M Subhan SD
Namun , terkadang seorang pemimpin diukur dari kemampuan berbitrik atau menuangkan ide-idenya. Kemampuan itu terkadang dianggap sebagai ciri-ciri hakiki demokrasi. Di Inggris , semenjak era ke-19 , seorang pemimpin haruslah orator ulung. Perdana Menteri (PM) Inggris William Gladstone punya ”sihir” berpengaruh dikala berpidato. Ia memimpin kabinet hingga empat kali , yaitu 1868-1874 , 1880-1885 , 1886 (Februari-Juli) , dan 1892-1894.
Di Perancis , Georges Clemenceau menjadi PM dua periode , yakni pada 1906-1909 dan 1917-1920. Clemenceau yang berprofesi wartawan itu punya garis politik radikal. Filsuf dan sejarawan Thomas Carlyle (1795-1881) bilang , tidak seorang Inggris pun bakal sanggup menjadi seorang pemimpin hingga ia membuktikan dirinya memiliki kemampuan berbitrik.
Para politisi berkeyakinan kemahiran berpidato menjadi jimat untuk menapaki jenjang karier mereka. Sampai-sampai sekelompok mahasiswa sosialis di Ruskin College , Oxford , menggelar agresi mogok pada Maret 1909 sebagai bentuk protes terhadap kebijakan kampus. Dalam kurikulum , sosiologi dan ilmu budi dianggap lebih penting ketimbang berpidato. Padahal , semenjak kuliah mereka sudah mengincar panggung politik. Terbayang Soekarno atau HOS Tjokroaminoto , sedikit teladan ”singa podium” dari negeri ini. Pada masa revolusi , massa terbuai dengan kata-kata agitatif dan provokatif. Figur menjadi mesin perubahan politik.
Politik hari ini juga panggung ”figur”. Politik menjadi etalase besar membangun pencitraan. Namun , kata-kata berapi-api dan bombastis mungkin bukan lagi zamannya ketika revolusi berakhir dan demokrasi tersemai. Rakyat bakal terpikat dengan kata-kata politisi yang berbahasa baik , kata-kata yang berbunga-bunga , berintonasi sedemikian teratur , piawai mengontrol emosi , dan mungkin diselingi kelakar.
Ramai-ramai politisi mencitrakan diri sebagai figur baik , ideal , penyayang keluarga , humanis , populis , dan religius. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kalau berbitrik selalu terukur dan terkontrol. Prabowo Subianto , Aburizal Bakrie , Hatta Rajasa , dan Gita Wirjawan juga muncul di mana-mana. Pemimpin yang menjaga gambaran , banyak bergerilya di tataran wacana.
Sebaliknya , pemimpin yang bekerja di tengah-tengah rakyat tapi jauh dari pencitraan justru kurang diapresiasi. Demokrasi kita terlalu sesak pencitraan. Memang , kata Harold Lasswell (1902-1978) , kemampuan seorang pemimpin politik ialah meyakinkan (persuasion) dan memanipulasi (manipulation). Tak heran , banyak politisi lebih bahagia memermak diri , ber-make up tebal , bertopeng. Soal isi pidatonya , siapa yang mau hirau. Perang gagasan tidak lagi tersemai konstruktif alasannya ialah transaksional lebih ”bermakna” dan ”bergizi”. Maka , hasilnya politisi busuk dan korup yang kini berurusan dengan Komisi Pemberantasan Korupsi.
Padahal , suksesi tak usang lagi. Pemilu 2014 menjadi menunjukan berakhirnya euforia reformasi kalau setiap perubahan politik bersiklus dalam dua dekade. Tahun 2019 benar-benar menjadi babak gres bangsa ini. Maka , Pemilu 2014 semestinya menghasilkan pemimpin yang bisa membangun babak gres itu. Tak bisa dicegah ketika gaya pemimpin yang lebih asli justru menjadi magnet baru. Figur bergaya masbodoh menjadi antitesa bagi figur yang suka pencitraan.
Prabowo kerap dianggap antitesa dari kepemimpinan SBY. Prabowo dipersepsikan tegas dan keras , yang dipercaya pas untuk menjawab kondisi kini ketika banyak konflik komunal atau intoleransi. Dia juga dianggap bisa mengangkat bangsa di depan bangsa-bangsa lain , ibarat dalam kasus-kasus sengketa dengan negara tetangga atau problem TKI.
Namun , Joko Widodo (Jokowi) menumbangkan semua analisis politik. Popularitas dan elektabilitas Jokowi selalu meroket , mengalahkan tokoh-tokoh nasional yang usang malang melintang di politik. Banyak mitra terperanjat , di setiap survei , mengapa Jokowi selalu teratas? Mungkin saja ia ialah ”pesan sejarah” dan sintesa dari gaya pencitraan. Pencitraan dalam dirinya ialah prestasi kerja yang dilakukannya dalam senyap semenjak menjadi wali kota di Solo.
Dia tak peduli pencitraan , tetap blusukan , dan ora mikir untuk bursa calon presiden.
Banyak tokoh berhasrat ingin jadi presiden. Ada Wiranto , Endriartono Sutarto , Marzuki Alie , Irman Gusman , Pramono Edhie Wibowo , Dahlan Iskan , Anies Baswedan , Jusuf Kalla , Mahfud MD , Yusril Ihza Mahendra , Rhoma Irama , Suryadharma Ali , mungkin Megawati. Namun , jangan lupakan tokoh kawasan yang mungkin bisa dikader. Misalnya Tri Rismaharini , Wali Kota Surabaya yang menentukan bekerja daripada berwacana untuk pencitraan.
Dalam suksesi 2014 , tugas parpol sangat strategis. Tetap memaksakan kader atau menemukan tokoh terbaik di luar parpol? Figur pencitraan sudah tamat. Tafsir gres figur ialah mereka yang bekerja walau dalam sepi. Kita tak ingin politik terus-menerus gelap , yang kata Peter Merkl (kelahiran 1932) hanya bakal menjadi rebutan kuasa , takhta , dan harta demi kepentingan sendiri (a selfish grab for power , glory , and riches). Tak sulit bagi parpol mendengarkan bunyi rakyat mengenai figur pemimpin masa depan mereka. Parpol yang menutup pendengaran , mata , pikiran , dan hati , bahwasanya mereka ialah pengkhianat rakyat.
M Subhan SD , Wartawan KOMPAS
0 Response to "Kumpulan Opini Kompas: Figur Tanpa Pencitraan"