Hendra Gunawan
Seorang teman menulis pepatah: bila ingin membangun kota , dirikanlah sekolah; bila ingin membangun negeri , dirikanlah universitas. Saya menambahkan: bila ingin membangun negeri yang maju , dirikanlah universitas yang bermutu.
Saat ini , terdapat sekitar 3.500 perguruan tinggi (PT) di Indonesia , tapi tak lebih dari 100 yang sanggup dikategorikan bermutu. Bahkan , bila produktivitas riset jadi ukuran utama , angkanya lebih sedikit lagi. Berdasarkan data Scopus , yang merekam produktivitas PT dan forum lainnya dalam riset , hanya sekitar 10 PT kita yang layak diperhitungkan.
Terkait rendahnya produktivitas PT kita dalam riset , baru-baru ini Forum Rektor Indonesia (FRI) mengusulkan pembentukan suatu kementerian yang menangani pendidikan tinggi , riset , dan teknologi. Pro-kontra pun terjadi. Daoed Joesoef (Kompas , 18/2/2014) termasuk yang tidak setuju. Sementara Azyumardi Azra (Kompas , 26/2/2014) mendukung gagasan FRI. Namun , satu hal yang diamini oleh kedua belah pihak ialah bahwa kinerja riset PT kita memang rendah dan perlu ditingkatkan.
Mencoba untuk tidak terjebak dengan pro-kontra terhadap proposal FRI , melalui goresan pena ini saya ingin mengajak semua pihak untuk melihat masalahnya setrik jernih , dengan melupakan terlebih dahulu kementerian mana yang selayaknya mengelola PT di negara kita.
Pertama , rendahnya produktivitas riset PT kita ialah dilema serius , mengingat kita berada di periode ilmu pengetahuan. Sehubungan dengan itu , daya saing bangsa dipertaruhkan. Peran PT , khususnya universitas dan institut , dalam pengembangan ilmu pengetahuan memang sangat dinantikan.
Kedua , tentu kita juga sepakat dilema ini harus segera diatasi. Namun , sebelum mengatakan solusi , kita perlu mengetahui dengan baik akar masalahnya. Daoed Joesoef menyoroti tidak terbangunnya komunitas ilmiah di PT kita sebagai dilema utama. Sementara Azyumardi Azra risau dengan lebih banyak didominasi dosen yang terpaku pada salah satu misi PT saja , yaitu pengajaran.
Mencoba mendalami permasalahan ini , kita patut bertanya: apa memang setiap ”PT” yang ada di Indonesia punya kapasitas melaksanakan Tri Dharma PT? Segimana kita ketahui , yang disebut ”PT” di Indonesia terdiri dari universitas , institut , sekolah tinggi , politeknik , dan sekolah tinggi , termasuk sang pendatang gres , yaitu ”akademi komunitas”.
Apabila saya mengibaratkan ilmu pengetahuan sebagai buah kelapa , dan PT penghasil ilmu pengetahuan sebagai pohon kelapa , apakah betul semua bentuk ”perguruan tinggi” tadi pohon kelapa yang bakal berbuah kelapa? Menurut saya , sebagian di antaranya memang seolah-olah pohon kelapa , tapi bukan pohon kelapa. Apakah kemudian fair menuntut pohon palem yang seolah-olah pohon kelapa untuk berbuah kelapa? Juga , apakah memindahkan pohon palem bakal membuatnya berbuah kelapa? Tidak , kan?
Karena itu , marilah kita fokus pada ”pohon kelapa” saja , khususnya universitas dan institut , yang seharusnya memang melaksanakan Tri Dharma PT setrik utuh. Dalam hal ini , saya sepakat ada dilema dengan mutu dosen dan budaya akademik sekalipun di kedua jenis PT ini. Namun , mengapa ini terjadi?
Saya sepakat dengan Azyumardi Azra: ketika ini ada dilema dalam perekrutan dan promosi dosen. Namun , di balik ini , negeri ini memang kekurangan orang yang mumpuni untuk jadi dosen , segimana yang diperlukan Azyumardi Azra dan kita semua. Hal ini diperparah dengan dilema inbreeding dan ketertutupan PT dalam perekrutan dosen serta sistem promosi yang belum berbasis merit.
Berbitrik perihal riset , kita pun tidak sanggup melupakan berapa besarnya dana yang tersedia untuk itu. Di Perguruan Tinggi Negeri , yang anggarannya diatur oleh APBN , anggaran untuk riset sangat minim , rata-rata masih di bawah Rp 10 miliar per tahun per PT. Di Perguruan Tinggi Swasta , situasinya jauh lebih parah.
Dua pertanyaan kemudian menggelitik saya. Pertama , bila dibuat kementerian gres yang menangani setrik khusus pendidikan tinggi dan riset , apakah anggaran bakal bertambah? Rasanya tidak , APBN kita tidak bakal naik setrik signifikan. Kedua , bila kita tiba-tiba memiliki anggaran yang besar , apakah dana tersebut bakal kita kucurkan untuk riset atau untuk membangun manusianya terlebih dahulu?
Belajar dari Korea Selatan dan China , beberapa puluh tahun silam mereka mengirimkan puluhan , bahkan mungkin ratusan ribu , sarjana untuk mengambil kegiatan doktor di negara-negara maju , sebelum kesannya mereka kembali dan membangun negeri mereka. Kita pernah melaksanakan hal serupa , tetapi tidak cukup untuk mencapai massa kritis (critical mass).
Apabila kita ingin meningkatkan produktivitas riset PT , khususnya di universitas dan institut , barangkali kita perlu mengupayakan tercapainya massa kritis itu. Apabila kita memang ingin membangun sebuah negara yang maju , bangunlah PT bermutu , dan untuk itu bangunlah terlebih dahulu manusianya!
Hendra Gunawan , Guru Besar FMIPA ITB
0 Response to "Kumpulan Opini Kompas: Kinerja Riset Sekolah Tinggi Tinggi Kita"