Latest News

Kumpulan Opini Kompas: Simpulan Sejarah Ikhwanul Muslimin

Zuhairi Misrawi

AKHIRNYA , Pemerintah Mesir menetapkan Ikhwanul Muslimin sebagai organisasi teroris (25/12/2013). Keputusan tersebut diambil sehari sehabis agresi bom bunuh diri di Provinsi Mansoura , yang menewaskan 16 orang dan melukai 130 orang.

Dalam rilis resmi yang dikeluarkan oleh Pemerintah Mesir , setidaknya ada tiga alasan utama di balik keputusan menggemparkan tersebut. Pertama , IM dianggap telah menempuh trik-trik kekerasan dalam mencapai ambisi dan tujuan politiknya. Langkah tersebut diambil alasannya IM menolak pelengseran atas Presiden Muhammad Mursi , yang terpilih setrik demokratis pascarevolusi.

Hampir setiap hari mereka mengerahkan massa dalam jumlah yang relatif besar dengan tujuan membuat instabilitas politik. Setelah pimpinan elite IM ditangkap dan dipenjara , mereka sekarang mengerahkan kaum muda untuk menghentikan dan mengacaukan atrik perkuliahan di sejumlah akademi tinggi , antara lain Universitas Al Azhar , Universitas Kairo , dan Universitas Mansoura. Akibatnya , atrik perkuliahan dan ujian semester tertunda. Puncaknya , sejumlah agresi bom bunuh diri di Sinai , Nasr City , dan Mansouraditengarai sebagai ulah kelompok yang berhubungan kepada IM.

Kedua , IM dianggap sebagai pemain drama di balik pembakaran dan perusakan terhadap sejumlah gereja di seantero Mesir. Lebih kurang 42 gereja dirusak semenjak jatuhnya Mursi. Menurut Rifat Saeed , apa yang dilakukan IM sanggup dikonfirmasi alasannya ajaran keagamaan yang dikeluarkan oleh IM sama sekali tidak erat pada gereja (www.almasryalyoum.com , 20/12/2013).

Setelah berkuasa pascarevolusi , IM sesungguhnya telah memulai langkah besar ketika mengeluarkan keputusan penting untuk menghadiri perayaan Natal di gereja. Bahkan , mereka menampung para penggagas politik dari kalangan Koptik untuk masuk dalam kepengurusan Partai Kebebasan dan Keadilan. Namun , langkah tersebut tercemari kembali pasca-jatuhnya Mursi alasannya mereka mengakibatkan gereja sebagai target utama untuk melampiaskan kemarahan.

Ketiga , IM dianggap dengan sengaja mengganggu peta jalan (kharithat al-thariq) yang digariskan oleh pemerintahan gres yang telah berhasil menuntaskan penyusunan konstitusi serta bakal menyelenggarakan referendum dan pemilu. IM telah menggunakan segala trik untuk menghentikan peta jalan tersebut. Langkah tersebut dipandang pemerintah sebagai rintangan dalam upaya membangun negara demokratis , adil , dan menjunjung tinggi hak asasi manusia.

Setrik de jure , keputusan Pemerintah Mesir dengan menetapkan IM sebagai organisasi teroris memiliki dampak serius. Karena setrik aturan , IM bakal mendapat hukuman yang sangat berat segimana tertera Pasal 88 kitab undang-undang hukum pidana Mesir.

Mereka yang tercatat , terlibat , dan mendanai organisasi IM bakal dipenjara sedikitnya lima tahun. Polisi dan militer mendapat mandat untuk melaksanakan pengamanan dari sejumlah agresi penggagas IM. Begitu pula , sejumlah penggagas IM yang eksodus ke beberapa negara Arab sanggup diberikan hukuman menurut janji yang ditandatangani para pemimpin Arab pada tahun 1998.

Versus negara

Apa yang menimpa IM ketika ini sesungguhnya hanya pengulangan dari episode kelam di masa lalu. Sejarah menandakan bahwa perlawanan IM terhadap pemerintah selalu berakhir dengan pembubaran. Pada tahun 1940-an , IM melalui sayap khusus (tandzim khas) yang dikenal kerap menggunakan kekerasan telah melaksanakan agresi pembunuhan terhadap Perdana Menteri Fahmi Naqrasyi , Hakim Agung Khazandar , dan merusak sejumlah kemudahan umum milik pemerintah. Hal ini mengakibatkan pemerintah melaksanakan larangan setrik resmi terhadap IM.

Pada tahun 1950-an , Gamal Abd Nasser juga melaksanakan pembubaran alasannya IM dianggap telah berusaha melaksanakan upaya pembunuhan terhadap Nasser. Pada tahun 1960-an , Sayyed Qutb ditangkap dan kesudahannya dieksekusi gantung alasannya melancarkan sejumlah rencana besar untuk melaksanakan pembunuhan dan perusakan atas kemudahan umum. Pada tahun 1980-an , IM kembali memasuki ketegangan dengan pemerintah , yang berakhir dengan tewasnya Presiden Anwar Sadat.

Hosni Mubarak melanjutkan kebijakan para pendahulunya dengan menetapkan IM sebagai organisasi terlarang. Para penggagas IM dipenjara sembari melaksanakan pendekatan keamanan yang sangat ketat terhadap mereka. Meskipun demikian , IM rahasia sanggup menggalang kekuatan sebagai organisasi masyarakat sipil yang memiliki jaringan luas di tingkat akar rumput.

Harus diakui , sebagai organisasi sosial-masyarakat dengan ideologi islamismenya , IM memiliki sumbangan yang berpengaruh dari akar rumput. Hal tersebut terlihat ketika pemilu paling demokratis digelar pasca-jatuhnya Mubarak. IM mendapat bunyi yang meyakinkan , yaitu memenangi pemilu legislatif dan pemilu presiden. IM ialah satu-satunya organisasi sosial yang paling rapi dan disiplin dalam menggerakkan massa.

Namun , mencar ilmu dari sejarah dan fakta mutakhir , IM memiliki duduk perkara serius dalam membangun korelasi dan kesepahaman dengan negara. IM cenderung mengakibatkan dirinya sebagai ”negara” dalam negara. Sikap tersebut mengakibatkan IM kerap kali mengalami benturan serius dengan negara. Menurut Muhammad Habib , mantan penggagas IM , organisasi yang sudah berusia 86 tahun tersebut kerap menentukan ”jalan buntu” tatkala berhadapan dengan negara. IM tidak mau membangun rekonsiliasi dan kesepahaman dengan negara. Karena itu , banyak pihak memandang IM pada hakikatnya hendak membangun ”Negara IM” di Mesir.

Keputusan mutakhir pemerintah dengan menetapkan IM sebagai organisasi teroris (tandzim irhabi) merupakan keputusan yang disayangkan oleh banyak pihak. Keputusan tersebut sesungguhnya tidak perlu terjadi jikalau IM mau bahu-membahu terlibat dalam peta jalan masa depan segimana digariskan oleh seluruh kekuatan politik , militer , termasuk Al Azhar dan Koptik.

IM sanggup mencar ilmu dari AKP di Turki dan Ennahda di Tunisia yang menentukan untuk menjadi potongan dari negara , bahkan memimpin negara untuk memastikan demokrasi sanggup melindungi seluruh kelompok. Karena bernegara pada hakikatnya membangun konsensus yang menjamin hak individu dan hak semua kelompok terlindungi , dengan konstitusi yang sanggup dijadikan sebagai pilar demokrasi.

Masa depan Ikhwanul Muslimin

Terus jelas , masa depan IM masih sangat suram alasannya sampai ketika ini belum ada indikasi berpengaruh di dalam internal IM untuk melaksanakan reformasi. Mulai muncul gerakan ”IM tanpa kekerasan” yang diprakarsai kaum reformis dan kaum muda di dalam IM , tetapi bunyi mereka tidak direspons kasatmata oleh elite IM.

Sebagai sebuah organisasi , IM sanggup dibubarkan dan dihentikan Pemerintah Mesir , tetapi ideologi IM yang mapan tentu tidak gampang dilenyapkan. Mereka sanggup jadi lebih keras segimana sudah terbukti dalam bentangan sejarah IM. Jika ini terjadi , yang rugi ialah IM dan negara.

Maka dari itu , Pemerintah Mesir memiliki kiprah yang sangat berat dalam rangka melaksanakan obrolan intensif dengan penggagas dan kaum muda IM. Al Azhar yang sudah terbukti membangun perilaku moderat dan cinta negara-bangsa perlu dilibatkan untuk melaksanakan pencerahan dan pembaruan di dalam internal IM. Tujuan utamanya ialah mengajak kembali IM supaya menjadi potongan dari negara yang harus menjaga harmoni dan melanjutkan transisi demokrasi ke arah yang lebih mencerminkan keadilan dan kemanusiaan.

Zuhairi Misrawi , Analis Pemikiran dan Politik Timur Tengah  di The Middle East Institute

0 Response to "Kumpulan Opini Kompas: Simpulan Sejarah Ikhwanul Muslimin"

Total Pageviews