Latest News

Kumpulan Opini Kompas: Penyair Dan Keruntuhan Sejarah

Faisal Kamandobat                                                                        

Sejauh mana sosok insan berjulukan penyair bisa mengada dalam sejarah? Martin Heidegger (1947) menyebut puisi sebagai media terbaik insan untuk mengada , alasannya yaitu puisi memiliki karakteristik yang paling bisa menghadirkan makna dunia yang melimpahi dan meneguhkan kesadaran.

Ucapan filsuf metafisika itu mesti dikaitkan dengan klarifikasi sosio-antropologis untuk mengetahui posisi dan tugas penyair setrik lebih konkret. Pada suatu masa eksistensi masyarakat bergantung pada posisi dan tugas para penyair , sehingga puisi menjadi teks yang memberi status ontologis masyarakat tersebut. Namun juga terdapat fase sejarah di mana masyarakat menggantungkan status ontologisnya pada selain yang bukan puisi , dan sosok penyair menjadi figur pinggiran , yang meski dipuja tetapi tak cukup didengar.

Namun yang penting , di tengah pasang surut ”kuasa” para penyair itu , kita sanggup mengetahui faktor-faktor yang menguatkan , mengganggu , bahkan meruntuhkan posisi para penyair dalam sejarah. Selain itu , kita juga sanggup mengetahui hal-hal yang bertahan dan berubah dalam diri penyair dari masa ke masa , sehingga kendati peruntungannya tidak selalu baik , beberapa orang berbakat masih terus menulis puisi , dan impian filosofis Heidegger tetap menemukan relevansinya sebagai ”teori” kesadaran dengan puisi sebagai ”rumah utama” bagi eksistensi manusia.

Untuk mengetahui masa ”kejayaan” para penyair , bukti sejarah yang paling baik terdapat pada masa pramodern , yaitu saat kapitalisme dan ilmu pengetahuan belum sungguh-sungguh melembaga dan otonomi individu belum menguat seiring belum kokohnya kepemilikan individu. Dalam masyarakat demikian , tugas penyair sanggup dikatakan penting dalam menjaga keseimbangan sosial , yang oleh orang Yunani Kuno disebut kosmos.

Pentingnya tugas penyair tersebut terkait dengan kenyataan bahwa puisi (dalam bentuknya yang paling umum , yaitu sebagai produk bahasa menurut permainan irama dan repetisi) masih merupakan bentuk pengucapan yang paling mewakili aksara kosmis dan transenden dari mitos dan ideologi masyarakat pramodern.

Usaha peng-kosmis-an dilakukan melalui permainan harmoni dalam irama puisi , dan transendensi dicapai melalui pola repetisi puisi yang mengantarkan pengucap dan pendengarnya menempuh tingkatan-tingkatan intensitas sampai mendekati bentuk penghayatan yang paling mirip tatanan semesta yang dibayangkan , sesuai mitos atau ideologi yang diacu.

Karena itu , tidak heran kalau hampir semua kitab suci agama-agama ditulis dalam bentuk yang puitik , pula hampir semua teks yang dianggap suci dalam banyak sekali kelompok etnis. Dan tentu , kandungan dalam puisi-puisi tersebut mengacu pada peristiwa-peristiwa yang dianggap penting oleh kelompok yang menganutnya , mirip penciptaan , kelahiran , kutukan , selesai zaman , dan penciptaan kembali. Kitab suci agama-agama lazim diketahui menggambarkan peristiwa-peristwa penting itu , mirip juga sajak-sajak bini yang dibawakan oleh para manaholo , penyair tradisional Rote , berisi peristiwa-peristiwa penting yang dilakukan oleh para tetua budpekerti di masa yang telah silam.

Melalui puisinya , para penyair pramodern memosisikan dirinya sebagai sumbu yang ”mengendalikan” sejarah masyarakatnya menurut sumber mitis yang diacu , alasannya yaitu terhadap pola mitis itulah kehidupan masyarakat sehari-hari diorientasikan dan sekaligus menemukan status historisnya. Tanpa mengacu pada sumber yang disepakati , sebuah insiden tidak dianggap sebagai bab dari kosmos alias berada ”di luar dunia” , dan alasannya yaitu itu bersifat ekstra-historis.

Sejarah , dengan demikian , segimana disebut Mircea Eliade (1991) yaitu takdir menjalani insiden pengulangan terus-menerus sesuai sentra pola dengan hanya sedikit partisipasi individu dari generasi setelahnya. Hal itu terjadi sejauh individu tersebut bukan seorang penyair , raja , pendeta , penyihir , atau pemberontak yang memiliki daya ledak seorang Dionysius yang bisa mengacaukan kosmos. Agar tidak terlempar dari sejarah , kehidupan sehari-hari yang paling masuk akal sekalipun mesti dikaitkan dengan sentra pola , entah dengan puisi atau praktiknya , yaitu ritual.

Hidup dalam sejarah demikian itu , yang terserap setrik total ke dalam harmoni kosmis , tak ubahnya tinggal dalam pandangan Plato perihal dunia ideal , di mana dewa-dewa hidup bersama insan di alam yang sama , dan nirwana di langit menjadi model yang ”melembaga” dalam realitas sosial di bumi. Para penyair menjadi pewarta agung dalam sejarah yang demikian itu , mengisi makna setrik penuh ke hampir seluruh realitas , sehingga ia sering dianggap suci dan bahkan setengah yang kuasa , dan pada balasannya ikut karam dalam dunia yang mereka nubuatkan.

Kuasa yang terbatas

Pada masa selanjutnya , posisi penyair sebagai penjaga kosmos perlahan terkikis oleh perubahan sosial. Kosmos masyarakat pramodern tidak semata dibuat oleh rima dan repetisi puisi para penyair , tetapi juga didukung oleh organisasi sosial , pembagian kerja , basis ekonomi , hukum korelasi , tatanan religi , yang membentuk kolektiva sosial yang melampaui eksistensi individu.

Perubahan tersebut terjadi hampir menyeluruh. Setrik ekonomi , datangnya kapitalisme telah mencabut hak milik budpekerti menjadi milik individu. Dampaknya yaitu melemahnya institusi agama , korelasi dan budpekerti , diikuti nilai , ritual , dan upatrik yang berkaitan dengan semua hal itu. Situasi demikian telah mengubah setrik paradigmatik penghayatan masyarakat terhadap sejarah mereka. Sejarah bukan lagi dipandang sebagai repetisi terhadap sentra pola mitis yang ditegaskan melalui puisi dan ritual , melainkan interpretasi individu-individu terhadap sentra pola tersebut yang dilakukan demi menjustifikasi posisi dan kepentingan masing-masing individu itu.

Situasi demikian telah mengubah setrik paradigmatik penghayatan masyarakat terhadap sejarah mereka. Sejarah bukan lagi dipandang sebagai repetisi terhadap sentra pola mitis yang ditegaskan melalui puisi dan ritual , melainkan interpretasi individu-individu terhadap sentra pola tersebut yang dilakukan demi menjustifikasi posisi dan kepentingan masing-masing individu—sesuai sistem ekonomi yang baru.

Dalam konteks tersebut , konsep waktu yang semula tunggal , kolektif dan siklis , berkembang menjadi plural , individual dan progresif mengikuti kehendak individu. Akibatnya , waktu dipahami oleh tiap individu sebagai arus linear yang menjelajah ke depan dan menembus deretan teritorial , paralel dengan terjadinya diferensiasi sosial , persebaran penduduk , dan terciptanya struktur sosial gres di pusat-pusat kapitalisme yang sedang tumbuh.

Di tengah situasi tersebut , para penyair pramodern pun goyah di singgasana kosmosnya. Sebagian dari mereka tetap karam dalam kosmologi lamanya , sedangkan sebagian lain yang cukup sigap mencoba menumpang bahtera penyelamat dengan ikut mengkreasi sejarah modernitas. Dalam medan gres ini , posisi dan tugas mereka tidak sekuat dan sekeramat dulu lagi. Ia harus menyebarkan kekuasaan dengan para filsuf , ilmuwan , teknolog , politisi , arsitek , pedagang , dan buruh—peran-peran yang pada masa pramodern sering hanya ditempatkan sebagai ”figuran” belaka.

Pembagian kekuasaan tersebut pada balasannya ikut mengubah bentuk puisi. Pada masa pramodern , bentuk puisi yang diacu yaitu koherensi kata , baris dan rima , yang merefleksikan ikatan historisnya dengan harmoni kosmis. Dalam puisi modern , hukum rima demikian justru dilanggar sebagai modus penghadiran individu penyair ke dalam bahasa , sekaligus merefleksikan kuasa penyair yang kian terbatas. Dengan kata lain , kalau dalam masyarakat pramodern sosok penyair menjadi manifestasi dari kosmos dan kolektiva sosial , dalam masyarakat modern ia hanya sesosok individu yang berusaha sekuat tenaga menghadirkan dirinya ke masyarakat , bukan lagi ”penguasa” atasnya.

Mekanisme penegasan kuasa sosial para penyair juga ikut berubah. Dalam masyarakat pramodern , puisi dibacakan dalam kegiatan ritual untuk menegaskan status sucinya , di mana sang penyair menyebarkan kekuasaan dengan para dewa-dewi.

Adapun dalam masyarakat modern , penyair membacakan puisinya dalam pameran yang menegaskan status sekuler dan profannya untuk mereguk sepenuhnya kekuasaan yang terbatas atas namanya sendiri. Semakin berpengaruh dan inovatif puisi-puisinya , semakin ia diterima oleh masyarakat; semakin prestisius pameran yang diikuti , semakin tegas aura kuasanya sebagai ”pewarta murung” modernitas.

Perlu prosedur baru

Mekanisme penegasan kuasa semacam itu tentu memiliki konsekuensi. Setrik estetis , kuatnya posisi individu memungkinkan pesatnya penemuan , yang setrik sosiologis berarti memberi banyak pilihan orientasi terhadap masyarakat. Namun alasannya yaitu penemuan tersebut hanya didukung oleh prosedur kontestasi yang tidak berkaitan setrik berpengaruh dengan institusi-institusi lainnya , baik ekonomi , politik , agama , budpekerti maupun keluarga , kuasa penyair dalam memberi orientasi terhadap sejarah menjadi lemah. Penyair modern (setidaknya di Indonesia) dianugerahi kebesaran nama , tetapi efek sosial dan politiknya telah jauh berkurang.

Untuk meningkatkan ”kuasa” para penyair dalam sejarah modern , panggung pameran dan industri penerbitan saja tidak cukup. Kita membutuhkan prosedur yang sanggup menghubungkan puisi dengan agama , keluarga , korelasi , perusahaan , negara , dan pemerintahan yang luar biasa kompleks alasannya yaitu keragamannya di negeri ini. Di samping itu , ideologi yang dibawa para penyair juga bisa menyentuh wilayah ”meta-sejarah” yang menjembatani komunikasi bangsa yang bermacam-macam ini , tidak hanya melaksanakan kreasi estetis menurut bentuk estetis—kendati dalam kadar tertentu bentuk estetis juga memilih ideologinya.

Jika prosedur tersebut berhasil dilakukan , para penyair modern setidaknya bisa ikut menunda ”keruntuhan sejarah” bangsanya yang sedang mengalami atomisasi di banyak sekali bidang , atau bahkan menjadi dirijen sejarah menurut irama puisi-puisinya , untuk bergerak mengikuti pantrikn ideologi yang mereka nubuatkan.

Faisal Kamandobat , Penyair

0 Response to "Kumpulan Opini Kompas: Penyair Dan Keruntuhan Sejarah"

Total Pageviews