Daoed Joesoef
Mengejutkan lantaran wangsit ini tiba dari lembaga rektor , pimpinan universitas dan institut , bukan dari lembaga dosen yang yaitu pengajar di situ. Namun , hal ini melegakan lantaran karnanya tertangkap berair mengapa pendidikan tinggi di perguruan tinggi (PT) kacau selama ini. Ternyata PT dikelola berdasarkan kesalahpahaman perihal misi pendidikan keilmuan dari PT.
Ada anggota Komisi X dewan perwakilan rakyat yang sangat antusias , menganggap wangsit Forum Rektor Indonesia (FRI) itu begitu sempurna , suatu terobosan , lantaran membuat hasil riset PT jadi sesuai kebutuhan masyarakat.
PT memang menangani riset , tetapi tujuan esensialnya bukanlah menghasilkan sesuatu yang ”siap pakai” di bidang kehidupan apa pun , melainkan membuat insan berspirit ilmiah lantaran spirit inilah yang menggerakkan insan untuk terus berusaha menyempurnakan pengorganisasian pengetahuan kita begitu rupa hingga menguasai semakin banyak potensi tersembunyi dalam alam dan pergaulan (interaksi) human. Tanpa spirit begini orang tidak bakal menjadi periset , sementara riset dibutuhkan demi perbaikan serta kemajuan hidup dan kehidupan.
Namun , riset bukanlah sembarang kerja lantaran ia bersyarat keilmuan serta latihan terbimbing dan terarah. Dengan kata lain , pendidikan berperan memilih dalam menyiapkan periset , yang kelak sesudah lulus , siap menjadi staf periset profesional di lembaga-lembaga riset , ibarat BPPT , LIPI , Kementerian Ristek , atau lembaga-lembaga swasta di komunitas bisnis. Di lembaga-lembaga riset khusus itulah para periset alumni PT seharusnya sanggup menghasilkan aneka invensi dan inovasi , sesuai dengan kiprah lembaga riset yang mempekerjakan mereka.
Tugas perguruan tinggi
Tridharma PT di negeri kita cukup correct , sudah betul untuk tahap akademis Indonesia cukup umur ini yang masih perlu ditingkatkan. Tugas PT pertama dan terutama yaitu mendidik , gres riset , kemudian dedikasi masyarakat. Dalam mendidik termasuk pendidikan perihal seluk-beluk riset. Kalau dalam proses pendidikan riset ini PT hingga menghasilkan biji jagung sebesar jempol kaki atau obat manjur serba guna , tentu terpuji. Namun , kebanggaan ini tidak lantaran hasil yang menakjubkan tadi , tetapi berhubung sudah berprestasi ”melahirkan” periset andalan sementara masih dalam proses pendidikan. Prestasi ini sudah dianggap tergolong dedikasi masyarakat yang ideal.
Sejarah keilmuan , di luar sejarah kerja lembaga riset khusus , memang mencatat bahwa ilmu pengetahuan (IP) sarat invensi yang berguna. Teori-teori ilmiah kadang-kadang disusun oleh orang-orang yang imajinasinya diarahkan ke kegunaan yang sedang didambakan oleh zamannya. Newton , contohnya , masuk akal mengarahkan nalarnya ke astronomi lantaran hal ini yaitu subyek pembitrikan harian zamannya. Ketika itu , ”menemukan jalan di laut” merupakan duduk kasus masyarakat di mana ia dilahirkan. Faraday menghabiskan waktu hidupnya untuk mengaitkan elektrisitas dengan magnetisme lantaran ini yang diributkan oleh zamannya. Ketika itu masyarakat , ibarat kita kini , sedang mencari sumber-sumber energi baru.
Maka , para rektor sebaiknya memusatkan perhatian pada perjuangan membuatkan PT yang dipimpinnya menjadi sentra pendidikan keilmuan par excellence demi kemajuan IP yang sesuai dengan kemajuan peradaban human dan demi perkembangan spirit ilmiah yang dibutuhkan untuk itu. Justru mengenai pelaksanaan misinya yang sejati ini , PT kita masih jauh panggang dari api. Hal ini terjadi lantaran para sivitas akademika mengabaikan begitu saja natur dari IP.
IP bukanlah lanjutan otomatis dari pengetahuan di level pendidikan menengah sebelumnya. Ia yaitu hasil dari suatu trik khas pembelajaran dan trik ini tidak muncul begitu saja bagai sebuah nova soliter yang muncul di langit hanya untuk segera lenyap atas kehendaknya sendiri. Sebaliknya , ia bermetamorfosis dalam konteks komunikasi antara mereka yang menulis dan mereka yang membaca , antara mereka yang menggunakan idiom keterpelajaran untuk mencatat observasinya dan mereka yang menganggap catatan itu menarik.
Spesies pembelajaran yang kini disebut ”ilmu pengetahuan” merupakan referensi yang paling sempurna dari proposisi tadi lantaran kerja dan karya dari ilmuwan kontemporer mengisyaratkan keberadaan suatu keseluruhan kompleks dari wangsit , instrumen , lembaga , publikasi pemikiran dan riset , memedulikan karya orang lain , diskusi interaktif. Apabila semua hal tersebut tidak ada , yang kita namakan ”kegiatan ilmiah” hanya berupa suatu fatamorgana lantaran nyaris tak terlaksana. Yang ada hanya sejumlah penyandang gelar kesarjanaan tanpa spirit ilmiah , tidak menghayati tradisi akademis , tidak kreatif , karya jiplakan , tesis plagiat.
Ilmu pengetahuan sebagai tanda-tanda sosial
Perlu kesadaran PT untuk memperlakukan IP yang menjadi urusan sejatinya sebagai suatu ”gejala sosial” , paling sedikit di lingkungannya sendiri. Ia dituntut berbuat demikian bukan lantaran anggapan menanggapi capaian intelektual khas yaitu produk dari suatu masyarakat khas , melainkan lantaran trik pembelajaran khas yang membuat pengetahuan sebagai komunikasi , merupakan medium sosial di mana IP dipolakan , melalui mana ia dikembangkan dan dengan mana ia ditransmisikan di kalangan orang-orang yang sama-sama terlibat dalam penyelidikan yang serius. Maka , pengetahuan khas dan trik pembelajaran khas ini , yaitu IP , dinobatkan oleh zaman modern sebagai ”the most dominant contemporary form of communicable knowledge”.
Sejarah IP menampilkan lapisan-lapisan fakta dan kejadian. Inti dari lapisan ini yaitu pembentukan teori ilmiah berupa tabel-tabel kronologis dan catatan perihal invensi serta penemuan. Inti ini pribadi dilapisi oleh suatu dunia pemikiran yang melahirkan teori-teori tadi. Lalu , ada lapisan ketiga berupa lingkungan profesional di mana ilmuwan berkarya , yaitu kelompok riset daerah ia bergabung , asosiasi akademis di mana ia tergolong , PT di mana ia mendidik , turut membuat orang ”to be more”. Lapisan ini yaitu infrastruktur akademis. Akhirnya , ada lapisan terluar , yaitu masyarakat luas.
Kita anggap remeh lapisan-lapisan perkembangan IP dan ilmuwan tersebut dalam upaya membangun sistem pembelajaran IP selama ini. Kita anggap ada relasi pribadi antara perkembangan teori dengan masyarakat luas dan mengabaikan unsur-unsur antaranya. Dengan begitu kita tidak menyadari bahwa perkembangan IP tidak sanggup diwujudkan kecuali ada perjuangan partikular yang relevan untuk ”menghidupkan” unsur-unsur antara tadi , lebih-lebih infrastruktur akademis.
Keseluruhan unsur itu yaitu ”komunitas ilmiah” yang eksistensinya merupakan basis sosial determinatif , baik bagi penggeloraan spirit ilmiah di kalangan sivitas akademika kampus maupun bagi pemahaman yang benar dari masyarakat pengguna IP perihal makna/misi sejati kampus.
Belum komunitas ilmiah
Sejujurnya , kampus-kampus kita belum merupakan komunitas ilmiah yang worthy by the name. Maka , kiprah mendesak para rektor yaitu mewujudkannya lantaran diniscayakan.
Dari komunitas ini sudah usang dinantikan ide-ide pencerahan , solusi beberapa duduk kasus yang kian memprihatinkan kehidupan bermasyarakat , berbangsa , dan bernegara , antara lain (i) akhir sampingan jelek dari spesialisasi walaupun dibutuhkan , karnanya sanggup mengganggu kemajuan dan membahayakan peradaban; (ii) akhir pembangunan nasional ala ”the economics of development” membuatnya bukan pembangunan Indonesia , tetapi pembangunan di Indonesia dan terperangkap dalam ”a great economic system which is heartless”; (iii) ada beberapa IP yang ternyata sanggup dibahas sebagai ”scientific discipline” dan ”cultural discipline” dan lantaran itu pantas dikuliahkan setrik pararel sekaligus , demi ekspansi dan keseimbangan wawasan intelektual , ibarat matematika , fisika , biologi , sejarah , arkeologi , dan filosofi.
Sebenarnya masih ada aneka duduk kasus lain , tetapi tak sanggup diketengahkan lantaran ruangan yang terbatas dari goresan pena ini.
Ketika menemui Albert Einstein , Paul Valery bertanya: ”Master , what do you do to keep track of these ideas you keep generating?” Jawaban Einstein yaitu , ”But I've only two ideas in my whole life” , yang ternyata wangsit perihal dari mana kita berangkat (titik awal) dan hendak ke mana kita menuju (titik final). Bukankah ini senada dengan ungkapan kearifan nenek moyang kita sangkan paraning dumadi. Maka , alangkah baiknya jikalau FRI mendatang dimanfaatkan untuk merenungi sangkan paraning dumadi di bidang pendidikan keilmuan kita.
Jika kebijakan FRI merupakan the geometry of motion , antara titik awal dan titik final sanggup ditarik satu garis lurus yang terdiri atas titik-titik di mana setiap titik mewakili wangsit yang konstruktif perihal misi sejati PT. Dengan demikian , FRI tidak melontarkan wangsit rancu di bidang pendidikan yang sudah membingungkan.
Daoed Joesoef , Alumnus Universitas Pluridisciplinaires Pantheon-Sorbonne
0 Response to "Kumpulan Opini Kompas: Misi Akademi Tinggi Kita"