Latest News

Kumpulan Opini Kompas: Konvensi Belum Mendongkrak Demokrat

Bambang Setiawan

PARTAI Demokrat , sementara ini , tak lagi menjadi partai yang terkenal untuk dipilih ibarat pada Pemilu 2009. Konvensi pun belum bisa menahan laju kemerosotan. Mengapa?

Suara Partai Demokrat diperkirakan turun cukup jauh dibandingkan dengan pada Pemilu 2009. Pada pemilu sebelumnya itu , Demokrat tercatat sebagai partai fenomenal. Suaranya terus melesat , dari partai papan menengah yang meraih 7 ,45 persen pada Pemilu 2004 kemudian menduduki posisi puncak perolehan bunyi dengan 20 ,85 persen proteksi pada Pemilu 2009.

Kepercayaan masyarakat yang sangat tinggi terhadap ketokohan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjadi kunci kesuksesan partai penguasa itu meraih proteksi luas dalam pemilu.

Akan tetapi , empat bulan menjelang Pemilu 2014 , Partai Demokrat diprediksi menjadi sebuah partai yang mengalami kemerosotan tajam. Hasil survei Litbang Kompas , yang dilaksanakan enam bulan sekali , memperlihatkan , Demokrat tak bakal bertahan sebagai partai papan atas. Angka psikologis di atas 10 persen sepertinya makin jauh dari harapan.

Hasil survei terkini memperlihatkan , Demokrat hanya meraih 7 ,2 persen bunyi , menyamai posisi awal peran partai ini , kembali ke pusaran partai papan menengah. Tren suaranya pun cenderung turun. Survei setahun sebelumnya tercatat 11 ,1 persen dan enam bulan kemudian menjadi 10 ,1 persen. Tren ini , kalau konsisten terus turun , bakal melesakkan posisi partai ini makin jauh ke bawah pada ketika pemilu nanti.

Gonjang-ganjing partai , sesudah sejumlah kadernya terjerat kasus korupsi dan ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) , besar lengan berkuasa besar terhadap penurunan bunyi Demokrat. Bahkan , kini Demokrat menjadi partai yang paling tidak diinginkan untuk menang. Suara yang tidak menginginkan Demokrat menang kini 17 persen. Sementara yang menginginkan Demokrat menang hanya separuhnya , sekitar 8 persen.

Resistansi juga tak beranjak turun dibandingkan dengan hasil survei sebelumnya , bahkan memperlihatkan tanda-tanda menguat. Pada survei setahun kemudian masih 12 ,2 persen , kemudian menjadi 16 ,1 persen pada enam bulan lalu. Derajat penolakan yang membesar sepertinya telah menjepit partai ini dari segala upaya , termasuk perjuangan perbaikan lewat konvensi calon presiden.

Konvensi partai

Konvensi Partai Demokrat , yang mulai memperkenalkan 11 kandidat semenjak September kemudian , belum memiliki daya tarik yang signifikan untuk menopang kemerosotan suara. Cara yang ibarat dilakukan Partai Golkar pada Pemilu 2004 itu tak membuat Demokrat bisa membangkitkan harapan baru.

Ada sejumlah hal yang membuat konvensi partai berlambang segitiga berlian tersebut tidak bisa menggerus resistansi masyarakat. Hal pertama yaitu popularitas yang rendah dari tokoh-tokoh yang diikutkan dalam konvensi.

Dari 11 nama kandidat , hanya Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan yang cukup dikenal publik , itu pun tidak terlalu menonjol. Hanya 59 ,1 persen masyarakat yang mengenalnya.

Adapun tingkat pengenalan calon-calon lain berada di bawah 50 persen , malahan ada yang hanya 12 ,8 persen. Dengan tingkat pengenalan yang rata-rata rendah , sulit membuat konvensi Partai Demokrat menarik perhatian untuk ditonton sebagai pergelaran demokrasi.

Hal kedua yaitu kualitas kepemimpinan akseptor konvensi yang dinilai belum mencukupi untuk menjadi calon presiden. Bahkan , pada mereka yang mengenalnya , kualitas tokoh-tokoh yang disajikan hanya dinilai mendekati rata-rata , yakni skor 5 ,5. Tertinggi yaitu Dahlan Iskan dengan rata-rata skor 6 ,39.

Penilaian yang cukup rendah terhadap kualitas kepemimpinan mereka membuat konvensi kurang gereget. Terlebih , di luar akseptor konvensi beredar sejumlah nama yang ketokohannya dinilai lebih berkualitas oleh publik , dan menarik minat untuk diikuti perkembangannya.

Sulit bagi mereka untuk mengejar popularitas nama-nama ibarat Joko Widodo (Jokowi) , Prabowo Subianto , Jusuf Kalla , dan Megawati Soekarnoputri.
Apakah tahap debat kandidat antar-peserta konvensi yang mulai dilaksanakan awal Januari ini bakal besar lengan berkuasa terhadap kekuatan Partai Demokrat pada hari-hari ke depan , sangat tergantung dari situasi politik setrik keseluruhan.

Namun , menyelidiki karakteristik pemilih Demokrat yang ketika ini tersisa , kecil kemungkinan bakal melahirkan sebuah gerakan moral untuk kembali mendukung partai ini.

Partai Demokrat sudah ditinggalkan pemilih yang progresif. Berdasarkan hasil analisis psikografis pemilih , yang tersisa pada simpatisan Demokrat lebih didominasi oleh pemilih dengan abjad konservatif (66 ,7 persen).

Mereka cenderung menginginkan status quo , atau mempertahankan nilai-nilai , keadaan , dan kondisi yang sudah ada , daripada mendapatkan perubahan. Mereka tak tertarik kepada partai gres dan menentukan pemimpin yang sudah pernah menjabat.

Yang cukup fatal dari abjad mereka yaitu tidak menyukai pemimpin yang mengatakan inspirasi baru. Meskipun menentukan Demokrat , mereka belum tentu setia mengikuti program konvensi yang mempertontonkan ide-ide baru.

Demokrat ketika ini juga didukung kalangan yang memiliki kepentingan yang lebih pragmatis daripada idealis. Sebanyak 69 ,3 persen dari pemilih Demokrat mendukung partai ini alasannya didasarkan pada perhitungan untung-rugi. Janji atau pemberian yang pribadi bermanfaat bagi kepentingan mereka menjadi daya tarik utama.

Kurang loyal

Idealisme yang coba dibangun sebagai partai yang demokratis sepertinya kini menemui jalan terjal. Partai Demokrat kurang dipandang sebagai sebuah entitas organ politik , daerah orang menggapai keinginan berbangsa , tetapi sebagai kelompok yang sanggup memberi manfaat seketika.

Mereka menentukan partai ini lebih alasannya hubungan dengan calon daripada keterikatan ideologis kepada forum , segimana dinyatakan 84 ,2 persen responden pemilih Demokrat.

Sikap kurang loyal juga ditunjukkan 62 ,7 persen pemilih partai tersebut. Mereka cenderung tidak bakal mengajak orang lain untuk menentukan partai pilihan mereka dan tidak melaksanakan pembelaan ketika partainya dipermalukan.

Dalam ranah kepribadian pemilih yang demikian , masyarakat luas juga kini makin ragu , apakah Partai Demokrat lebih cenderung sebagai partai yang demokratis ataukah paternalistis. Pendapat ini terbelah sama kuatnya.

Lewat konvensi seharusnya Demokrat menyajikan pertunjukan demokrasi. Namun , kuatnya efek forum dewan pembina membuat partai ini diragukan bakal menghasilkan sebuah keputusan demokratis.

Bergerak dalam ruang paternalistis , jangan hingga konvensi sekadar menjadi tarian demokrasi.

Bambang Setiawan ,  Litbang Kompas

0 Response to "Kumpulan Opini Kompas: Konvensi Belum Mendongkrak Demokrat"

Total Pageviews