J Osdar
MENULIS buku itu perlu pertimbangan masak-masak. Apa yang tertulis itu menembus batasan ruang dan waktu. Apa yang tertulis bakal tetap tertulis. Coba kita baca dua pepatah kuno berbahasa Latin di bawah ini.
Nescit vox missa reverti , arti harfiahnya ’kata yang telah dilontarkan tidak sanggup ditarik kembali’. Kemudian pepatah kedua , vox audita perit , littera scripta manet , ’suara yang terdengar itu hilang , sementara kalimat yang tertulis tetap tinggal’. Kalimat yang tertulis di dalam buku dan dibaca banyak orang di aneka macam daerah bakal selalu diingat dari generasi ke generasi.
Namun , di zaman kini , bukan hanya kalimat yang tertulis di buku saja , kata-kata yang dilontarkan juga sanggup direkam dan ditayangkan berulang-ulang. Maka jangan murka atau geram kalau buku usang kita dikumandangkan lagi. Ini risiko hidup insan yang menulis buku atau bitrik di media massa.
Mari sekali lagi kita baca buku mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum yang terbit tahun 2009 , berjudul Bukan Sekadar Presiden—Daya Gugah SBY sebagai Seorang Pemimpin. Dalam buku ini Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan SBY ialah forum dan sosok yang dipuja Anas.
Kita cuplik beberapa kalimat dalam buku itu. Menurut Anas , SBY tidak merasa gentar sedikit pun oleh tuduhan orang yang menganggap pemerintahnya hanya tebar pesona. Ia hanya menganggapnya sebagai angin lalu. Apalagi , lanjut Anas , dikala ada yang menyampaikan bahwa apa yang dilakukan KPK itu hanyalah tebas pilih semata.
”Kadang saya tidak habis pikir , apa dasar mereka menuduh KPK semacam itu? Apakah alasannya ialah yang terjerat ialah sobat mereka? Apakah yang ditangkap ialah mereka yang dianggap suci? Atau alasannya ialah mungkin hanya ketakutan mereka?”
Begitu tulis Anas di tahun 1999.
Maling
Masih lanjut apa yang dikatakan Anas. Fakta menyampaikan , yang terjerat KPK bukan hanya bekas pejabat. Mereka yang berkuasa pun sanggup diproses setrik aturan kalau benar korupsi. Mereka yang diadili bukan hanya dari partai tertentu. Semua petinggi partai mana pun kalau bersalah bakal diganjar. Mereka yang tertangkap KPK bukan hanya departemen tertentu , institusi apa pun tak bakal kondusif bagi persembunyian maling negara.
Mereka yang diadili tidak hanya orang-orang di luar kubu SBY , tetapi juga orang terdekatnya.
Soal penegakan keadilan , kata Anas , SBY telah menyampaikan kepada rakyat bahwa ia layak diacungi jempol. SBY menyampaikan , begitu tulis Anas , ”Kalau kita ingin higienis , mari bikin higienis diri kita sendiri , dan di atas segalanya , marilah kita membangun good gkelewat / overnance. Pembersihan ini ialah long term process dan harus dilakukan”.
Tentang korupsi ini , salah satu staf khusus presiden , Heru Lelono , dalam bukunya tahun 2008 , Polytikus , Harus Dibasmi , (dengan abjad ”y”) , antara lain menyampaikan ,
”Saya sanggup bayangkan , penyakit korupsi itu , sebelum berjangkit , ternyata sudah menular.”
”Koruptor sebelum menyerang atau melaksanakan perbuatannya niscaya sudah merencanakannya , niscaya sudah menularkan rencananya kepada orang lain , yang bakal menjadi koruptor pula ,” kata Heru di dalam artikel di bawah subjudul ”Penyakit Menular Itu Namanya Korupsi”.
Selamat membaca dengan senyum merenung , tanpa harus murka dan jengkel.
J Osdar , Wartawan Kompas
0 Response to "Kumpulan Opini Kompas: Komisi Pemberantasan Korupsi Dan Sby Dalam Buku Anas Tahun 2009"