Jakob Sumardjo
Pada waktu saya masuk Sekolah Rakyat tahun 1945 di kota Klaten , kelas 3 , guru lulusan sekolah kolonial , mulai mengajar saya ilmu bumi.
Kami disuruh menggambar peta kelas saya dengan fokus di mana dingklik daerah saya duduk. Kemudian disuruh menggambar peta sekolah saya.
Dan , terakhir disuruh menggambar peta di mana letak sekolah saya di antara sungai , jalan , gereja , masjid , rumah penduduk , dan sekolah lain.
Pengetahuan dimulai dari kenyataan , yakni trik melihat kenyataan berdasarkan pandangan saya masing-masing. Inilah pendidikan produktif.
Kami menghasilkan pengetahuan dari kenyataan untuk kenyataan. Pengetahuan bukan kemewahan kepemilikan yang patut kita sombongkan. Pengetahuan gres disebut pengetahuan kalau berafiliasi dengan kenyataan hidup kita sendiri.
Penelitian Zaini Alif di Baduy memperkuat arti pendidikan produktif ini. Di sana tidak ada forum sekolah , setiap orangtua yaitu guru bagi anak-anaknya. Tidak dikenal permainan bawah umur , yang terjadilah yaitu pekerjaan bawah umur (pagawean barudak). Permainan yaitu pekerjaan.
Anak-anak membuat ”mainan” sendiri , contohnya baling-baling dari daun kelapa yang
dapat mengeluarkan bunyi.
Ternyata ini berafiliasi dengan kewajiban orang-orang cukup umur yang harus terampil membikin kolencer (baling-baling bambu yang berbunyi di tengah sawah) mengikuti kepercayaan mereka.
Tentu saja kita tidak mau kembali ke primitif , tetapi filosofi pendidikan primitif ini masih sanggup kita pertimbangkan , yakni pendidikan produktif bukan pendidikan konsumtif.
Sejak taman kanak-kanak hingga pendidikan tinggi , kita diajari gimana ”tahu banyak” dari kerja orang lain , perihal realitas orang lain pula.
Pengetahuan yang memenuhi rak-rak buku kita yaitu kerja produktif dari penulis-penulisnya yang membaca realitas menyerupai masa sekolah rakyat saya.
Bangsa penikmat
Kita ini bangsa penikmat dunia. Mengulangi pidato peresmian Presiden John Kennedy , kita sanggup bertanya: bukan apa yang sanggup disumbangkan dunia kepadamu , tetapi apa yang sanggup kau sumbangkan bagi dunia.
Sumbangan bangsa ini untuk dunia ternyata berasal dari kerja produktif nenek moyang kita , berupa candi-candi , wayang , gamelan , sastra-mitologis , angklung.
Semua diakui UNESCO sebagai warisan dunia. Sekarang ini apa yang sanggup kita sumbangkan? Boro-boro menyumbang , kita hanya sanggup mendapatkan , mendapatkan , dan mendapatkan belaka , yang mengkristal menjadi perilaku bangsa.
Contoh positif antipoda ini yaitu Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo. Dia blusukan ke wilayah Ibu Kota menyerupai saya dahulublusukan menyisir sungai dan kampung daerah sekolah saya berdiri.
Joko Widodo membaca realitas untuk menuntaskan realitas. Cara kerja yang kurang pintar ala Thukul ini mendapatkan banyak kecaman dari mereka yang bersikukuh pada trik berpikir dan konsumtif.
Bukan proses kerjanya yang dinilai , tetapi produknya , menyerupai kebiasaan mereka menikmati produk-produk jadi apa pun dari luar negeri.
Cara berpikir kita yang ”tinggal pakai” di semua bidang kehidupan ini tidak sabaran menunggu kerja gubernur yang seharusnya dewa-batara bimsalabim , begitu ingin pribadi terjadi.
Cara berpikir konsumtif bangsa ini menanamkan potensi bahwa setiap orang berkemungkinan menjadi koruptor begitu kesempatan ada.
Etika produktif tidak pernah kita tanamkan , tidak menyerupai masyarakat ”primitif” Baduy mendidik bawah umur mereka. Pikiran mereka hanya bekerja dan menghasilkan untuk kehidupan.
Itulah sebabnya anak usia 11 tahun sudah bertindak menyerupai orang cukup umur di masyarakat tersebut.
Pendidikan konsumtif kita menghasilkan lulusan pendidikan tinggi menyerupai bawah umur , dan dikala menduduki jabatan penting tetap bermain-main dengan uang negara.
Indonesia ini ruang permainan , ruang bersenang-senang , just for fun , semua uang yang tersedia itu buat permainan bukan pekerjaan (pegawean).
Mentalitas konsumtif
Kita sudah jauh dari mentalitas masyarakat Baduy yang tidak mengenal permainan , tetapi hanyalah pekerjaan.
Mentalitas demikian itu kurang jelas masih hidup di kampung-kampung , yang dikala kepala desa mengawinkan anaknya dan menanggap wayang , maka penduduk sekitarnya menyampaikan bahwa pak lurah sedang punya kerja.
Mentalitas konsumtif ini merambah ke mana-mana , mulai dari atrik-atrik televisi yang tinggal meniru produk ajaib , komik Jepang , penyanyi Korea , Cluster Eropa-Amerika , hingga acuan disertai yang melarang dirujuknya karya ilmiah 10 tahun ke belakang.
Semuanya berorientasi pada fashion dunia mutakhir. Yang tidak demikian dinamain jadul atau jaman dahulu yang berupa zombie budaya yang menjijikkan.
Rupanya mentalitas demikian itu pula yang menghinggapi calon-calon wakil rakyat bahwa jabatan itu menjanjikan permainan konsumtif , bukan kerja produktif.
Apa dan berapa yang sanggup diberikan negara padaku? Bukan apa yang sanggup saya kerjakan untuk negara dan bangsa ini?
Untuk itu diharapkan pengetahuan realitas yang menjadi tanggung jawabnya dan memecahkannya dengan trik berpikir produktif dan otentik.
Nelson Mandela itu menjadi milik dunia lantaran hanya fokus pada Afrika Selatan. Dia tidak meniru pemimpin mana pun. Mentalitas konsumtif menyuburkan korupsi , plagiat , nyontek , yang tinggal menikmati tanpa kerja (keras).
Jakob Sumardjo , Budayawan
0 Response to "Kumpulan Opini Kompas: Konsumsi Dan Korupsi"