Latest News

Kumpulan Opini Kompas: Konsolidasi Perjuangan Tani

Udi H Pungut

Sensus Pertanian 2013 mengirim kabar penting wacana rasionalisasi perjuangan tani. Selama 10 tahun terakhir telah terjadi pengurangan 5 ,1 juta rumah tangga pertanian. Pengurangan terjadi pada jumlah petani tunalahan (buruh tani) dan petani berlahan sempit (petani gurem). Buruh tani dan petani gurem itu—terpaksa atau sukarela—telah beralih ke sektor lain , meninggalkan sektor pertanian.

Kabar menarik lain dari Sensus Pertanian 2013 yaitu adanya petani gurem yang ”naik kelas” , menggarap lahan lebih luas. Hal ini ditunjukkan oleh peningkatan jumlah petani dengan penguasaan lahan lebih dari setengah hektar. Selain itu , kita jadi makin yakin betapa penting pertanian padi bagi petani. Jumlah rumah tangga yang mengusahakan pertanian padi relatif tidak berubah. Sementara itu , perjuangan pertanian lain , ibarat menangkap ikan , beternak , dan menanam hortikultura , semakin ditinggalkan.

Penurunan tugas sektor pertanian dalam penciptaan nilai tambah dan absorpsi tenaga kerja yaitu proses lumrah dalam perekonomian yang berkembang. Karena itu , kabar di atas sebetulnya tak terlalu mengejutkan. Tidak perlu membuat kita terlalu khawatir atau berbesar hati. Yang membuat kita sedikit miris: pergeseran komposisi pekerja yang diperoleh dari survei angkatan kerja nasional.

Limpahan pekerja dari sektor pertanian idealnya terserap sektor industri. Sayangnya , peningkatan tugas sektor industri relatif kecil , hanya menyerap sebagian kecil pekerja baru. Kenaikan pesat terjadi pada tugas sektor jasa , terutama perdagangan dan jasa perorangan. Pekerja yang keluar dari sektor pertanian , boleh jadi , masuk ke sektor tersebut.

Pergeseran pekerja dari sektor pertanian ke sektor jasa memang bukan tumpuan normal dalam perubahan struktur ekonomi. Meski demikian , perubahan dari buruh tani atau petani gurem menjadi buruh atau pengusaha jasa informal tidak selalu berarti menjadi lebih buruk. Informasi yang tersedia kelihatannya tidak cukup untuk mengambarkan terjadinya proses pemiskinan pada mantan petani.

Skala perjuangan tani

Penurunan jumlah rumah tangga petani yaitu jawaban eksklusif dari proses konsolidasi untuk mencapai skala perjuangan tani yang ekonomis. Peningkatan rata-rata penguasaan lahan oleh rumah tangga petani mengambarkan adanya proses konsolidasi tersebut. Rata-rata penguasaan lahan sawah , contohnya , naik dua kali lipat. Rata-rata penguasaan lahan pertanian bukan sawah juga naik dengan tingkat kenaikan lebih tinggi. Rata-rata skala perjuangan tani semakin membesar.

Rumah tangga petani sepertinya makin fokus pada perjuangan pertanian. Pada tiap rumah tangga petani , jumlah anggota rumah tangga (ART) yang terlibat pada perjuangan pertanian makin bertambah. Keterlibatan ART petani pada aktivitas perjuangan nonpertanian berkurang. Rumah tangga petani jadi semakin bergantung pada perjuangan tani. Kegagalan perjuangan tani makin berdampak besar pada penurunan pendapatan petani.

Hasil sensus itu kian menegaskan pentingnya industrialisasi di pedesaan. Idealnya , aktivitas industri sanggup memberi suplemen nilai pada komoditas pertanian dan menyerap limpahan pekerja dari sektor pertanian. Agar industri sanggup tumbuh , tugas pemerintah tentu tidak cukup hanya menyediakan infrastruktur fisik. Kapasitas dan kualitas petani perlu diubahsuaikan dengan aktivitas ekonomi yang berubah.

Perlindungan bagi petani semakin diperlukan: bukan hanya dari efek volatilitas harga komoditas pertanian , melainkan juga dari risiko gagal panen. Soal sumbangan petani memang belum banyak menerima perhatian. Namun , sumbangan bukan berarti mengalihkan semua risiko kegagalan kepada pihak lain , termasuk pemerintah. Pemerintah perlu menyediakan sketsa sumbangan berbiaya rendah dan mendorong petani untuk mengelola risiko berbasis pasar.

Udi H Pungut , Peneliti pada Indonesia Research and Strategic Analysis

0 Response to "Kumpulan Opini Kompas: Konsolidasi Perjuangan Tani"

Total Pageviews