Ignas Kleden
Di antara aneka macam catatannya , ada pernyataan yang kiranya menarik perhatian pembaca. Dia menulis: ”Tidak sekali pun saya mendengar ia (Mandela , IK) menyebut Tuhan , nirwana , atau sesuatu yang berafiliasi dengan akhirat. Nelson Mandela percaya bakal keadilan dalam masa hidupnya di dunia ini.”
Catatan itu sanggup menjadikan rasa heran sebab beberapa kebajikan dalam tabiat Mandela segera membawa asosiasi kita kepada kehidupan asketis yang diajarkan dalam agama-agama. Keteguhan hatinya dalam penjara , khususnya 18 tahun dalam sel 2 meter x 2 meter di Robben Island , bekas daerah pembuangan penderita kusta , perilaku tanpa putus harapan dalam usaha amat panjang menentang diskriminasi , ketegarannya menolak kompromi dan gratifikasi , kebesaran hatinya mengatasi dendam dan memaafkan orang yang telah menghukumnya dengan sewenang-wenang—semua itu merupakan kombinasi keyakinan dan kekuatan moral yang membuat seluruh dunia tercengang.
Sebuah diam-diam yang menjelaskan daya tahannya menghadapi penderitaan dan tekanan ialah sebab ia tak pernah menyerahkan kemerdekaannya kepada mereka yang menahannya dalam penjara selama 27 tahun. Ini dilakukannya dengan dua trik. Pertama , ia yakin bahwa pihak yang menjebloskannya ke dalam tahanan sanggup merampas segala sesuatu yang ada pada dirinya , kecuali pikiran dan hatinya.
Musuh-musuhnya tak sanggup merampas pikiran dan hatinya serta Mandela tak pernah menyerahkan pikiran dan hatinya kepada mereka penghukumnya.
Kedua , ia berjuang keras mengatasi rasa benci kepada mereka yang menganiayanya. Dia beropini , kalau tetap membenci lawan-lawan politiknya , ia bakal tetap tertawan sebagai tahanan dalam dendam kesumatnya , sekalipun ia sudah bebas dari penjara. Tentang rasa dendam ini , hasilnya ia berkata , ”I let it go.”
Mandela dilahirkan pada 1918 menjelang simpulan Perang Dunia I di Desa Mvezo , Distrik Umtata , ibu kota Transkei yang terletak 550 mil di selatan Johannesburg. Ayahnya seorang ketua etika yang diangkat Raja Thembu dengan restu Pemerintah Inggris dan punya empat istri. Ibu Mandela ialah istri ketiga yang kemudian pindah ke Desa Qunu sehabis suaminya kehilangan jabatan sebab membangkang kepada Pemerintah Inggris.
Pendidikan formal Mandela dari sekolah dasar hingga ke pendidikan tinggi ia tempuh di forum pendidikan yang didirikan dan dikelola misionaris Gereja Nasrani Metodis dari Inggris. Di Qunu ia masuk sekolah dasar dan berkenalan dengan pendidikan dan pengajaran bergaya Inggris. Para murid menerima nama Inggris dari guru kelas dan Mandela diberi nama Nelson , yang diambil dari nama seorang kapten bahari Inggris , Lord Nelson. Nama ini kemudian lebih dikenal dari nama yang diperolehnya di desa kelahirannya , yaitu Rolihlahla , sebuah idiom bahasa Xhosa yang berarti ’troublemaker’.
Dari Qunu ia dipindahkan ibunya ke Mghekezweni , sebuah sentra misi Gereja Metodis , dengan penduduk yang dididik dengan gaya hidup Inggris dalam berpakaian , tutur kata , dan kehidupan agama. Mandela tinggal di rumah seorang regen , kenalan almarhum ayahnya , yang mengatur daerah tinggalnya sebagai pejabat kelas menengah Afrika dengan disiplin tinggi dalam Great Palace. Mandela meneruskan pendidikan dasarnya bersama bawah umur regen dan di sinilah , khususnya di sekolah Clarkebury , matanya terbuka kepada dunia Barat yang amat berbeda dengan Desa Qunu yang menyimpan masa kecilnya dalam lingkungan serba idylis.
Pada usia 19 tahun , ia masuk Sekolah Guru Healdtown di Fort Beaufort , sebuah pos Inggris paling luar di era ke-19 , daerah orang putih berusaha merebut tanah penduduk dan harus berhadapan dengan pejuang suku Xhosa yang gagah perkasa. Setelah melewati konflik dan pertempuran selama lebih dari 100 tahun , orang-orang putih sanggup merebut seluruh tanah di Fort Beaufort , sementara pejuang Xhosa yang gugur memperoleh kemasyhuran bebuyutan dengan riwayat yang didengar Mandela dari penuturan orang-orang tua.
Selanjutnya pendidikan tinggi setingkat universitas ia peroleh di Kolese Fort Hare , 20 mil sebelah timur Healdtown , satu-satunya pendidikan tinggi untuk penduduk hitam di Afrika Selatan. Dari sinilah , dari antara hanya 150 mahasiswa yang berguru di sana lahir sarjana-sarjana Afrika Selatan dan Afrika Timur , yang menganggap Kolese mereka Oxford dan Cambridge atau Harvard dan Yale di Afrika. Setelah lulus mereka memperoleh gelar BA , yang memungkinkan mereka masuk ke dalam lingkungan elite Afrika dengan kemungkinan kerja dan penghasilan sangat baik. Di forum pendidikan ini yang didirikan misionaris Skotlandia pada 1916 , para pendidik kulit putih yakin , mereka sanggup menghasilkan tamatan yang menjadi the black Englishmen , orang Inggris berkulit hitam.
Menolak diskriminasi
Barangkali itulah harapan umum para penjajah di aneka macam pecahan dunia tatkala mereka memperkenalkan pendidikan Barat modern di koloni mereka. Namun , kita tahu dari sejarah pendidikan kolonial di Indonesia , harapan itu tak selalu terpenuhi sebab pengajaran yang mengarahkan trik berpikir yang benar , dan pendidikan yang membentuk kepribadian yang etis , kemudian menghasilkan lulusan yang melihat kepincangan dan ketakadilan dalam tiap proyek penjajah. Seperti Soekarno , Hatta , Sjahrir , dan Tan Malaka di Indonesia , Nelson Mandela kemudian menetapkan perilaku politiknya: menolak diskriminasi dan apartheid di Afrika Selatan dan menegakkan persamaan dan keadilan untuk semua penduduk.
Sejak pendidikan dasarnya di Qunu , ia diajar bahasa Inggris , kebudayaan , dan pemikiran-pemikiran Inggris , diperkenalkan dengan lembaga-lembaga Inggris , seolah-olah Afrika tak punya sesuatu pun untuk dipelajari. Namun , dari ayahnya ia berguru semenjak dini sekali bahwa otoritas kolonial sanggup melaksanakan kesalahan dan sanggup dilawan meski dengan aneka macam risiko yang harus ditanggung. Di Fort Hare daerah ia berguru antropologi , ilmu politik , manajemen pemerintahan lokal , dan sistem aturan Romawi-Belanda , ia berkenalan dengan beberapa seniornya yang dengan terus terang mengkritik kebijakan kolonial. Dikatakan bahwa pendidikan Barat seolah-olah memberi penghidupan yang lebih baik kepada para lulusannya , sementara itu semua yang berharga dari Afrika telah habis dirampas: hak-hak dan tanah penduduk , kebudayaan dan nilai-nilai lokal , terutama sekali kemerdekaan mereka. Ada kenyataan pahit dan keras yang harus dihadapi dan tak selayaknya kaum intelek-tual menutup mata terhadap realitas itu.
Setelah ia bergabung dengan African National Congress (ANC) , usaha menentang diskiriminasi ini berubah menjadi jadi tujuan hidupnya. Ia mempersembahkan hidup matinya untuk impian itu. Setelah pembantaian besar di Sharpeville pada Maret 1960 tatkala polisi menembak mati 69 penduduk kulit gelap , Mandela , yang banyak diilhami Gandhi dengan prinsip satyagrahanya , berubah pikiran. Dia melihat satyagraha atau perilaku tanpa kekerasan bukanlah prinsip , melainkan suatu taktik. Dia teringat kearifan lokal sukunya , Sebatana ha se bokwe ka diatla: serangan hewan buas tak sanggup dihadapi dengan tangan kosong. Dia hasilnya membentuk dan memimpin Spear of the Nation , sayap bersenjata dalam ANC.
Dengan tuduhan melaksanakan persekutuan bersenjata , ia harus menghadapi pengadilan. Setelah membacakan pleidoinya selama empat jam , Mandela menutup naskah pembelaannya dan berkata kepada hakim: ”Saya telah mempersembahkan seluruh hidup saya kepada usaha bangsa Afrika. Saya telah menjunjung tinggi ideal suatu masyarakat demokratis yang bebas , daerah semua orang hidup tenang dan memiliki kesempatan yang sama. Maka , bila perlu , Yang Mulia , saya pun siap mati untuk ideal tersebut.”
Seperti pernyataan iman
Pidato itu terdengar ibarat pernyataan iman yang menandai perubahan besar dalam penjara. Yang ia ucapkan bukanlah isapan jempol untuk gagah-gagahan ibarat yang kerap kita dengar dari politisi Indo-nesia kini , tapi suatu sumpah yang diwujudkan dengan aneka macam korban tak terperikan: 9 tahun dalam penjara Pretoria , 18 tahun dalam penjara Robben Island , kehilangan istri dan anak , kehilangan tahun-tahun paling produktif dalam hidupnya , sambil mengelola rasa benci dan dendam hingga sanggup mengatasinya. Pendirian politik Mandela berangsur-angsur berubah menjadi suatu keyakinan religius dalam pertapaannya di sel penjara.
Para penulis biografinya tak habis pikir: dari mana Mandela menimba kekuatan tak mengalah , tak memagarkan diri hancur oleh benci dan dendam , dan sanggup mengatasi kegetiran nasibnya dengan memaafkan mereka yang menghukumnya demikian lama? Hal ini biasanya terjadi pada orang-orang yang hidup dengan keyakinan agama yang teguh dan tak tergoyahkan.
Namun , Mandela tak dikenal sebagai anggota suatu denominasi meski seluruh pendidikannya berada di bawah bimbingan dan dampak Gereja Nasrani Metodis. Sebagai anggota suku Xhosa , ia hidup sedari kecil dibimbing tiga hal: adat-istiadat , ritual , dan tabu. Bayangan dan keinginannya sehabis mati bukan nirwana dalam pengertian agama , melainkan perjumpaan kembali dengan para leluhurnya.
Sangat mungkin prinsip hidup suku Xhosa itulah yang ia terjemahkan menjadi prinsip negara modern: persamaan dan keadilan ialah adat-istiadat manusia; demokrasi ialah ritual yang suci; sementara pelanggaran HAM tabu yang tak boleh diabaikan apabila orang tak mau mengundang tiba kutukan. Atas trik ini Mandela sengaja atau tidak telah mengubah pendirian politiknya menjadi keyakinan religius. Kemerdekaan politik Afrika Selatan meluas menjadi impian keselamatan bagi semua manusia.
Bagi seluruh dunia , ini jadi pelajaran: orang tak sepantasnya menggunakan agama untuk tujuan politik mudah atau doyan mengutip ayat suci untuk menyembunyikan kebobrokan moral politiknya. Religiositas ala Mandela telah mengakibatkan ia sanggup memerintah bukan dengan kekuasaan yang berasal dari jabatan formal , tetapi dengan suatu otoritas moral yang lahir dari religiositas mendalam. Kepada Bartholomaeus Grill , wartawan majalah Jerman Der Spiegel , ia berkata , ”Saya makin mendekati simpulan hidupku. Saya ingin tidur selama-lamanya dengan sebuah senyum di wajahku.”
Sekarang ini sehabis wafat pada 5 Desember 2013 , Mandela tidur selama-lamanya di desa kelahirannya , Mvezo yang amat terpencil , dan dari daerah leluhurnya ia mungkin memberi senyum abadi pada semua orang di bumi yang ia cintai , mitra ataupun lawan.
Ignas Kleden , Ketua Badan Pengurus Komunitas Indonesia untuk Demokrasi
0 Response to "Kumpulan Opini Kompas: Mandela Dan Religiositas"