Latest News

Kumpulan Opini Kompas: “Tapering Off” Menyusahkan Kita

A Tony Prasetiantono

BANK sentral Amerika Serikat , The Fed , hasilnya memutuskan untuk melanjutkan pengurangan stimulus moneter (tapering off). Jika semula quantitative easing diturunkan dari 85 miliar dollar AS menjadi 75 miliar dollar AS per bulan , sekarang dosisnya diturunkan menjadi 65 miliar dollar AS per bulan. Hal ini diputuskan dalam rapat terakhir Ben S Bernanke sebagai Gubernur Bank Sentral AS , 28 Januari , sebelum dirinya diganti Janet Yellen per 1 Februari 2014.

Sebenarnya , penurunan stimulus moneter ini dapat diinterpretasikan positif. Stimulus dikurangi alasannya yakni ada tanda-tanda perekonomian AS membaik. Sejak Mei 2013 , tercipta rata-rata 125.000 sampai 140.000 pekerjaan gres (new employment) sehingga tingkat pengangguran AS terpangkas dari puncak terburuk 10 persen (2010) menjadi 6 ,7 persen pada Januari 2014. Karena data inilah Ben S Bernanke mewacanakan pengurangan stimulus semenjak Mei 2013.

Jika perekonomian AS membaik , negara dengan produk domestik bruto tertinggi di dunia , yakni 16 triliun dollar AS , ini semestinya bakal meningkatkan usul produk barang dan jasa di seluruh dunia. Bagi Indonesia , contohnya , jikalau pertumbuhan ekonomi AS di atas 2 persen pada 2014 , itu berpotensi menaikkan usul pada produk primer. Harga kelapa sawit , batubara , timah , karet , dan lain-lain dapat naik sehingga menguntungkan neraca perdagangan Indonesia.

Namun , agak di luar dugaan , ternyata tapering off dimaknai lain oleh pelaku ekonomi , khususnya di pasar uang dan surat berharga. Tanda-tanda membaiknya perekonomian AS justru direspons dengan pemikiran modal ke AS. Para pemilik aset menukar kekayaannya menjadi aset berdenominasi dollar AS. Akibatnya , dollar AS menguat pada hampir seluruh mata uang dunia. Inilah dampak tapering off yang menyusahkan.

Indonesia termasuk negara yang mata uangnya terdepresiasi paling parah. Mengapa? Pertama , dari sisi mendasar , Indonesia tengah menderita defisit perdagangan dan transaksi berjalan. Defisit perdagangan 2013 sebesar 5 miliar dollar AS. Defisit ini memburuk dari level sebelumnya minus 1 ,67 miliar dollar AS (2012). Adapun defisit transaksi berjalan sekitar 32 miliar dollar AS. Angka sangat buruk. Defisit keseimbangan eksternal ini ujung-ujungnya menggerus cadangan devisa dan kurs rupiah.

Kedua , dari sisi sentimen , tingkat kepercayaan kepada pemerintah terus menipis. Terkuaknya banyak sekali kasus korupsi menggerus tingkat kepercayaan para pelaku ekonomi. Akibatnya , para pemilik valuta absurd enggan melepas dollar sehingga rupiah melemah sampai Rp 12.200 per dollar AS.

Sebenarnya Indonesia tidak sendirian menghadapi situasi ibarat ini. Setidaknya ada dua negara emerging markets lain yang nasibnya ibarat , yakni India dan Turki. Begitu Federal Open Market Committee di AS memutuskan menambah penurunan tapering off , suku bunga contoh India dinaikkan 0 ,25 persen menjadi 8 persen. Ini supaya mata uang rupee tidak merosot lebih lanjut. India dalam satu-dua tahun terakhir mengalami krisis pemikiran modal ke luar negeri (capital outflow) yang menjadikan depresiasi rupee setrik dalam (The Economic Times , 31/1).

Inflasi di India ketika ini 10 ,1 persen. Makara , dengan suku bunga contoh 8 persen , bahu-membahu India mengalami suku bunga riil negatif hampir 2 persen. Situasi yang hampir sama terjadi di Indonesia: suku bunga BI Rate 7 ,5 persen versus inflasi 8 ,38 persen sehingga suku bunga riil negatif 0 ,88 persen.

Bagaimana Turki? Paul Krugman menyebutkan sebagai ”tertular oleh krisis daerah Eropa selatan yang dipelopori Yunani” (”Talking Troubled Turkey” , The New York Times , 31/1). Turki barusan menaikkan suku bunga kelewat / overnight-nya (pinjam-meminjam antarbank selama semalam) , dari 3 ,5 persen ke 8 persen (borrowing) dan 7 ,75 persen ke 12 persen (lending). Langkah ini untuk mencegah supaya mata uangnya , lira , tidak kembali merosot. Inflasi Turki ketika ini 7 ,5 persen , yang berarti masih mempertahankan suku bunga riil positif. Hasilnya positif , lira yang semula merosot dari 2 ,25 lira menjadi 2 ,39 lira dan menguat ke 2 ,18 lira per dollar AS.

Bagaimana Indonesia? Perlukah suku bunga contoh (BI Rate) dinaikkan dari 7 ,5 persen menjadi 7 ,75 persen atau lebih? Pandangan para ekonom terbelah dua. Urgensi menaikkan suku bunga memang ada. Seperti India dan Turki , kita juga dihinggapi kekhawatiran pemikiran modal keluar. Rupiah yang melemah dapat mengkhawatirkan. Saat ini BI tentunya ingin menjaga supaya rupiah tidak menyentuh level psikologis gres Rp 12.500 atau bahkan Rp 13.000 per dollar AS. Salah satu triknya menaikkan suku bunga. Namun , masih ada trik lain berupa lelang swap valas. Jaminan kurs tertentu bagi para pemilik devisa yang bersedia ”menitipkan” dananya ke BI.

Sementara itu , data ekspor-impor mulai menawarkan tanda-tanda menggembirakan. Per Desember 2013 , ada tanda-tanda surplus neraca perdagangan lagi hampir 800 juta dollar AS. Ini surplus lanjutan sehabis pada November 2013 terjadi surplus 776 juta dollar AS. Saya menduga surplus ini alasannya yakni kombinasi dua hal. Pertama , pelemahan rupiah ke level Rp 12.000 per dollar AS telah mendongkrak ekspor alasannya yakni produk kita menjadi lebih murah dalam dollar AS. Sebaliknya , impor turun alasannya yakni harganya lebih mahal. Kedua , kenaikan harga materi bakar minyak telah menekan konsumsi sehingga impor BBM berkurang.

Sebenarnya kita mulai ”menikmati” dampak pelemahan rupiah. Dalam perspektif ini , upaya menjaga kurs rupiah dengan trik menaikkan suku bunga belum kita perlukan. Apalagi inflasi 2014 diyakini bakal lebih rendah daripada tahun kemudian (8 ,38 persen). Karena tidak ada beban menaikkan harga BBM lagi pada 2014 , ekspektasi inflasi dapat diturunkan menjadi 5 ,5 persen sampai 6 ,5 persen. Memang benar inflasi Januari 2014 diperkirakan dapat mendekati 1 persen alasannya yakni serangkaian banjir dan tragedi alam. Namun , ke depan , potensi inflasi tidaklah besar.

Dengan inflasi yang menurun , BI Rate 7 ,5 persen tidak memiliki argumentasi berpengaruh untuk dinaikkan lagi. Justru ke depan , BI Rate sangat mungkin berangsur-angsur diturunkan sehingga suku bunga riil bakal bergerak ke positif atau setidaknya netral (suku bunga sama dengan inflasi). Meski berlangsung pelan , saya mulai melihat adanya asa perbaikan ekonomi pada 2014 , apalagi jikalau sentimen positif bertiup kencang dari penyelenggaraan pemilu yang sukses nanti. Ini yang harus kita jaga.

A Tony Prasetiantono , Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik (PSEKP) UGM

0 Response to "Kumpulan Opini Kompas: “Tapering Off” Menyusahkan Kita"

Total Pageviews