Ignatius Haryanto
Media ialah alat yang memungkinkan kita mengetahui perkembangan yang ada. Dan dengan peliputan yang intensif , kita mengetahui perkembangan peristiwa tersebut dari menit ke menit , jam per jam. Di antara sejumlah liputan tersebut , terkadang kita masih melihat gimana media kadang-kadang terasa kurang pas dalam peliputan terhadap peristiwa ibarat ini.
Kita melihat , contohnya , di Jakarta seorang reporter televisi mencemplungkan dirinya ke daerah banjir dan memperlihatkan laporan langsung. Pertanyaannya: apakah melaporkan tersebut perlu hingga hingga nyemplung di lokasi banjir tersebut? Lalu kita pun mendengar beberapa reporter punya pertanyaan yang agak seragam: ”Sudah sanggup derma , Pak/Bu?”
Meliput kejadian peristiwa tetap harus dengan memelihara kehati-hatian. Masih ingat kejadian kecelakaan yang dialami dua kamerawan SCTV dan wartawan Lativi serta dua orang dari Puslabfor ketika meliput bangkai kapal Levina I pada 25 Februari 2007? Tugas wartawan ialah untuk meliput , bukan diliput (karna wartawan celaka , atau meninggal , wartawan malah menjadi materi liputan lain). Pengambilan posisi gambar oleh reporter televisi harus tetap memperhatikan hal ini.
Sensitivitas wartawan atau media terhadap para korban atau mereka yang selamat ialah hal yang perlu sangat diperhatikan. Ahmad Arif—penulis buku Jurnalisme Bencana , Bencana Jurnalisme (2010)—pernah membahas hal ini. Ia memperlihatkan ilustrasi , contohnya: Mereka yang jadi korban peristiwa atau mereka yang menjadi pengungsi pun merasa gerah dengan banyak pihak tiba untuk bertanya , tetapi hidup mereka yang tinggal di tenda pengungsian tak berubah juga.
Jebakan dalam liputan berita
Wartawan perlu untuk memahami ketidakpuasan atau keputusasaan semacam ini. Wartawan dalam menjalankan kiprah untuk mendapatkan informasi terkadang perlu menarik diri sedikit dan membayangkan diri dalam posisi mereka sehingga mereka tak merasa diobyekkan semata.
Pertanyaan reporter bakal mencerminkan gimana integritas wartawan dan medianya terkait problem ini. Kaprikornus , pertanyaan ”Apakah Bapak/Ibu sudah sanggup bantuan” seakan-bakal mau memperlihatkan bahwa para korban ini harus mengemis minta bantuan. Pertanyaan bakal lebih sempurna jika menanyakan setrik umum saja gimana mereka mendapatkan masakan dan minuman setiap harinya.
Jebakan terbesar media pada masa kini ialah persaingan untuk menjadi yang tercepat dalam memberikan informasi (bukan bersaing menjadi yang paling akurat; dengan sedikit mengabaikan soal kecepatan). Di sini surat kabar bakal berhadapan dengan televisi , radio , media daring , dan lain-lain. Perlu dirumuskan posisi redaksional yang lebih ampuh menghadapi soal ini: keakuratan harus didahulukan ketimbang kecepatan. Namun , pada ketika kecepatan dikorbankan , media juga memperlihatkan kedalaman , perspektif yang lebih luas , serta juga memperlihatkan makna atas fenomena yang terjadi tersebut.
Pada ketika banjir di Jakarta sedang dalam situasi menegangkan , naik-turunnya debit air menjadi hal pokok yang diangkat oleh media. Akan tetapi , sedikit media yang kemudian memperlihatkan suatu perbandingan terhadap kondisi serupa yang terjadi tahun lalu. Pemberitaan media terkadang seolah meneror masyarakat dengan angka-angka yang setrik kumulatif terdengar terus menaik , tetapi tak diberikan konteks bahwa kondisi ini tak separah tahun kemudian , contohnya. Grafik bakal sangat menolong untuk melaksanakan perbandingan tersebut.
Bagaimana media bersikap?
Banyak media terlihat masih gagap memahami bahwa Indonesia ialah negeri penuh gunung api serta potensi peristiwa lain di tengah perubahan iklim dunia yang tengah terjadi ini. Oleh alasannya ialah itu , ada baiknya setiap media memiliki sejumlah wartawan yang siap diterjunkan untuk peliputan peristiwa ini dengan mengikuti sejumlah pembinaan yang dilakukan beberapa pihak. Di lain pihak , dengan mempelajari lebih jauh huruf peristiwa yang terjadi dari waktu ke waktu , media pun sanggup menghadirkan pemberitaan yang lebih bermakna kepada masyarakat.
Sebagai perbandingan , kita sanggup melihat gimana televisi NHK di Jepang meliput kejadian gempa di Jepang tahun 2011. Silakan cari di Youtube , dan Anda tak bakal melihat gimana NHK menggambarkan jenazah bergelimpangan , atau air mata kesedihan yang diperas hingga habis. Tak ada detail (atau teknik kamera close up) atas kesedihan. Peristiwa gempa dan tsunami setelahnya digambarkan dengan teknik kamera long shoot.
Mereka yang menonton bakal mencicipi kengerian atas fenomena alam tersebut , tapi NHK tak mengeksploitasi kesedihan para korban. NHK amat sadar dengan posisinya sebagai forum penyiaran publik dan menentukan untuk tidak menyiarkan gambar-gambar dramatis. Nilai di balik ini ialah gimana orang Jepang dan NHK mendapatkan kejadian alam ini sebagai bab dari fenomena yang tak terhindarkan.
Namun , sebagai bangsa , mereka ingin tetap tegar , ingin bangun , tak mau mengemis-ngemis derma , penuh kebersamaan untuk bangun dan menapaki hidup baru. Sikap dan integritas ibarat ini yang penting dimiliki media (juga bangsa kita).
Media juga perlu menggunakan pendekatan peace journalism , juga pendekatan jurnalisme empati. Jurnalisme tenggang rasa digambarkan oleh Ashadi Siregar sebagai ”seorang jurnalis berusaha memasuki kehidupan subyek , dengan perilaku etis semoga tidak melaksanakan penetrasi yang hingga mengganggu kehidupan subyek”.
Media juga sanggup memperlihatkan kerja pemerintah dalam penanggulangan peristiwa , juga pelbagai inisiatif masyarakat menolong sesama. Hal ini penting untuk menumbuhkan adanya keinginan di balik kejadian dahsyat peristiwa tersebut. Dengan media yang lebih sensitif , memberi makna di balik kejadian , publik pun bakal menerima manfaat dari suatu peliputan yang lebih bermutu , lebih elegan , dan memberi nilai dalam memaknai di balik kejadian tersebut.
Ignatius Haryanto , Peneliti Media di LSPP; Pengajar Jurnalistik
0 Response to "Kumpulan Opini Kompas: Media Meliput Tragedi"