Posman Sibuea
Dampak sosial ekonominya sudah sangat merugikan warga. Selain kerugian materiil yang besar , ribuan warga mengalami iritasi mata dan gangguan bisul jalan masuk pernapasan akut , penduduk terpaksa mengungsi , aneka satwa terbakar , dan hilangnya plasma nutfah. Berbagai kerugian ini seharusnya mengingatkan pemerintah sebuah kiprah sangat penting untuk tidak terlalu bersibuk ria mengurus partai menjelang Pemilu 2014.
Pembakaran hutan yang kerap berulang membuat hati miris. Kabut asap yang ditimbulkan kolam bola liar yang sulit dijinakkan. Kebakaran hutan sudah menjadi kalender rutin tahunan. Padahal , semenjak 1995 , pemerintahan Orba sudah mengampanyekan penyiapan lahan tanpa bakar (PLTB). Intinya: melarang membuka lahan perkebunan kelapa sawit dengan trik membakar. Sayangnya , pembukaan lahan dengan paradigma usang ini masih tetap terjadi sebab minimnya kesadaran lingkungan di kalangan pemilik perkebunan sawit.
Penghasil devisa
Perintis perjuangan perkebunan kelapa sawit di Indonesia , Adrien Hallet (1911) , warga negara Belgia , niscaya tidak menduga perkembangan tanaman penghasil minyak nabati ini sangat pesat. Perkebunan yang awalnya hanya sekitar 5.123 hektar di Tanah Deli dan Aceh sekarang berkembang setrik signifikan sebagai tanaman primadona penghasil devisa.
Gurihnya laba yang dijanjikan industri perkebunan satu ini mendorong percepatan perluasan lahan ke seluruh wilayah Tanah Air. Pada 1980 , luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia gres 29.560 hektar , terdapat hanya di Sumatera Utara dan Aceh. Tahun 1994 , luas areal perkebunan sawit meningkat jadi 1 ,8 juta hektar. Sembilan belas tahun kemudian , 2013 , perkembangannya amat spektakuler dengan areal sudah mencapai 9 ,2 juta hektar. Indonesia bisa memproduksi 26 juta ton minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO).
Ambisi pemerintah menjadikan Indonesia penghasil minyak sawit mentah terbesar di dunia mendorong perluasan perkebunan setrik masif. Pada 2006 , Indonesia berhasil menggeser posisi Malaysia dari urutan pertama. Komersialisasi kelapa sawit berkembang ke arah kapitalisasi perkebunan melalui perluasan yang masif sebab dipicu oleh tingginya undangan pasar global CPO. Namun , perluasan ini telah menyebabkan kerusakan hutan dan hilangnya hak hidup sebagian masyarakat sekitar hutan.
Perkebunan kelapa sawit Indonesia sekarang dituduh perusak lingkungan hidup. Data yang dilansir Bank Dunia , 70 persen perkebunan kelapa sawit dibangun dari lahan hutan alam dan 30 persen dari lahan gambut. Tingkat deforestasi dan perubahan lahan gambut jadi perkebunan kelapa sawit sudah mencapai angka yang mengkhawatirkan dan berkontribusi dalam proses pemanasan global. Salah satu penyebab suhu bumi yang makin panas ditengarai kian luasnya alih fungsi hutan menjadi perkebunan sawit di Indonesia.
Mengubah pola pikir
Kampanye negatif masyarakat Eropa atas produk minyak sawit Indonesia yang tidak dekat dengan lingkungan tak terbantah lagi. Pembukaan perkebunan sawit lewat pembakaran hutan dituduh sebagai penyumbang terbesar emisi gas karbon perusak lapisan ozon. Deforestasi itu dikaitkan dengan rusaknya habitat orangutan. Dua hal ini dipakai sebagai amunisi untuk membendung masuknya minyak sawit ke negara-negara Barat.
Sementara itu , pengendalian kebakaran hutan di Indonesia hingga ketika ini masih terfokus pada penanganan jawaban , belum pada pencegahan. Berbagai upaya pencegahan memang sudah dilakukan , tetapi belum benar-benar disadari dan didasari pemahaman yang sebenarnya. Penanggulangan kebakaran hutan pertama kali harus dilakukan terhadap insan , yaitu mengubah pola pikir yang memandang hutan untuk dikuasai dan dieksploitasi.
Setrik filosofis , insan bertanggung jawab atas semua peristiwa kabut asap ini. Tidak perlu mencari kambing hitam dengan menuduh animo kemarau panjang memantik kebakaran hutan. Manusia mesti dipersalahkan sebab ia sudah menerima anugerah yang paling andal , yakni daya logika budi. Manusia diberikan bakat untuk bisa menimbang baik dan buruk. Akal budinya tetapkan apakah baik memperabukan hutan atau tidak.
Manusia bersalah , tuduhan ini sah. Manusia menebang pohon semaunya untuk mengambil kayu demi laba pribadi. Keseimbangan alam pun terganggu. Penyakit gres bermunculan sebab udara dan air terkotori limbah industri. Tragedi Minamata , Bhopal , dan Chernobyl yaitu serpihan pola efek ketidakpedulian insan pada keseimbangan alam yang menetaskan penderitaan. Romantisisme yang disuguhkan hutan yang rimbun , hijau , dan riak air mengalir hanya menjadi kenangan.
Merevitalisasi perilaku dekat dengan alam patut digagas menjadi sebuah paradigma baru. Kepedulian terhadap lingkungan bukan sekadar wacana-wacana besar dalam pidato politik ketua partai. Ia menjadi sesuatu conditio sine qua non jikalau insan ingin hidup tenang dan damai. Persahabatan dengan alam dan lingkungan hendak menekankan sebuah relasi yang tidak saling bermusuhan. Manusia mendapatkan alam sebagai sobat dengan menjauhkan perilaku egosentrisme dan antroposentrisme.
Meski insan peserta mandat yang diberi kuasa untuk mengatur alam , ia bukan pemilik yang semena-mena memeras madu sumber daya alam untuk pemuas dahaga kerakusannya. Korporasi pemilik modal meraup untung besar dari hasil hutan dan perkebunan kelapa sawit. Namun , masyarakat sekitar selalu terancam peristiwa banjir dan kabut asap yang menyesakkan napas.
Sikap dikotomi yang melihat sumber daya alam semata sebuah obyek yang harus dieksploitasi harus ditinggalkan. Kesadaran untuk menjinakkan bola liar kabut asap patut dimulai dari gerakan masyarakat ekonomi hijau (green economy) , yakni pembangunan perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan harus menempatkan prinsip kelestarian lingkungan dalam setiap keputusan bisnisnya.
Peningkatan devisa dari sektor agroindustri yang masih dibungkus dalam bingkai neoliberalism kapitalistik yang ekstraktif , dengan tabiat yang rakus pada sumber daya alam , sudah saatnya ditinjau ulang.
Posman Sibuea , Guru Besar Tetap di Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Unika Santo Thomas , Sumatera Utara
0 Response to "Kumpulan Opini Kompas: Bola Liar Kabut Asap"