Ikrar Nusa Bhakti
Politikus wanita itu ialah Megawati Soekarnoputri , Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P). Hingga sekarang keputusan politiknya masih dinantikan bukan saja oleh para simpatisan partainya , partai-partai pesaingnya , para calon pemilih di seluruh Indonesia , melainkan juga oleh dunia internasional. Sesuai mandat yang diberikan Musyawarah Nasional III PDI-P di Bali , 2010 , Megawati memiliki hak prerogatif untuk menentukan siapa yang bakal diajukan menjadi calon presiden dan wakil presiden pada Pemilu 2014. Penentuan nama ini amat penting untuk mendongkrak perolehan bunyi partainya pada Pemilu Legislatif 9 April 2014 dan juga menang-kalahnya capres/cawapres yang diusung PDI-P pada Pemilu Presiden (Pilpres) 9 Juli 2014.
Pada Rapat Kerja Nasional (Rakernas) III PDI-P di Ancol , Jakarta , 6-8 September 2013 , di kalangan PDI-P masih terpecah antara mereka yang pro Mega dan pro Jokowi sebagai capres. Setrik simbolik , bekerjsama Mega telah mengisyaratkan dukungannya kepada Jokowi ketika Jokowi diminta membacakan potongan surat Bung Karno , ”Dedication of Life” , yang ditulis 10 September 1966. Isinya:
Saya ialah insan biasa. Saya dus tidak sempurna. Sebagai insan biasa saya tidak luput dari kekurangan dan kesalahan.
Hanya kebahagiaanku ialah dalam mengabdi kepada Tuhan , kepada Tanah Air , kepada Bangsa. Itulah Dedication of Life-ku.
Jiwa dedikasi inilah yang menjadi falsafah hidupku , dan menghikmati serta menjadi bekal hidup dalam seluruh gerak hidupku.
Tanpa jiwa dedikasi ini saya bukan apa-apa. Akan tetapi dengan jiwa dedikasi ini , saya mencicipi hidupku senang dan manfaat.
Sampai detik ini , pertarungan di internal PDI-P masih terus berlangsung. Di kalangan pro Mega , ada pandangan bahwa Mega masih memiliki kans untuk menang. Jika Mega menang , ada manfaat bagi PDI-P dan dinasti Soekarno , baik dari segi politik maupun materi. Bagi pendukung Jokowi , sampai sekarang elektabilitas Jokowi melampaui Megawati. Kans Jokowi memenangi Pilpres 2014 jauh lebih besar ketimbang Megawati. Jokowi memang tak bakal memperlihatkan laba bahan bagi PDI-P , tetapi ia sanggup mendongkrak bunyi PDI-P yang berarti memberi laba politik dan dingklik legislatif bagi PDI-P.
Kesalahan politik fatal
Megawati ialah tokoh sentral yang amat besar lengan berkuasa , disegani , bahkan mungkin ditakuti di PDI-P. Ia dikelilingi dua kelompok kecil orang , kalangan anggota DPP PDI-P dan kelompok kecil lain adonan anggota partai dan kalangan cendekiawan nonpartai. Di dua kelompok itu tentunya ada yang pro Mega dan pro Jokowi. Setiap ketika mereka terus-menerus memantau hasil survei dari banyak sekali forum survei , yang berdasarkan Sekjen PDI-P Tjahjo Kumolo jumlahnya sanggup mencapai 29 survei. Kedua kelompok ini setrik terpisah memiliki kohesivitas masing-masing , baik dari segi ideologi maupun latar belakang pendidikan. Keputusan penting yang dibentuk kelompok-kelompok kecil sanggup amat fatal kalau kohesivitasnya begitu tinggi , sang pemimpin begitu besar lengan berkuasa dan individu anggota kelompok kehilangan nalar sehatnya.
Irving Janis dalam bukunya , Victims of Groupthink: A Psychological Study of Foreign Decisions and Fiascoes (1972) , memadukan disiplin psikologi , politik , sejarah , dan komunikasi kelompok untuk menganalisis beberapa keputusan politik penting yang salah. Ia berupaya melacak kembali dan menganalisis enam insiden sejarah yang terkait politik internasional , yaitu keputusan Presiden John Fitzgerald Kennedy untuk menginvasi Kuba (Insiden Teluk Babi) , ketidaksiapan AS atas serangan Jepang ke Pearl Harbour , eskalasi Perang Vietnam , Perang Korea , krisis misil Kuba , dan Marshall Plan.
Proses analisis Groupthink sedikit rumit. Ada beberapa butir penting yang patut diketahui. Pertama , pengambilan keputusan dibentuk oleh para pembuat keputusan yang merupakan kelompok kohesif. Kedua , setrik struktural , kelompok ini amat terisolasi , tidak memiliki tradisi kepemimpinan yang imparsial , tiadanya norma-norma yang membutuhkan mekanisme metodologi; dari segi sosial dan ideologi , kelompok ini amat homogen. Ketiga , mereka juga terprovokasi dan tertekan oleh ancaman-ancaman luar sehingga tiada solusi tandingan selain yang berasal dari pemimpin kelompoknya. Setiap anggota tidak memiliki keberanian untuk mengutarakan pandangan pribadinya yang berbeda dengan pemimpin dan kelompoknya alasannya takut dikucilkan atau dikeluarkan dari kelompok.
Keempat , tekanan-tekanan faktor eksternal juga menjadikan kelompok mengalami delusi kehancuran , akidah pada moralitas kelompok yang inheren , trik berpikir sempit yang tertutup , memandang adanya ancaman-ancaman dari luar , sensor diri yang kuat , delusi bahwa keputusan harus didukung bersama , terjadi tekanan terhadap mereka yang beda pandangan , dan adanya orang yang begitu besar lengan berkuasa menelurkan gagasan-gagasan dirinya yang kadang tidak masuk akal.
Kelima , lebih jelek lagi bila keputusan tersebut dibentuk atas dasar alternatif survei yang tak lengkap , kurangnya analisis mengenai tujuan , kegagalan untuk menguji risiko atas pilihan politik yang diambil , kegagalan untuk mendiskusikan kembali pilihan-pilihan alternatif yang ditolak sebelumnya , miskinnya upaya untuk mendapat informasi yang lebih lengkap , bias dalam menganalisis informasi , kegagalan untuk membuat rencana-rencana kontinjensi , dan sebagainya. Akibatnya , hasil yang diputuskan sanggup salah. Keenam , kesalahan pengambilan keputusan sanggup dihindari bila pemimpin kelompok menangguhkan pengambilan keputusan , mendorong kritik atas aktivitas atau keputusan yang diusulkan , mengundang mahir dari luar , dan ada seseorang dari dalam kelompok yang berperan sebagai devil’s advocate guna menantang pandangan setrik umum dikuasai , dan keputusan politik dibentuk setrik sedikit demi sedikit dan tidak sekaligus.
Hasil survei
Hasil survei CSIS yang dilakukan 13-20 November 2013 memperlihatkan elektabilitas Jokowi 34 ,7 persen , jauh di atas Prabowo Subianto (10 ,7) , Aburizal Bakrie (9) , Jusuf Kalla (3 ,7) , Mahfud MD (1 ,8) , dan Hatta Rajasa (0 ,6). Dari sisi elektabilitas partai , PDI-P masih di peringkat atas dengan 17 ,6 persen , disusul Partai Golkar (14 ,8 persen) , Gerindra (8 ,6 persen) , Demokrat (7 persen) , PKB (4 ,6 persen) , PPP (3 ,5 persen) , PAN (3 ,3 persen) , PKS (3 ,3 persen) , Hanura (2 ,4 persen) , Nasdem (2 persen) , dan PBB serta PKPI yang masing-masing mendapat 0 ,5 persen.
Hasil survei yang sama juga memperlihatkan 42 ,7 persen basis massa Demokrat mendukung Jokowi , 20 ,6 persen massa Gerindra lebih menentukan Jokowi ketimbang Prabowo , dan hanya 63 ,6 persen massa PDI-P mendukung Jokowi. Survei-survei lain menyerupai Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) , Soegeng Sarjadi School of Gkelewat / overnment (SSSG) , dan Lingkaran Survei Indonesia (LSI) juga menempatkan Jokowi pada peringkat teratas survei setrik berturut-turut dengan angka 20 ,2 persen , 45 ,8 persen , dan 22 ,3-35 ,6 persen. Hasil survei Pusat Data Bersatu (PDB) yang dirilis 21 Februari 2014 menempatkan pasangan Jokowi-Jusuf Kalla pada peringkat teratas , yakni 22 ,3 persen , disusul Prabowo-Hatta (10 ,2 persen) , Megawati-Jokowi (8 ,1 persen) , Jokowi-Hatta (6 ,8 persen) , Dahlan Iskan-Chairul Tanjung (5 ,7 persen) , Jokowi-Puan (4 ,9 persen) , Aburizal-Mahfud MD (2 ,9 persen) , tak menjawab 24 ,8 persen.
Tekanan-tekanan dari luar semoga Megawati maju jadi capres dan Jokowi tidak maju sebagai capres tiba bertubi-tubi dari dalam dan luar PDI-P. Kini tergantung Megawati untuk memutuskannya. Jika teori Groupthink dari Irving Janis benar-benar terjadi pada kelompok-kelompok kohesif di PDI-P tanpa diimbangi adanya devil’s advocate atau kelompok mahir dari luar untuk menantang keputusan politik kelompok , akhirnya bakal sangat fatal bagi PDI-P. PDI-P bakal kehilangan modal sosial dan modal politik yang sudah dibangun semenjak 10 tahun lalu. Masa depan bangsa dan negara juga dipertaruhkan.
Ikrar Nusa Bhakti , Profesor Riset di Pusat Penelitian Politik LIPI
0 Response to "Kumpulan Opini Kompas: Kelompok Kohesif Dan Capres"