hakim Pratama Muda pada Pengadilan Agama Kotabaru , Kalimantan Selatan
0 Response to "Kumpulan Opini Kompas: Merindukan Pemimpin Merakyat"