Latest News

Kumpulan Opini Kompas: Mengkhawatirkan Kurun Depan

Mohammad Abduhzen                                                       
                                                                                                           
Di antara kesimpulan yang sanggup ditarik dari Programme for International Student Assessment 2012 dan banyak sekali evaluasi lain sebelumnya adalah: murid-murid kita gotong royong tidaklah kurang pintar meski lemah pada penalaran. Mereka memperlihatkan kemampuan yang baik dalam kognisi tingkat rendah , ibarat mengingat (menghafal). Namun , mereka mengalami kesukaran ketika harus menganalisis dan menggunakan pengetahuannya untuk memecahkan masalah.

Kenyataan itu memperlihatkan ada yang kurang dalam desain dan pembelajaran di sekolah , kecuali bila kita mendefinisikan bahwa kecerdasan sebatas hebat mengingat. Namun , masalahnya , kehidupan insani meniscayakan penalaran supaya sanggup survive , berkembang , dan beradab. Lebih-lebih menghadapi masa depan dalam masa ke-21 yang problemnya konon banyak yang tak sanggup diprediksi , juga belum ada teladan pemecahannya sehingga memerlukan kemampuan berpikir tingkat tinggi.

Sementara itu , para pemuka negeri ini asyik meniup gelembung mimpi yang tinggi perihal masa depan. Dalam banyak sekali kesempatan , Menko  Perekonomian Hatta Rajasa—mengutip Rencana Induk Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI)—menyatakan , bangsa Indonesia bakal jadi satu di antara 10 negara besar ekonomi  dunia pada 2025 dan satu di antara enam negara besar dunia pada 2050.

 Serupa dengan Hatta , Menteri Pendidikan dan Kebudayaan beserta jajarannya mengimpikan perihal generasi emas 2045. Dengan premis-premis terkait bonus demografi—yang rada fatalistik—bahwa pada 2045 produk domestik bruto per kapita kita di atas  12.000 dollar AS; rata- rata usang sekolah 12 ,35-14 ,05 tahun; angka harapan hidup 77-80 tahun; dan semua penduduk berusia 15-59 tahun melek aksara.

Pada 100 tahun usia kemerdekaan itu , jumlah penduduk Indonesia berkisar 317 juta orang , di antaranya terdiri dari 89 ,48 juta orang berusia 35 hingga 54 tahun. Jumlah ini gres dihitung dari mereka yang  berusia 0-19 pada 2010.  Mereka merupakan pecahan dari apa yang disebut bonus demografi lantaran dalam rentang waktu menjelang 2045 berada dalam usia produktif dengan jumlah yang sangat besar.

Persoalan bangsa

Untuk menyongsong kejayaan itu , dalam periode jendela bonus demografi 2010-2035 , Kemdikbud melakukan aktivitas Pendidikan Menengah Universal (PMU) dan Kurikulum 2013 , menyelenggarakan pendidikan tinggi berkualitas dan berdaya saing , pendidikan dasar berkualitas dan merata , pendidikan karakter , serta memastikan semua penduduk usia sekolah bersekolah.

Program-program Kemdikbud menyangkut kualitas ibarat ujian nasional (UN) semenjak 2004 , pendidikan karakter mulai 2009 , dan Kurikulum 2013 terbukti tak bisa memperbaiki mutu dan tak meyakinkan sanggup membekali para murid untuk mencapai impian bangsa di masa depan. Program-program kualitatif yang diselenggarakan , selain dikuasai gagasan evolusionisme perihal daya saing , logika saudagar , juga tampak sangat politis dan terburu-buru sehingga  kebanyakan aktivitas tak setrik tepat menjawab kebutuhan dan permasalahan bangsa.

Tugas utama pemerintah mendatang yaitu membenahi kondisi ini setrik total , mendasar , dan gradual. Jika tidak , khawatir bangsa ini jadi pengidap megalomania. Setelah mimpi ”jembatan emas 1945” , sekarang mimpi ”generasi emas 2045”.

Sudah sangat dipahami bahwa kita memiliki kekayaan alam dan budaya melimpah serta penduduk yang besar. Namun , mengapa bangsa ini sengsara?

Dulu , kita sengsara disangka lantaran penjajah. Maka , Soekarno berpidato berapi-api ”...bahwa kemerdekaan , tak lain dan tak bukan , suatu jembatan emas… di seberangnya jembatan itulah kita sempurnakan kita punya masyarakat… , masyarakat Indonesia merdeka yang gagah , berpengaruh , sehat , kekal , dan abadi.”

Kini , sesudah 68 tahun , jembatan itu bagai mengapung , bangsa Indonesia bukan saja tak kunjung  gagah , berpengaruh , dan sehat , melainkan ibarat kembali tak jadi tuan di rumahnya sendiri. Sumber-sumber kekayaannya sebagian besar dikuasai ajaib , pemerintahannya tampak tak berdaulat setrik otonom , dan rakyat tetap menderita.  Ini terjadi lantaran adanya dekadensi kecerdikan pikiran. Kemunduran kecerdikan sehat , berdasarkan Bung Karno (Indonesia Menggugat , 1956: 129 , 132) , merupakan tragedi batin yang paling besar lantaran membuat karakter bangsa jadi lemah. Kelemahan jiwa itulah yang kita saksikan cukup umur ini sehingga kandungan Ibu Pertiwi tak memperlihatkan kemaslahatan bagi sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Sarana penalaran

 Meski berpikir bukanlah representasi keseluruhan dari kemanusiaan , kekuatan jiwa terletak pada kemampuan berpikir. ”Pikir itu pelita hati” , kata peribahasa Melayu kuno. Ketika pikiran tak menerangi jiwa , bukan saja kekayaan bakal tak maslahat , lebih daripada itu  daya-daya insan bakal jadi destruktif.

Pendidikan kita selama ini lebih banyak mengisi pikiran ketimbang  mengajarkan berpikir. Walhasil , murid-murid kita jadi lemah penalarannya.  Inilah inti duduk kasus sumber daya insan (SDM) kita. Ini pula kasus utama bangsa dalam menyongsong masa depan.

Mengajarkan berpikir bukanlah dominasi satu atau beberapa mata pelajaran , melainkan menuntut keterlibatan seluruh komponen sekolah sebagai sarana penalaran. Sebenarnya setiap mata pelajaran setrik implisit memfasilitasi model berpikir tertentu.  Ketika berguru sains , contohnya , murid lebih dituntun berpikir teladan induktif , sementara ketika mendalami matematika dan bahasa , mereka lebih dibawa ke alam berpikir deduktif (Mohammad Abduhzen , Kompas , 5/11/2007). Namun , mengandalkan dampak  logis saja dari setiap mata pelajaran tak bakal membuat murid (istilah Iwan Pranoto) ”kasmaran” berguru dan berpikir.

Pengembangan logika membutuhkan taktik  pembelajaran yang terintegrasi dalam desain pendidikan nasional. Ini sangat penting lantaran kemampuan menalar sangat bersahabat dengan kecerdasan yang jadi tujuan utama pendidikan kita.

Mengajarkan berpikir seharusnya dengan berpikir. Seperti berenang , murid tak hanya mendengarkan pikiran guru , tetapi juga diceburkan setrik aktif ke dalam aliran ide-ide. Socrates , filsuf Yunani kuno , memperlihatkan tugas guru ibarat bidan yang menolong proses persalinan.

Itulah sebabnya perhatian utama dalam perbaikan pendidikan kita seharusnya pada metode , bukan kurikulum. Metode menempel pada sikap guru sehingga pembaruan metode inheren dengan pengembangan kualitas guru. Sejarah pendidikan kita memperlihatkan bahwa pergantian kurikulum tak selalu diikuti dengan perubahan metode pembelajaran.

Pembaruan pendidikan Indonesia seyogianya menyentuh aspek paling mendasar dari kualitas SDM kita , yaitu kemampuan menalar. Mengabaikan hal ini , membuat masa depan kita mengkhawatirkan.

Mohammad Abduhzen , Direktur Eksekutif Institute for Education Reform (IER) Universitas Paramadina , Jakarta; Ketua Litbang PB PGRI

0 Response to "Kumpulan Opini Kompas: Mengkhawatirkan Kurun Depan"

Total Pageviews