Darmansyah Djumala
PERANG saudara di Suriah yang telah berlangsung hampir tiga tahun kian mengenaskan. Lebih dari 130.000 nyawa melayang sia-sia dan mengempaskan lebih dari 2 juta perempuan dan bawah umur ke tenda-tenda pengungsi.
Di tengah kecamuk perang dan nestapa itu , untunglah ada sepotong keinginan dan perjuangan menghentikan perang. Difasilitasi Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon , untuk kali pertama Pemerintah Suriah dan oposisi berunding menuntaskan konflik.
Perundingan yang diselenggarakan di Markas PBB Geneva (dikenal dengan Konferensi Geneva 2) itu menindaklanjuti hasil janji Konferensi Geneva 1 pada Juni 2012 yang mengamanatkan pembentukan pemerintahan transisi di Suriah.
Namun , alih-alih membentuk pemerintahan transisi , menyetu- jui jalan masuk guna menyalurkan tunjangan kemanusiaan bagi rakyat sipil yang terjebak perang di kota Homs saja kedua pihak tak kunjung mencapai kata sepakat. Sampai hari terakhir putaran negosiasi pertama Geneva 2 masih belum terlihat tanda kedua pihak setuju menghentikan perang. Dapatkah Konferensi Geneva 2 menghadirkan tenang , atau setidaknya menghentikan perang di Suriah?
Pemerintahan transisi
Sejatinya Konferensi Geneva 2 dibutuhkan sanggup menghasilkan janji mengenai bentuk dan mandat pemerintahan transisi Suriah. Namun , justru dalam ihwal inilah pandangan kedua pihak berlawanan setrik diametral: oposisi bersikukuh semoga Bashar al-Assad tak jadi bab pemerintahan transisi , sedangkan rezim Assad tak ingin gosip pemerintahan transisi itu jadi aktivitas utama Konferensi Geneva 2.
Terkait pembahasan gosip pemerintahan transisi ini , ada manuver cerdas yang dimainkan rezim Assad dalam Konferensi Geneva 2 dalam upayanya berkelit dari ihwal itu. Meski semenjak awal Konferensi Geneva 2 dimandatkan menindaklanjuti salah satu janji Konferensi Geneva 1 , yaitu pembentukan pemerintahan transisi Suriah , ternyata hingga simpulan negosiasi rezim Assad tak sudi gosip itu dibitrikkan , apalagi dibahas tuntas. Rezim Assad membelokkan gosip utama Geneva 2 pada satu hal: terorisme. Menarik lalu dipertanya-an: mengapa gosip terorisme yang malah ditonjolkan Assad?
Assad sangat paham , gosip terorisme sungguh seksi di mata Barat. Dengan mengangkat gosip terorisme , Assad berharap bakal terbangun opini bahwa Suriah ialah korban terorisme. Jika pemerintahnya menghalau pasukan bersenjata , itu bukan berarti membunuh pejuang demokrasi , tetapi membasmi terorisme. Label sebagai negara yang membasmi terorisme bakal menempatkan Suriah pada posisi yang lebih kurang sama dengan negara-negara Barat.
Pada titik inilah sanggup ditengarai bahwa upaya mengangkat gosip terorisme pada Konferensi Geneva 2 tidak lebih dari sebuah pengalihan isu. Isu terorisme di Geneva 2 telah mengubah narasi konflik Suriah: dari gerakan prodemokrasi melawan rezim totaliter menjadi pemerintahan yang sah membasmi terorisme internasional.
Lebih jauh , pengalihan gosip ini sanggup mengubah gambaran rezim Suriah , yang dulu dianggap korban konspirasi Barat untuk mendemokratiskan tanah Arab , kini dipandang sebagai kawan Barat dalam membasmi terorisme. Label sebagai kawan Barat inilah yang sedang dimainkan rezim Assad , menuai simpati dunia dan menjustifikasi tindakan kerasnya terhadap pemberontak.
Dengan taktik pengalihan gosip menyerupai itu , tidak heran ketika Menteri Luar Negeri Suriah Walid Muallem ketika Konferensi Geneva 2 dengan penuh percaya diri dan gamblang mengungkapkan daftar teroris internasional yang ikut mengacaukan Suriah. Memang semenjak pecah konflik pada Maret 2011 , Suriah menjadi lahan subur bagi terorisme internasional. Menurut Muallem , tidak kurang teroris dari Inggris , Perancis , Pakistan , dan Arab Saudi nimbrung dalam konflik.
Lanskap konflik Suriah makin kompleks dengan kehadiran teroris yang memang berhubungan dengan kelompok teroris legendaris Al Qaeda menyerupai Al-Nusra Front , yang sasaran politiknya ialah menumbangkan rezim Assad.
Di samping itu , ada juga kelompok Ahrar ash-Sham yang beranggotakan 10.000–20.000 pejuang bersenjata dan kelompok pejuang ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) yang memiliki wilayah operasi di Irak dan Suriah. Meski ketiga kelompok ini sama-sama merupakan sayap Islamis dalam kelompok oposisi dan berbeda dalam afiliasi organisasi , mereka disatukan satu hal: menjatuhkan Assad dan menginginkan Suriah diperintah rezim yang prosyariat Islam. Yang menarik ialah kelompok Ahrar ash-Sham. Meski menginginkan syariat Islam , mereka dinilai tidak anti-Barat.
Menyulitkan Barat
Kompleksitas peta terorisme di Suriah yang demikian itu bakal menyulitkan posisi Barat dalam menangani konflik Suriah. Pertama , perilaku politik Ahrar ash-Sham yang tidak anti-Barat sangat mungkin bertemu dengan kepentingan AS dan Barat yang menginginkan Assad lengser dari singgasananya. Jika hal itu terjadi , pelabelan Ahrar ash-Sham oleh rezim Assad sebagai teroris bakal menempatkan AS dan Barat dalam posisi rikuh: gimana bisa Barat yang anti-teroris sanggup bekerja sama dengan organisasi teroris hanya untuk kepentingan sesaat , yaitu menjatuhkan Assad.
Kedua , dalam aneka macam laporan media , dikabarkan posisi pasukan pemerintah di medan berkelahi lebih baik dibandingkan dengan pejuang oposisi. Berbagai kota penting kini kembali dikuasai oleh pasukan pemerintah.
Jika tendensi ini terus berlanjut , AS dan Barat dihadapkan pada pilihan sulit. Seperti dikatakan mantan Dubes AS untuk Irak dan Suriah , ”as bad as he (Assad) is , he is not as bad as the jihadist who would take kelewat / over in his absence.” Ini menyiratkan bahwa lebih baik bagi AS mulai bitrik dengan Assad daripada memagarkan teroris terus gentayangan di Suriah alasannya terorislah yang bakal menguasai Suriah sepeninggal Assad. Bagi AS ketika ini , hanya Assad yang bisa membasmi teroris , musuh utama AS di tanah Arab.
Konferensi Geneva 2 , dilihat dari aspek penyelesaian konflik , jauh untuk disebut sukses. Tidak ada keputusan berarti yang sanggup meredakan ketegangan antara kedua pihak. Konferensi Geneva 2 hanya menegaskan bahwa Assad bisa mengalihkan gosip dan mengubah narasi perang Suriah: dari gerakan prodemokrasi melawan pemerintahan totaliter menjadi perang melawan terorisme internasional.
Manuver ini telah menempatkan Suriah dan Barat berada dalam posisi yang sama , menghadapi musuh bersama yang berjulukan terorisme internasional. Selagi belum ada tunjangan kasatmata berupa pasukan dan senjata di lapangan dari Barat setrik masif untuk pasukan oposisi , dengan adanya pergeseran narasi tadi , Assad bakal memperkuat posisi militernya di aneka macam kota.
Dengan komplikasi lanskap politik terorisme di Suriah , ditambah dengan belum adanya titik jelas untuk membahas pembentukan pemerintahan transisi , perang di Suriah masih bakal terus berlanjut dan semakin mematikan.
Darmansyah Djumala , Diplomat Indonesia; Bertugas di Polandia
0 Response to "Kumpulan Opini Kompas: Perang Di Suriah Pasca-Geneva 2"